Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Air Products Mundur dari BCIP, Investasi Rp 25 Triliun Hilang, Ribuan Tenaga Kerja Batal Terserap

izak-Indra Zakaria • Kamis, 6 Juli 2023 | 10:16 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Investor jumbo yang rencananya siap bergabung di BCIP akhirnya menarik diri, dengan berbagai sebab dan alasan.

 

SANGATTA – Salah satu tenant yang awalnya siap bergabung di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), yakni Air Products, ternyata menarik diri dari kawasan industri yang terletak Bengalon tersebut. Tentu saja hal ini sangat merugikan, mengingat nilai investasi yang siap ditanamkan sangat fantastis; Rp 25 triliun.

Tak cuma itu, penyerapan tenaga kerja juga ikut terdampak. “Kan rencananya ada ribuan karyawan yang bisa terserap. Tapi kalau Air Products mundur, maka tidak jadi terealisasi. Kami berharap, ada investasi lain yang masuk,” kata Wakil Ketua II DPRD Kutim Arfan.

Apalagi, masih ada pembebasan lahan yang belum selesai. Hal itu tentu menjadi salah satu masalah serius. Sebab, pemerintah sudah menyampaikan wacana itu kepada masyarakat. Sedangkan warga yang memiliki lahan sudah sangat berharap dapat dibebaskan. “Tapi, investornya justru mundur. Ini harus jadi perhatian. Pemerintah harus lebih selektif ketika menentukan investasi yang masuk,” tegasnya.

Padahal, jika investasi tersebut berjalan lancar, maka akan membuka lowongan kerja. Peluang kerja warga Kutim pun semakin terbuka. Tentu mengurangi angka pengangguran. “Sayangnya, sekarang tidak jalan. Dampaknya tentu kepada perekonomian daerah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kutim Hepnie Armansyah mengatakan, mundurnya Air Products jelas berdampak pada proyeksi pendapatan daerah. Apalagi sampai sekarang, sudah tidak ada aktivitas di kawasan tersebut.

Dia memastikan, pihaknya akan melakukan pembahasan bersama komisi terkait yang membidangi. Selain itu, semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pun akan dihadirkan untuk membahas bersama. “Harus segera ditindaklanjuti. Apa masalahnya dan kenapa Air Products sampai mundur,” ucapnya.

Padahal jika berjalan, maka akan menjadi pabrik coal to methanol pertama di Asia Tenggara. Meskipun dua konsorsium lainnya, PT Bakrie Capital Indonesia dan PT Ithaca Resources masih bertahan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) itu. Namun sampai sekarang, aktivitas tidak berjalan. “Memang ada ketergesaan dalam menentukan tenant,” katanya.

Hal itu disampaikannya bukan tanpa alasan. Ya, politikus PPP itu pun memberikan contoh serupa, yakni pertambangan litium dengan Tesla.

“Jadi, saat pemerintah yakin perusahaan otomotif dan penyimpanan energi asal Amerika Serikat itu akan berinvestasi di Indonesia, justru rencana bisnis itu tiba-tiba batal,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perizinan Teguh Budi Santoso menerangkan, kerja sama antara BCIP dan Air Products berakhir Desember pada 2022 lalu. Namun, melihat perkembangannya dan keinginan yang tidak sesuai, maka Air Products mengundurkan diri.

Sebab, semula BCIP diusulkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), namun ditolak Kementerian Keuangan. Mengingat legal standing-nya tidak tepat. Sehingga, BCIP hanya ditunjuk sebagai kawasan industri.

“Dengan status kawasan industri, maka fasilitas yang diperoleh tenant hanya 30 persen. Sedangkan pada saat Air Products berniat menjadi tenant, harapannya dengan adanya KEK bisa sampai 50-100 persen. Dengan pertimbangan itu, akhirnya Air Products mundur,” bebernya. (dq/ind/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria