Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Transformasi Kakao Bulungan: Dari Biji Mentah Menuju Hilirisasi Berbasis Desa

Redaksi Prokal • 2026-01-21 10:15:00
Kakao menunjukkan peran strategis dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. (HRK)
Kakao menunjukkan peran strategis dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. (HRK)

 

BULUNGAN – Komoditas kakao di Kabupaten Bulungan kini tidak lagi sekadar tanaman perkebunan biasa, melainkan telah bertransformasi menjadi penggerak utama ekonomi perdesaan. Perubahan pola pikir petani yang beralih dari sekadar menjual bahan mentah menjadi produsen olahan bernilai tambah mulai membuahkan hasil signifikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Saat ini, perkebunan kakao di Bulungan mencakup luas lahan sebesar 55 hektare yang tersebar di tiga lokasi strategis, yakni Desa Antutan di Kecamatan Tanjung Palas, Desa Pentian di Kecamatan Sekatak, dan Desa Sajau Metun di Kecamatan Tanjung Palas Timur. Kawasan Lanskap Kayan yang memiliki karakteristik lahan kering dan bergelombang dinilai sangat ideal bagi pengembangan tanaman kakao secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Pertanian Bulungan, Kristianto, menjelaskan bahwa Desa Antutan menjadi sentra utama dengan luas lahan mencapai 30 hektare. Sejak mulai dikembangkan secara intensif pada tahun 2020, peran strategis kakao semakin terlihat nyata, terutama setelah Pemerintah Kabupaten Bulungan mendorong program pengolahan pascapanen.

Titik balik kemajuan komoditas ini ditandai dengan beroperasinya dua rumah produksi kakao pada tahun 2024. Melalui fasilitas tersebut, hasil panen petani kini diolah menjadi produk turunan seperti bubuk kakao, cokelat batang (kakao bar), dan lemak cokelat (kakao butter) yang dipasarkan di bawah merek lokal Kayan Cocoa. Hilirisasi ini terbukti mendongkrak harga jual di tingkat petani secara drastis.

Pada periode Agustus hingga November 2025 lalu, harga kakao fermentasi di Antutan bahkan sempat melonjak hingga Rp120 ribu per kilogram karena tingginya permintaan, bahkan sempat menyentuh angka Rp145 ribu akibat persaingan antarpengepul. Meski saat ini harga mengalami fluktuasi di kisaran Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, nilai tersebut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan harga kakao non-fermentasi atau kakao basah.

Kunci dari daya saing kakao Bulungan terletak pada kedisiplinan petani dalam menjaga kualitas melalui proses fermentasi selama tiga hingga lima hari sebelum penjemuran. Kristianto menegaskan bahwa pembinaan terus dilakukan agar standar mutu tetap terjaga, karena kualitas yang rendah akan langsung berdampak pada jatuhnya harga di pasar.

Pemerintah Kabupaten Bulungan optimis bahwa kakao memiliki prospek jangka panjang yang cerah seiring meningkatnya permintaan produk cokelat olahan secara global. Dukungan dari hulu ke hilir pun terus diperkuat melalui penyediaan bantuan alat pengering, kotak fermentasi, hingga pendampingan teknis. Upaya ini dilakukan agar petani desa dapat naik kelas dan menjaga konsistensi produksi kakao berkualitas tinggi dari Bumi Tenguyun. (*)

Editor : Indra Zakaria