Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rupiah Terkapar Dekati Rp17.000: Efek Gertakan Trump dan Bayang-Bayang Defisit Fiskal

Redaksi Prokal • 2026-01-20 08:42:29
Ilustrasi rupiah dan dolar.
Ilustrasi rupiah dan dolar.

JAKARTA – Mata uang Garuda kembali tak berdaya menghadapi gempuran sentimen negatif global dan domestik. Pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), nilai tukar rupiah resmi parkir di level Rp16.955 per dolar AS, melemah signifikan dari posisi sebelumnya. Tekanan ini membawa rupiah merosot hingga 68 poin dan sempat menyentuh level terendah di angka Rp16.962 sepanjang hari perdagangan.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan ini merupakan imbas dari badai kebijakan yang ditiupkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketegangan transatlantik memanas setelah Trump berencana memberlakukan tarif masuk sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris. Kebijakan ini merupakan balasan atas penolakan negara-negara tersebut terhadap ambisi AS mengakuisisi Greenland, yang memicu kekhawatiran sengketa dagang luas dan membuat investor berbondong-bondong memborong dolar AS sebagai aset aman.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih sangat solid. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin ragu bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga secara agresif dalam waktu dekat. Harapan akan penurunan suku bunga kini bergeser ke pertengahan tahun, yang secara otomatis memberikan tenaga ekstra bagi dolar AS untuk terus menguat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran terkait kondisi fiskal negara. Pasar mulai menyoroti ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berisiko terhadap stabilitas jangka menengah. Kekhawatiran ini diperparah dengan realisasi defisit anggaran tahun lalu yang hampir menyentuh batas hukum 3 persen, sementara penerimaan pajak dianggap masih belum cukup kuat untuk menopang lonjakan belanja negara.

Bank Indonesia sendiri terus berupaya meredam gejolak dengan melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar valas. Meski BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan Rabu mendatang, ruang gerak bank sentral dianggap semakin terbatas. Ibrahim memproyeksikan bahwa untuk perdagangan esok hari, rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS. (*)

Editor : Indra Zakaria