Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

“Kita Kuat dengan Saling Merangkul”

anggri-Radar Tarakan • Jumat, 13 November 2020 - 18:51 WIB
BERI MOTIVASI: Sandiaga Salahuddin Uno menjadi salah satu pembicara di hadapan para jurnalis Kalimantan dan Sulawesi, Rabu (11/11). FOTO: SKK MIGAS UNTUK RADAR TARAKAN
BERI MOTIVASI: Sandiaga Salahuddin Uno menjadi salah satu pembicara di hadapan para jurnalis Kalimantan dan Sulawesi, Rabu (11/11). FOTO: SKK MIGAS UNTUK RADAR TARAKAN

Tiga narasumber, mulai dari Sandiaga Salahuddin Uno (sociopreneur), Andy F. Noya (jurnalis/host Kick Andy) dan Makroen Sanjaya (digital defender) memberi bekal kepada ratusan jurnalis akan sociopreneur, peran milenial era disrupsi 4.0 dalam Webinar Kalimantan Sulawesi (Kalsul) Series #11 SKK Migas – KKKS Kalsul, kemarin (11/11). Apa saja yang dibahas di dalamnya? Berikut liputannya.

 

RIKO ADITYA - AGUS DIAN ZAKARIA

 

SANDIAGA Salahuddin Uno, yang dikenal sebagai seorang pengusaha sekaligus entrepreneur menjadi narasumber pertama yang menyampaikan materinya. Materi itu ia namakan sociopreneur.

Sandiaga mengungkap jika pandemi membawa dampak luas. Namun, hal itu menyadarkan semua orang, bahwa tengah berada pada kondisi yang sama.

“Kita mulai mengurangi pengeluaran rumah tangga, kehilangan pekerjaan atau jam kerja berkurang, jadi kita harus mampu mengendalikan ambisi kita pada ekologi dan saling menguatkan ekosistem sosial. Kita harus saling merangkul di tengah pandemi,” ungkap Sandi.

Pandemi menjadi kesempatan untuk berbuat lebih baik, menyemai kebaikan untuk semua. Bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja.  Sandi mengajak untuk mengurai masalah di lingkungan. Pada pandemi ini, permasalahan pada di sisi kesehatan. Bagaimana sektor ini, bisa membuka lapangan kerja. Sebaiknya manfaatkan dari sektor kebutuhannya seperti APD, masker handsanitizer. Bergerak di sektor tersebut, akan memberikan kontribusi di sektor kesehatan.

Sementara perusahaan besar melakukan efisiensi, dengan beradaptasi dan akhirnya keluar dengan terobosan. “Jadi saya ingin semua ikut menginspirasi, karena pasar kita besar dan luas dan jangan takut karena masing-masing punya bakat, dengan konsep ekonomi, akan membuka peluang bekerja secara multitasking. Itu harus kita ambil, jangan sampai diambil warga mancanegara, usahakan ekonomi mandiri Indonesia berkelanjutan,” harap Sandi.

Di sisi lain, Sandi berharap jurnalis juga bisa beradaptasi. Apalagi memiliki peluang mendapatkan informasi terkini.

 

Menurutnya, dalam dunia usaha modal finansial bukanlah hal yang utama dalam menjalankan usaha. Sehingga ia menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang tidak berani menjalankan impian karena disebabkan alasan modal.

"Orang pengecut selalu memberi alasan sementara orang yang mau maju selalu memberikan jawaban. Kalau kita berani bagaimana kita bisa melakukannya," tukasnya.

Menurutnya, terdapat banyak jenis bisnis yang tidak memerlukan modal. Mengingat saat ini siapa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk menjalankan bisnisnya.

"Kita bisa jualan secara online. Sekarang lebih mudah, karena ada sistem open PO (pre order/pesan dulu). Jadi kita bisa menawarkan produk, tanpa harus menghadirkannya dulu. Jadi setelah ada pesanan, baru kita gunakan pembayarannya untuk membeli apa yang dibutuhkan," tuturnya.

Menurutnya, saat ini sektor ekonomi berada di tangan usaha kecil menengah (UKM) atau bisnis 4.0. Mengingat, sejauh ini banyak bisnis besar yang tidak mampu bertahan dari dampak Covid-19. Sehingga, di masa inilah momentum pelaku UKM dapat menunjukkan eksistensinya dalam menjaga perputaran ekonomi.

"Sekarang harapan besar terletak pada UKM. Dengan menghidupkan UKM maka dapat membuat pengaruh besar bagi perekonomian. Selain itu UKM dapat menyesuaikan kebutuhan pasar hari ini. Sehingga perubahan kebutuhan saat ini bisa dimanfaatkan UKM," jelasnya.

