JAKARTA – Pelaku usaha menilai 2022 merupakan tahun yang masih penuh tantangan. Sejumlah faktor disebut akan mempengaruhi kinerja sektor usaha. Meskipun demikian, pengusaha tetap berekspektasi dan menargetkan pertumbuhan positif.
”Di tahun ini tantangannya luar biasa, untuk menjadi pengusaha kita harus bermental seperti pejuang. Di mana, penuh ketidakpastian dengan Covid-19 yang ada varian ini, ada varian itu,” ujar Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mardani H Maming dalam webinar (25/1).
Maming menyebutkan bahwa pertumbuhan PDB 2021 diyakini masih bisa dijaga positif di kisaran 3,7 persen. ”Seiring semakin membaiknya berbagai indikator ekonomi, pertumbuhan diperkirakan pulih kembali tahun ini. Kinerja perekonomian sepanjang 2021 menjadi pondasi yang cukup kuat untuk menyongsong 2022,” bebernya.
Apalagi, sambung Maming, indeks keyakinan konsumen juga telah kembali ke zona optimistis . Demikian juga indeks PMI Manufaktur Indonesia. "Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi, 5,2 persen, dalam APBN 2022. Angka itu sama dengan proyeksi Bank Dunia dalam Global Economic Prospects yang dirilis pada 11 Januari 2022. Sementara IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia bahkan bisa tumbuh di kisaran 5,9 persen. Pengusaha muda Insyallah optimis dengan target ini," ungkap CEO PT Maming Enam Sembilan Group itu.
Senada, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan bahwa masih ada peluang-peluang yang bisa dibidik di tahun 2022. Dia memprediksi bisnis kuliner masih menjanjikan di tahun ini. Baik melalui wisata kuliner maupun aplikasi online. Arsjad menjelaskan, berdasarkan analisa terhadap statistik pengeluaran penduduk per kapita Indonesia, sekitar 49 persen rata-rata pengeluaran sebulan adalah konsumsi makanan dan minuman.
Di sisi non konsumsi, bisnis properti diyakini tumbuh tinggi pada tahun 2022. Lantaran, kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal masih tinggi, baik melalui pembelian properti maupun sewa. Kemudian, bisnis teknologi informasi dan komunikasi juga terlihat cukup memiliki prospek yang baik terutama di internet, pulsa, serta ekspedisi logistik. ”Bisnis lain yang diprediksi tumbuh positif di tahun 2022 ini adalah bisnis aneka barang dan jasa, bisnis pakaian jadi, dan otomotif,” urai Arsjad.
Namun ada beberapa tantangan di tahun 2022, Indonesia masih cukup rentan terhadap gelombang ketiga pandemi Covid-19 seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kebijakan. Akselerasi program vaksinasi dan peningkatan protokol kesehatan secara simultan, masih menjadi kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi dan meningkatkan prospek ekonomi dalam jangka pendek.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyinggung pentingnya investasi di sektor kesehatan dan farmasi. Bahkan, dia juga ingin agar Indonesia bisa lepas dari ketergantungan pada Tiongkok dan India terkait dua sektor tersebut.
”Sangat penting pemerintah fokus investasi di sektor kesehatan. Banyak negara juga fokus pada hal yang sama, karena mereka tidak mau terjebak dalam supremasi RRT dan India sebagai pusat produksi farmasi ujarnya,’’ jelasnya.
Untuk mewujudkan harapan itu, Luhut menyebut harus ada pemulihan dan transformasi ekonomi yang dijalankan. Pemerintah dan seluruh pihak juga harus bisa menghadapi berbagai ketidakpastian yang terjadi.
Ke depan, pemerintah tak segan melayani para investor yang kesulitan berinvestasi di Indonesia. Hal itu sebagai langkah konkret pemerintah dalam menggencarkan investasi di dalam negeri.
Luhut melanjutkan, pemerintah juga memastikan skema insentif yang menarik untuk mendorong investasi masuk ke Indonesia. Baik untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). “Kemudahan perizinan, insentif kawasan industri, serta mengutamakan TKDN untuk pengadaan pemerintah,’’ katanya. (agf/dee)
Peluang dan Tantangan 2022 Menurut Pengusaha
Peluang
• Proyeksi Bank Dunia dan IMF yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,9%.
• Pertumbuhan sektor mamin didukung oleh 49 % pengeluaran rata-rata masyarakat Indonesia untuk konsumsi.
• Tren positif PMI manufaktur dan rangsangan insentif pemerintah di sektor industri pengolahan
Tantangan
• Pembatasan mobilitas
• Kondisi perekonomian global yang belum stabil
• Tingginya ketergantungan impor di sektor-sektor strategis
Sumber: Hipmi dan Kadin
Editor : izak-Indra Zakaria