Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rivalitas Samarinda-Balikpapan, Masih Adakah?

Faroq Zamzami • 2024-04-06 13:13:02

Faroq Zamzami
Faroq Zamzami

Catatan: Faroq Zamzami
(Wartawan Prokal.co)

PROKAl.CO, BALIKPAPAN-Saya secara alamiah adalah fans Putra Samarinda (Pusam). Klub sepak bola kebanggan Kota Samarinda zaman sekolah dulu. Jadi fans Pusam karena alasan sangat sederhana, faktor teritorial.

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Samarinda, ya sudah secara natural sukanya Pusam.

Fans biasa saja. Bukan garis keras. Bisa juga dibilang fans sekadarnya. Asal punya tim sepak bola idola di tanah kelahiran. Biar enggak ketinggalan dalam pergaulan.

Biasanya, tabloid seminggu dua kali itu akan digilir dibaca oleh teman-teman, tentunya setelah si empunya tabloid hatam.

Muaranya adalah menggunting gambar-gambar pemain dunia dari tabloid itu, kemudian ditempel di pintu lemari baju atau di dinding dekat ranjang. Atau juga di sampul buku tulis sekolah.

Biasanya setelah digilir beberapa orang yang tersisa gambar-gambar pemain-pemain liga Indonesia. Mereka tentu mengutamakan mengambil gambar-gambar pemain dunia, yang saat itu Serie A Italia paling primadona.

Saat itu nama-nama pemain Pusam yang saya ingat ada Ibrahim Lestaluhu, Yance Katehokang, dan Ebwelle Bertin.

Saat kelas dua atau kelas tiga SMP, saya pernah sekali nonton derbi panas antara Persiba versus Pusam di Stadion Parikesit, yang saat ini stadion itu sudah tak bersisa karena jadi bagian dari perluasan kompleks Pertamina.

Saya bersama tiga teman. Semua dari Samarinda. Pertandingan sore. Dari sekolah ke stadion kami masih pakai seragam sekolah.  

Biar murah bayar angkutan kota (angkot). Sekolah kami madrasah, jadi sejak SMP sudah pakai celana panjang, di mana pada masa itu SMP negeri umumnya masih pakai celana pendek di atas lutut.  

Style kami semua saat itu adalah pakai celana Pramuka, baju putih SMP, biar sekilas dikira siswa SMA. Harga karcis masuk stadion saat itu kalau tidak salah ingat yang kami beli Rp 4.000 per orang.

Kami menonton di barisan yang menghadap tribune beratap. Barisan bangku terbuka. Bukan juga bangku sebenarnya tapi lebih pada tangga semen disusun bertingkat, jadi penonton menyaksikan laga sambil berdiri.

Tak ada yang tahu kami adalah anak Samarinda, fans Pusam di antara lautan fans Persiba. Saat itu Pusam kalah 1-2.  Satu pemain yang sangat melekat di kepala saat derbi  itu adalah Ebwelle Bertin.

Tapi jika melihat tahun kiprahnya di Pusam dari Wikipedia, dengan sepengetahuan saya sepertinya tidak sesuai, tapi saya tahu ada Ebwelle Bertin, pemain Kamerun, di laga itu.

Yang paling teringat adalah saat dia membawa bola, para fans Persiba di sekitar saya saat itu meneriakinnya dengan kaki ulin. Hal itu masih melekat di kepala.

RIVALITAS DUA KOTA

Pada masa-masa saya sekolah sampai kuliah dulu, rivalitas orang Samarinda dan Balikpapan sangat tajam. Tak hanya soal sepak bola. Tapi di banyak sendi kehidupan.

Saya merasakan itu karena dulu saat SMP di Balikpapan kerap berdebat mengarah olok-olokan dengan kawan yang dari Balikpapan.

Saya berkawan dekat dengan beberapa teman asal Balikpapan, tapi kalau tiba-tiba membahas sepak bola kami melupakan kalau tinggal satu kamar, dan memasang mode saling serang dengan kata-kata tapi tak pernah sampai ada yang adu tinju.

Sebatas olok-olokan saja. Karena perkawanan lebih kental dari apapun, agaknya itu pikiran kami masa itu. Jadi cukup beradu urat leher.

Kalau yang seumuran saya, atau lebih tua dari saya, atau sedikit lebih muda dari saya pasti tahu, sindir-sindiran antara orang Balikpapan dan Samarinda, selain soal sepak bola.

Dulu, orang Balikpapan menyindir tentang Sungai Karang Mumus yang tak bersih, dan satu ini; angkutan kota di Samarinda tak sekeren di Balikpapan. Atau tentang banyak hal lainnya, yang tentunya pembaca lebih tahu, dan senyum-senyum sendiri kalau ingat soal itu.

Tak perlu lah saya jabarkan detail. Cukup beberapa sebagai romantisme tipis-tipis.

Di Balikpapan masa itu, angkot, terutama yang disopiri kawula muda, dilengkapi dengan speaker besar alias full musik. Hal itu ditunjang karena posisi duduk penumpang yang berbaris seperti di mobil pribadi.

Speaker yang besar diletakkan di balik barisan kursi paling belakang. Angkot jadi tren dan mengecap masa keemasan kala itu. Nyaris sebagian besar anak sekolahan naik angkot. Para sopir angkot pun mengikuti tuntutan pasar.

