Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tiket Pesawat Hingga Cabai Rawit: Cerita Sukses Kaltara Menjaga Stabilitas di Tengah Libur Nataru

Redaksi Prokal • 2026-01-19 13:15:00
PENYUMBANG : Salah satu penyumbang utama inflasi bulanan berasal dari kenaikan tarif angkutan udara, seiring lonjakan permintaan perjalanan masyarakat pada masa libur akhir tahu (ELIAZAR)
PENYUMBANG : Salah satu penyumbang utama inflasi bulanan berasal dari kenaikan tarif angkutan udara, seiring lonjakan permintaan perjalanan masyarakat pada masa libur akhir tahu (ELIAZAR)

 

 

PROKAL.CO, TARAKAN- Kalimantan Utara berhasil menutup tirai tahun 2025 dengan catatan ekonomi yang menggembirakan. Di tengah tantangan geografis sebagai wilayah beranda depan nusantara, provinsi ini mampu menjaga laju inflasi tahunannya di angka 2,57 persen hingga Desember 2025. Meski angka ini merangkak naik dibandingkan tahun sebelumnya, pencapaian tersebut masih berada dalam zona aman sasaran nasional, menandakan bahwa daya beli masyarakat di perbatasan tetap terjaga dengan baik.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan. Hasil positif tersebut merupakan buah dari sinergi yang "lengket" antara kebijakan moneter Bank Indonesia dengan langkah taktis pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Koordinasi yang intens memastikan bahwa gejolak harga di pasar dapat diredam sebelum meluas menjadi beban bagi warga.

Memasuki pengujung tahun, tekanan terhadap harga memang sempat memuncak seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru. Sektor transportasi udara menjadi salah satu pemicu utama karena melonjaknya permintaan tiket perjalanan. Namun, menariknya, dampak kenaikan ini tidak menjadi liar berkat adanya kebijakan diskon tarif penerbangan yang sengaja digulirkan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat yang ingin mudik atau berlibur.

Selain urusan tiket pesawat, tantangan juga datang dari dapur masyarakat. Kenaikan harga bawang merah dan cabai rawit sempat menghiasi dinamika pasar akibat siklus pascapanen yang menurun di tengah permintaan rumah tangga yang justru sedang tinggi-tingginya. Namun, stabilitas pangan di Kaltara mendapat bantuan dari sektor perikanan dan pertanian lokal. Melimpahnya pasokan ikan bandeng serta panen bayam yang didukung oleh cuaca kondusif menjadi penyeimbang yang efektif sehingga tekanan harga pangan secara keseluruhan tetap terkendali.

Secara kewilayahan, dinamika harga memang terasa sedikit berbeda di tiap daerah. Kabupaten Bulungan mencatatkan kenaikan tertinggi, diikuti oleh Tarakan dan Nunukan. Meski demikian, berkat kelancaran distribusi antarwilayah dan kebijakan penurunan tarif angkutan laut, Kaltara mampu melewati badai musiman akhir tahun dengan tenang. Capaian ini menjadi fondasi kuat bagi Bumi Benuanta untuk melangkah ke tahun 2026 dengan optimisme stabilitas ekonomi yang lebih kokoh. (*)

Editor : Indra Zakaria