Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Datang Pandemi, Event pun Sepi; Usaha EO Terancam Mati

miminradar-Radar Banjarmasin • Jumat, 10 April 2020 - 16:57 WIB
KELAM: Pertunjukkan konser musik yang bertempat di Lapangan Murjani Banjarbaru selalu ramai penonton. Namun, antusiasme ini kini sementara tak bisa dinikmati lagi lantaran adanya pelarangan penggunaan lapangan Murjani untuk event yang mengumpulkan massa k
KELAM: Pertunjukkan konser musik yang bertempat di Lapangan Murjani Banjarbaru selalu ramai penonton. Namun, antusiasme ini kini sementara tak bisa dinikmati lagi lantaran adanya pelarangan penggunaan lapangan Murjani untuk event yang mengumpulkan massa k

Pandemi Covid-19 tak sekadar mengancam kesehatan. Banyak sektor bisnis dibuatnya lumpuh. Khususnya yang terkait pelayanan dan kerumunan massa. Salah satunya adalah jasa penyelenggara acara atau akrab disebut Event Organizer (EO).

---

Di Kota Banjarbaru, banyak tempat favorit event komersil ditutup alias tidak diizinkan selama wabah corona. Sebutlah Lapangan Murjani. Jika tidak situasi pandemi, tempat ikonis ini selalu padat agenda acara. Baik pemerintahan maupun swasta hingga hiburan.

Selepas naiknya status Kota Banjarbaru jadi Tanggap Darurat bencana non alam Covid-19. Kini, acara sontak dilarang. Pemko tak memberi izin penggunaan tempat. Begitupun di kepolisian, tak ada terbit izin keramaian.

Sekretaris Gugus Tugas P3 Covid-19 Banjarbaru, Said Abdullah menyebut, moratorium izin penyelenggaraan acara diberlakukan sejak status Kota Banjarbaru Siaga Darurat Covid-19.

"Kalau kapan berakhirnya, kita tidak bisa pastikan. Ini menyesuaikan wabah virus ini dan juga status Tanggap Darurat Kota Banjarbaru. Tentu kita berharap bisa secepatnya," kata Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Banjarbaru ini.

Memang, tidak diizinkannya event di Banjarbaru tegas Sekda menindaklanjuti anjuran social distancing oleh pemerintah. "Kalau event-kan menimbulkan berkumpul-kumpul. Makanya sementara kita tidak izinkan."

Tiadanya event juga jadi bumerang bagi Pemko. Mengingat, pendapatan dari sewa tempat untuk acara jelas nihil. Bahkan, beberapa event daerah juga terpaksa ditunda karena pandemi ini, termasuk peringatan Hari Jadi Kota Banjarbaru ke-21.

Kabag Umum Pemko Banjarbaru, Rokhyat Riyadi menjelaskan jika penggunaan Lapangan Murjani serta Gedung Bina Satria tidak diperbolehkan dari awal bulan Maret hingga akhir bulan Mei. Itu pun katanya sifatnya bisa diperpanjang jika wabah masih belum tuntas.

"Beberapa event di Murjani sudah dipastikan batal atau ditunda. Sejauh ini hingga bulan Mei ada lumayan banyak event di Murjani, ini otomatis tidak bisa dilaksanakan. Begitupun di Bina Satria, acara seperti resepsi juga beberapa dibatalkan," kata Rokhyat.

Tak ditampiknya, batalnya acara-acara ini berdampak pada pemasukan daerah. Mengingat, salah satu sumber pendapatan daerah dari sewa tempat ini. Untuk lapangan Murjani, Pemko biasanya mendapat Rp5 juta per harinya untuk kegiatan komersil. Sedangkan Gedung Bina Satria juga dibanderol Rp5 juta sekali acara.

Sebulan rata-rata Pemko mendapat pemasukan untuk PAD sebesar Rp50 juta dari dua tempat ini saja. Sedangkan target tahunan, minimal Rp450 juta.

"Kalau dari Maret hingga akhir Mei, kurang lebih Rp100 juta PAD kita gagal masuk," cerita Rokhyat.

Lantas bagaimana tanggungjawab Pemko terhadap penyewa tempat? Menurut Rokhyat, pihaknya sudah menyosialisasikan soal hal ini. Beruntungnya, para penyewa memahami.