Sandi optimistis UKM bisa bertahan dengan beradaptasi. Ke depan UKM akan bertahan karena UMKM tangguh. Sandi yakin UKM melalui milenial, perempuan dan emak-emak akan bangkit dan berdiri pada 2021 mendatang. “Pesan saya, jangan malu membuka usaha dan jaringan, itu kerjaan yang halal, semangat dan yakinlah badai pasti belalu, mari buka lapangan kerja seluas-luasnya,” harap Sandi.

Andy F. Noya, jurnalis senior yang juga host dalam program Kick Andy menjadi narasumber kedua yang memberi motivasi bertahan di masa pandemi. Menurut Andy, ada hikmah di balik pandemi, semua akhirnya melek teknologi digital.

“Ya, dampak pandemi, UMKM banyak yang berjualan di platform online,” kata Andy. 

Andy juga mengakui, tidak ada satu pun usaha yang tidak terdampak pandemi Covid-19. Ada yang terdampak menurun usahanya, namun ada juga yang terdampak dengan berkembang. Semisal industri teknologi digital, mendapatkan keuntungan di masa pandemi karena semua orang hampir sudah menggunakan teknologi digital.

Dengan begitu, semua kalangan diharapkan mampu beradaptasi dengan keadaan yang ada. Ya, beradaptasi pada situasi yang baru wajib dilakukan. “Pokoknya kita harus terus di atas ombak, kita harus mengikuti teknologi yang berkembang dan harus belajar terus,” pesan Andy.

Andy juga menyarankan agar adaptif dengan kondisi. “Usia bukan menjadi penghalang. Maka kita harus terus berinovasi, membuka pikiran akan perkembangan,” ujarnya.

Sementara itu, Makroen Sanjaya, seorang digital defender (praktisi digital) menjadi narasumber terakhir pada webinar itu. Tak berbeda dengan narasumber sebelumnya, Makroen juga menyampaikan hal yang sama. Hanya, pada kesempatan itu, dirinya lebih mengingatkan kepada jurnalis tentang bagaimana caranya untuk bisa profesional dan beradaptasi.

Jurnalis tetap diharapkan meningkatkan kompetensi dengan tetap memegang teguh serta mengamalkan kode etik jurnalistik (KEJ). Selanjutnya berintegritas, jujur dan selalu beriktikad baik, semangat belajar dan membangun jejaring sosial.

Kemudian pahami peta dan pergerakan media, berpikir dan bertindak konvergensi, kuasai teknologi dan tidak gaptek. “Jadi internet dan media digital adalah anugerah dari Tuhan, anggap sebagai berkah, dengan memanfaatkan sisi positifnya semata, jadikan media digital untuk kebaikan,” harap Makroen.

 

 

Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul, Syaifudin mengatakan, melalui webinar, tentunya ingin memberikan kontribusi dengan berbagi pengalaman yang ada. Ia mengharapkan partisipan bisa mengambil sisi positif dan tentunya bisa bertahan di masa pandemi Covid-19.

Dampak pandemi, kata dia, juga terasa pada sektor minyak dan gas (migas). “Sektor migas yang terkena dampak cukup besar. Dalam level sedang. Dampak itu juga berlangsung pada industri. Sementara kondisi global, harga minyak rendah, ditambah konsumsi menurun, serta flukltuasi kurs valas,” ujar Syaifudin.

Pada kegiatan hulu migas, dampak yang ditimbulkan adanya pandemi di antaranya, transportasi material lebih, khususnya dari luar negeri, inspeksi kinerja peralatan/fasilitas lebih lama karena work from home (WFH).

Selain itu, mobilisasi pekerja ke lokasi lebih sulit karena perizina dan karantina dan potensi overstay yang berisiko pada keselamatan kerja. “Dampak lain, perizinan menjadi lebih lama, kegiatan manufaktur perlatan migas tertunda dan lebih lama, keterbatasan personel, khususnya offshore, produktivitas menurun, karena lebih banyak WFH itu,” tambahnya.

Lifting minyak dan kondensat yang ada saat ini masih di bawah pencapaian dari 2019 lalu. Pada periode Januari-Oktober 2019 sebesar 82.711 BOPD, namun di periode yang sama tahun ini baru menginjak 78.947 BOPD.

“Sementara lifting atau salur gas Kalsul, realisasi atas target APBNP 2020, baru 1.597 MMSCFD. Kontribusi secara nasional, sebesar 31 persen,” urainya.

“Kita berharap, teman-teman jurnalis juga membawa peran agar kita bisa melewati pandemi dengan saling menguatkan,” harapnya. (***/lim)

Editor : anggri-Radar Tarakan