PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Kepala Badan Layanan Umum (BLU), Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Kabupaten Berau, Ferdinan Nurdin, mengungkapkan hingga saat ini penerbangan menuju Pulau Maratua masih dilayani pesawat perintis.
Rute tersebut hanya dilayani sekali seminggu oleh Maskapai Smart Aviation Cakrawala yang mendapat subsidi dari pemerintah.
Ia menegaskan, belum ada wacana penambahan maskapai reguler untuk rute Kalimarau–Maratua dalam waktu dekat.
“Untuk saat ini belum ada, masih perintis,” ujarnya singkat.
Meski begitu, pihak Bandara Kalimarau terus berupaya meningkatkan konektivitas penerbangan, sejalan dengan arahan bupati Berau yang mendorong penguatan sektor pariwisata daerah.
“Kami akan terus melakukan inovasi lainnya, seperti arahan bupati terkait konektivitas dan menunjang pariwisata,” kata Ferdinan.
Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menawarkan peluang kepada maskapai lain untuk membuka kembali rute yang saat ini vakum.
Seperti rute Berau–Jogjakarta yang sebelumnya dilayani oleh Batik Air namun telah berhenti beroperasi selama dua bulan terakhir.
Dia menyebutkan beberapa rute domestik potensial yang bisa mendukung program pariwisata daerah, yakni Berau–Jogjakarta, Berau–Denpasar, dan Berau–Manado pulang-pergi (PP).
“Jika rute-rute itu bisa diterbangi oleh maskapai lainnya, itu bisa mengkoneksikan atau mendukung pariwisata di Berau,” lanjut Ferdinan.
Terkait kemungkinan penggantian layanan perintis ke Maratua dengan maskapai reguler, Ferdinan mengatakan hal itu masih perlu perhitungan matang, khususnya soal okupansi penumpang.
“Kalau berbicara tentang pesawat reguler, pastinya yang ada saat ini yaitu Smart Aviation harus hilang dan digantikan. Tapi harus dipastikan dulu keterisian okupansi,” jelasnya.
Ia menambahkan, belum ada maskapai, baik perintis maupun reguler, yang menyatakan minat menambah frekuensi penerbangan ke Maratua karena pertimbangan potensi pasar.
“Okupansi untuk maskapai itu minimal 70 persen harus terisi,” jelas Ferdinan.
Terpisah, Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menyebut keberadaan satu-satunya maskapai yang saat ini melayani rute ke Maratua, masih belum cukup untuk mendongkrak kunjungan wisatawan dalam jumlah besar.
Apalagi kapasitas armada terbatas dan jadwal penerbangan yang tidak setiap hari.
“Jangan hanya Susi Air saja. Kita harap ada maskapai lain dengan armada berbeda,” tegasnya.
Ia mengingatkan, tingginya biaya transportasi membuat banyak wisatawan berpikir dua kali untuk datang ke Maratua.
Bahkan beberapa pelaku usaha pariwisata di Maratua mengaku kesulitan mempertahankan pengunjung karena mahalnya biaya perjalanan.
“Kasihan yang sudah investasi di Maratua, tapi yang berkunjung malah kapok karena mahal,” katanya.
Dedy menyebut, Maratua sempat dilayani oleh Garuda Indonesia lewat kontrak kerja sama, dan itu menjadi bukti bahwa konektivitas langsung sebenarnya bisa diwujudkan.
Ia menilai, langkah tersebut bisa diupayakan kembali dengan skema kemitraan serupa, asalkan pemerintah daerah memiliki komitmen kuat dan jeli melihat peluang pasar.
“Garuda dulu pernah masuk, artinya itu bisa dilakukan kalau ada kemauan,” ujarnya.
Selain penerbangan, ia juga menyarankan agar pemerintah turut membenahi transportasi laut secara menyeluruh, baik dari sisi jadwal, armada, maupun infrastruktur dermaga.
Sebab, transportasi laut masih menjadi jalur utama bagi wisatawan yang tidak menggunakan jalur udara. (sen/far)