PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Formasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2024 untuk tenaga dokter spesialis di Kabupaten Berau banyak yang tidak terisi.
Ini menjadi tantangan serius bagi Dinas Kesehatan (Diskes) Berau dalam menyediakan layanan kesehatan yang optimal, terutama di dua rumah sakit yang dikelola pemerintah daerah.
“Memang banyak formasi dokter spesialis yang tidak terisi. Ini jadi masalah klasik setiap tahun,” kata Kepala Diskes Berau, Lamlay Sarie, Senin (21/4/2025).
Disebutnya, beberapa formasi dokter spesialis yang dibuka namun tidak terisi di antaranya adalah dokter spesialis anak, anestesiologi dan terapi intensif, jantung dan pembuluh darah, mata, patologi klinik, penyakit dalam, pulmonologi dan kedokteran respirasi, orthopedi dan traumatologi, obstetri dan ginekologi, radiologi, neurologi, serta telinga hidung tenggorokan (THT).
Untuk menyiasati kekosongan tersebut, Diskes Berau menerapkan strategi rolling atau perputaran petugas secara berkala ke Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM).
“Salah satu cara yang kami tempuh adalah melakukan rolling petugas setiap dua minggu sekali. Kami pinjam tenaga dari puskesmas, terutama yang di wilayah kota dan memiliki jumlah SDM lebih banyak,” jelasnya.
Meskipun tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh, paling tidak ini langkah strategis untuk meminimalkan dampak kekurangan tenaga dokter spesialis.
Khusus untuk RSUD Pratama Talisayan yang melayani wilayah pesisir Berau, Lamlay menilai kebutuhan dokter spesialis di sana saat ini relatif cukup. Namun, pihaknya tetap bersiaga untuk mengisi kekosongan jika sewaktu-waktu terjadi.
“Kalau ada kekurangan, kami sudah punya skema penugasan khusus berdasarkan SK Bupati Berau. Kalau itu belum cukup, kami akan berkonsultasi ke BKN dan terus koordinasi dengan BKPSDM Berau,” ucapnya.
Diskes Berau juga tengah menyiapkan peningkatan status RSUD Pratama Talisayan menjadi rumah sakit tipe C. Selain itu, rumah sakit tersebut diproyeksikan menjadi badan layanan umum daerah (BLUD) agar pengelolaan keuangannya lebih fleksibel dan efisien.
“SK BLUD-nya sudah ada. Saat ini tinggal memantapkan sisi manajemen dan sistem layanan agar rumah sakit bisa lebih mandiri,” tambahnya.
Lamlay menambahkan, saat ini pihaknya memang belum memiliki program beasiswa khusus untuk pendidikan dokter spesialis. Namun, menurutnya, peluang kerja sama terbuka melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang digagas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Program ini ditujukan untuk daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan dokter spesialis, jadi Berau sangat berpeluang mendapat beasiswa itu,” katanya.
Meski begitu, ia mengungkapkan selama ini Pemkab Berau juga telah berkontribusi dalam pembiayaan pendidikan dokter spesialis melalui APBD.
“Beberapa dokter spesialis kita ada yang difasilitasi APBD dan kini sudah kembali bertugas. Saat ini sebagian besar pembiayaan memang didominasi dari pusat,” ucapnya.
Baca Juga: Internet Gratis Menjangkau Pelosok, Warga Desa Mulawarman Bersyukur dan Sambut Positif
Ia pun menekankan pembenahan sistem layanan kesehatan tidak cukup hanya dari sisi SDM dan alat kesehatan (alkes). Perlu juga penguatan sistem manajemen dan regulasi internal agar pelayanan berjalan lebih optimal.
“Kalau personelnya ada, alatnya ada, tapi sistem tidak mendukung, ya tetap tidak maksimal. Jadi kami juga fokus membenahi mekanisme internal baik di rumah sakit maupun puskesmas,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala BKPSDM Berau, Eka Sri Takariyati mengatakan, pemerintah daerah melakukan penataan kebutuhan pegawai dengan rekrutmen formasi melalui jalur CPNS dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Meski sempat terjadi penundaan pembukaan CPNS oleh pemerintah pusat, namun akhirnya kembali dibuka pada tahun 2024 lalu. Pada momen tersebut, Pemkab Berau membuka formasi CPNS terbanyak sepanjang sejarah, yakni mencapai 450 formasi.
“Biasanya kami hanya buka sekitar 100 formasi. Tapi pada 2024 itu luar biasa, kami ajukan dan disetujui 450 formasi," ujarnya.
"Namun yang terisi hanya sekitar 380 karena ada beberapa formasi yang memang tidak ada pelamarnya,” sambungnya.
Formasi yang paling sulit terisi, kata dia, adalah dokter spesialis, terutama yang penempatannya di wilayah terpencil. Banyak dokter enggan mendaftar karena mempertimbangkan lokasi kerja yang jauh dari pusat kota. Padahal, formasi tersebut dibuka hampir setiap tahun.
Baca Juga: Jika NTB dan NTT Tak Siap, Kaltim Sanggup Jadi Tuan Rumah PON XXII 2028
“Yang paling dibutuhkan sekarang seperti dokter THT dan dokter mata. Pihak RSUD bahkan infonya sedang menyekolahkan dokter untuk dua spesialisasi itu,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk 2025, belum ada informasi resmi dari pemerintah pusat terkait pembukaan seleksi CPNS maupun PPPK. Pemkab Berau masih menunggu regulasi dan jadwal resmi yang dikeluarkan pemerintah pusat. (*/aja/far)
Editor : Faroq Zamzami