"Kalau yang sudah DP (uang muka) akan kita beri tawaran apakah mau dikembalikan atau diganti jadwal. Sementara kebanyakan mereka menunggu situasi termasuk mengkomunikasikan dengan sponsorship acara," pungkasnya.

Kabid Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya & Pariwisata (Disporabudpar), Diah Tri Widhiningsih memaparkan, anjuran social distancing membuat beberapa agenda Calender of Event Kota Banjarbaru 2020 terdampak.

Dari daftar jadwal Calender of Event 2020 Banjarbaru, sejak April hingga Mei total ada sembilan gelaran yang tak bisa dilaksanakan. Mulai dari Panglima Batur Steet Festival sampai acara Tadarus Puisi.

"Iya semua kegiatan yang mengumpulkan orang banyak ditunda hingga Mei," konfirmasinya.

Soal adanya kerugian ataupun keputusan apakah event ditunda atau dibatalkan. Diah merespons jika event-event yang masuk kalender event tak semuanya dikerjakan oleh Disporabudpar. Bahkan, event dari Disporabupdar terangnya belum ada yang dijalankan.

"Tergantung dinas yang menggelar event itu, karena tidak semuanya di kami. Kebetulan kami belum ada event yang sudah jalan," pungkasnya.

Usaha EO Terancam Mati

Jika kondisi pandemi ini masih belum bisa dikendalikan. Maka sektor usaha kreatif yang satu ini bisa saja terancam mati hingga beberapa bulan ke depan. Tentunya ini juga membuat babak belur operasional EO seret. Efeknya, karyawan tentu saha terancam dirumahkan bahkan di PHK.

Salah satu pengusaha EO di Banjarbaru, Ananda Rizky Pratama dari Sembilan Organizer, mengaku sangat terdampak dengan pandemi ini. Total, untuk Banjarbaru saja ada empat event yang diakomodirnya tidak bisa terlaksana. Buntut anjuran physical distancing.

"Kalau secara akumulasinya ada 8 event. Lima event brand, dua event pemerintahan dan satu event BUMN. Khusus untuk Banjarbaru ada empat. Untuk sementara belum ada keputusan apakah dibatalkan, sementara ditunda sampai batas waku yang tidak ditentukan," kata Nanda.

Kehilangan omzet jelas kerugian yang dirasakan pebisnis EO tegas Nanda. Karena, satu event berskala konser, biasanya biaya produksinya mencapai Rp1 Miliar rupiah. Tentu kehilangan omzet yang tidak sedikit. Belum lagi katanya soal operasional bisnisnya, termasuk kesejahteraan karyawan. Karena tak ada event, maka tak ada pekerjaan bagi karyawannya.

"Bukan lagi menurun, tapi omzet jelas hilang. Tim produksi kami juga minta dipulangkan ke Pulau Jawa karena satu sisi mereka juga khawatir sama keluarga di sana. Jadi sangat berdampak," ceritanya.

Nanda sendiri bahkan menyebut, kalau industri event di daerah bisa dikatakan terancam mati jika pandemi ini belum tertangani. "Bisa dikatakan seperti itu untuk beberapa bulan ke depan."

Untuk sekarang, Nanda bersama tim mencoba memutar otak untuk bertahan di tengah pandemi ini. Karena event yang sifatnya acara jelas tidak bisa digarap. Efeknya, klien dan sponsor jujurnya juga mustahil didapat.

"Paling kita sekarang kita berusaha menawarkan bentuk-bentuk promosi secara online. Tapi karena ini di daerah, balik lagi semua keputusan di pusat," tambahnya.

Lalu apa harapannya? dengan jujur Nanda berucap sebetulnya tidak berharap banyak. Karena ia menyadari bahwa pandemi ini terjadi secara global. Ia pun berkeyakinan bahwa pemerintah pun sudah melakukan hal maksimal.

"Mungkin harapannya lebih kepada peraturan bantuan terhadap industri UMKM dan Pengusaha dengan Perbankan. Misalnya dalam bentuk keringanan dan semacam bantuan kemudahan permodalan setelah Covid-19 ini berakhir," pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Bisnis Jasa #Banua Covid-19 Corona #cover story #event