GLAUKOMA yang disebut sebagai “si pencuri pengelihatan”, merupakan sebuah penyakit pada saraf mata yang dapat disertai dengan peningkatan relatif tekanan dalam bola mata, sehingga menyebabkan kelainan pengelihatan yang bersifat permanen. Perjalanan penyakit glaukoma seringkali tidak disadari oleh penderitanya, tetapi kerusakan yang diakibatkan bersifat progresif. Tak heran bila ia menyandang julukan sebagai “si pencuri pengelihatan”.
Secara umum, glaukoma dapat dibedakan menjadi glaukoma primer ataupun sekunder. Disebut primer apabila tidak ada kelainan atau sebab lain yang mendasari terjadinya glaukoma. Sedangkan glaukoma disebut sekunder apabila terdapat penyebab lain yang menginduksi terjadinya glaukoma.
Salah satu hal yang dapat menyebabkan glaukoma sekunder adalah penggunaan obat-obatan yang mengandung bahan steroid. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dari seluruh pasien dengan glaukoma sekunder, sekitar 8 persen diantaranya diakibatkan oleh obat-obatan yang mengandung steroid. Steroid sendiri dapat meningkatkan tekanan dalam bola mata dengan cara menghambat fasilitas pengeluaran cairan aqueous pada bilik depan mata, karena steroid dapat mengubah susunan saluran pengaliran cairan aqueous hingga menyebabkan hambatan pengaliran keluar cairan tersebut menuju pembuluh darah. Akibatnya, tekanan dalam bola mata meningkat, sehingga dapat merusak saraf mata di belakangnya dan mengakibatkan glaukoma.
Obat-obatan yang mengandung steroid sendiri cukup banyak digunakan dalam menangani berbagai macam penyakit, baik penyakit mata maupun non-mata. Di bidang penyakit mata sendiri, steroid dapat digunakan untuk meredakan peradangan pada mata merah dan juga sebagai salah satu pengobatan pada penyakit retina.
Pada umumnya, penderita glaukoma akibat steroid ini memiliki riwayat pemakaian obat steroid dengan dosis yang cukup besar dan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid memiliki risiko untuk terjadinya glaukoma pada mata. Dokter mata dapat memberikan obat-obatan yang mengandung steroid, namun dalam jangka waktu tertentu dan dengan pertimbangan yang matang, sehingga risiko terjadinya glaukoma dapat diminimalkan. Disarankan pada pasien-pasien yang menggunakan obat tetes mata steroid dalam jangka waktu panjang agar rutin kontrol ke dokter mata untuk pemantauan tekanan dalam bola mata serta melihat keadaan saraf matanya. Namun, tak jarang masyarakat awam menggunakan obat tetes mata dengan kandungan steroid tanpa pengawasan dokter. Obat-obat ini dinilai “cespleng” oleh masyarakat awam dalam menyembuhkan mata merah, sehingga mereka cenderung untuk langsung membeli obat tetes tersebut tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mata. (*han/bersambung)
Editor : adminbp-Admin Balpos