PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Dinas Kesehatan (Diskes) Berau menetapkan kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis atau penyakit bakteri menyebar melalui air seni hewan yang terinfeksi.
Ini menyusul kematian seorang pekerja perkebunan sawit yang terjangkit penyakit akibat air seni tikus.
Kasus ini menjadi sorotan serius mengingat potensi penyebaran yang tinggi, terutama di lingkungan dengan sanitasi rendah dan populasi tikus yang tinggi.
Kepala Diskes Berau, Lamlay Sarie, mengungkapkan, korban merupakan pekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit di Berau.
Korban diketahui tinggal di sebuah mes yang kemudian menjadi titik awal penelusuran dan pemeriksaan kepada penghuni lainnya.
“Kasus ini terjadi tahun ini dan sudah kami tetapkan sebagai KLB karena adanya satu kematian akibat leptospirosis,” ujarnya, Kamis (17/4/2025).
Kata Lamlay penyebarannya disebabkan oleh tikus.
Misalnya dari makanan yang tidak tertutup, tempat minum yang terbuka, pakaian yang digigit tikus sangat berisiko, hingga paparan terhadap kotoran atau urine tikus yang terkontaminasi.
Dijelaskannya, leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, yang umumnya berasal dari urine tikus dan hewan lain yang terinfeksi.
Penyakit ini dapat menyerang manusia melalui kontak langsung dengan air atau tanah yang terkontaminasi.
Dalam kasus parah, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.
Baca Juga: Fender Jembatan Mahakam I Tak Kunjung Diperbaiki, Lalu Lintas Sungai Diperketat Laju Kapal Dibatasi
Menurutnya, seluruh penghuni mes tempat korban tinggal telah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis untuk mencegah penularan lebih lanjut.
“Penularannya sangat bergantung pada kebersihan lingkungan tempat tinggal. Dalam kasus ini, lokasi kejadian berada di mes karyawan perkebunan sawit. Rekan-rekan korban yang tinggal satu area sudah langsung ditangani,” jelasnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Diskes Berau, Garna, menambahkan risiko leptospirosis cenderung meningkat pada musim hujan dan saat terjadi banjir.
Sebab, risiko leptospirosis cenderung meningkat dalam kondisi lingkungan yang lembap dan tidak higienis.
Bahkan aktivitas rekreasi air seperti berenang di sungai atau danau yang terkontaminasi juga dapat menjadi media penyebaran penyakit ini.
Pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan khususnya pada musim hujan.
Masyarakat pun diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
“Penting untuk memperhatikan lingkungan, terutama di musim hujan seperti sekarang. Kami terus mengingatkan masyarakat untuk tidak abai terhadap sanitasi lingkungan sekitar,” tegasnya.
Diskes Berau juga telah menggencarkan program sosialisasi pencegahan penyakit leptospirosis melalui gerakan masyarakat hidup sehat.
Dalam pelaksanaannya, Diskes melibatkan kader kesehatan serta memaksimalkan peran puskesmas di setiap kecamatan.
“Sosialisasi program ini terus kami galakkan, tapi tentu perlu dukungan masyarakat juga. Harus seimbang. Kami yakin masyarakat Berau sudah cukup sadar dan berupaya menjaga kebersihan dengan baik,” katanya.
Dirinya mengimbau masyarakat yang mengalami gejala penyakit tersebut agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Deteksi dini dinilai sangat penting untuk mencegah fatalitas akibat penyakit menular seperti leptospirosis. (*/aja/far)
Editor : Faroq Zamzami