Makanya banyak angkot yang tampilannya keren, misal diberi bamper depan, dibuat terlihat ceper, dan ada tulisan-tulisan identitas di bagian kaca depan atau belakang yang didesain ciamik.  

Sementara di Samarinda, angkotnya kerap jadi sindiran karena duduknya berhadap-hadapan dan sangat jarang ada dentuman musik. Intinya kurang kerenlah bagi kawula muda masa itu.

Baca Juga: Jaket Resmi MAXi Yamaha, Obat Ganteng Buat Riding Harian dan Touring

Saya dan teman-teman yang saat itu bersekolah di Balikpapan, biasa selalu sedia kaset pita di tas, jadi kalau mau naik angkot ke mana saja, kami memberikan kaset seperti Guns N Roses atau White Lion atau Firehouse, atau yang lainnya, kepada sopir angkot agar disetel.

Asyik mendengarkan lagu kesukaan selama perjalanan dengan angkot di Balikpapan masa itu.

Kalau kami, anak Samarinda, yang kami banggakan kepada anak Balikpapan saat itu, tentu status ibu kota, dan menyindir banyaknya anak Balikpapan yang kuliah di Samarinda, karena pada masa itu, bahkan sampai saya lulus kuliah, belum menjamur universitas di Balikpapan seperti saat ini. 

Tapi kini rivalitas itu seakan sirna tak lagi terasa. Entah bagi kalangan remaja usia sekolah dan kuliah saat ini. 

Jika ditelaah, tak tajamnya rivalitas, dari sisi sepak bola bisa jadi karena sudah ada penandatanganan damai antara suporter Persiba Balikpapan dan Borneo FC di Stadion Parikesit Balikpapan pada Rabu (31/5/2017).
 
Baca Juga: UFC Fight Night 250 Arab Saudi, Israel Adesanya Kalah KO dari Imavov, MPV Coreng Rekor Shara Bullet
 
Saat itu, tiga kelompok supporter menandatangani ikrar damai yakni Pusamania Borneo, Persiba Fans Club (PFC) dan Balikpapan Suporter Fanatik (Balistik).
 
Mereka sama-sama berjanji akan menjaga kondusivitas Kalimantan Timur, tidak ada lagi bentrok antar supporter. Sebelum penandatanganan itu, rivalitas kedua tim sangat panas.
 
Baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Rivalitas memang oke saja asal jangan sampai meminta korban. Semua fans sepak bola sepakat, tak ada laga seharga nyawa.

Secara historis sebenarnya tak ada insiden besar yang menjadi pemicu rivalitas antara Persiba dan Pusam. Dari hasil googling, menurut pelaku sejarah dulu persaingan kedua tim dimulai dari gesekan biasa antarpemain di lapangan hijau.
 
Lama-lama melebar gesekan antar suporter. Sampai rivalitas menjadi sangat tajam.

Atau bisa juga rivalitas belakangan ini tak terasa antara kedua klub di dua kota karena bermain di kasta liga yang berbeda. Borneo FC klub kebanggaan warga Samarinda kini bermain di Liga 1. Persiba beberapa tahun terakhir berlaga di Liga 2.
Baca Juga: Pelantikan Kepala Daerah Terpilih Digelar di Jakarta, Bukan di IKN
 
Atau bisa jadi juga khusus untuk saya, rivalitas kedua klub semakin tak terasa, karena  saya yang sudah lama tinggal di Balikpapan dan semakin dewasanya lingkungan pergaulan saya.
 
Jadi sudah bukan masanya membahas soal saingan-saingan atau olok-olokan tentang klub kebanggaan, dan lebih luas mengejek hal jelek dari kota tetangga.

Saya tak bisa membayangkan kalau kondisi Borneo FC, klub asal Samarinda, yang saat ini meminjam Stadion Batakan di Balikpapan, terjadi pada masa lalu. Ketika zamannya Pusam dulu.
 
Atau Persisam. Saya tak yakin pihak Balikpapan akan memberi pinjaman karena mempertimbangkan banyak faktor dan tentu yang utama adalah keamanan.
 
Dan saya tak yakin pula, manajemen klub Samarinda masa itu akan berpikir untuk menumpang kandang di Balikpapan.
 
Kalau harus jadi tim musafir, saya yakin mereka mungkin akan pinjam stadion di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) yang mana rivalitas antara klub Samarinda dan Kukar tak terlalu tajam masa itu.
Baca Juga: Pemuda Dongkrak Partisipasi Pemilih, KPU Kukar akan Gencarkan Pendidikan Politik dari Bangku Sekolah
 
Atau meminjam stadion milik PKT Bontang yang masa lalu sangat terkenal dengan rumputnya yang terbaik, bahkan sampai level Asia Tenggara. Tapi itu dulu. Kini semua berubah.
 
Tulisan ini pun bukan untuk membuka-buka luka lama atau mengungkit-ungkit sesuatu yang kurang enak.
 
Tulisan ini hanya romantisme rivalitas kedua kota, dari seorang jurnalis yang lahir di Samarinda, bersekolah SD di Samarinda, meluluskan SMP di Balikpapan, sekolah hingga kelas dua SMA di Balikpapan, kemudian kembali ke Samarinda untuk melanjutkan SMA dan berkuliah.
 
Kemudian kembali lagi ke Balikpapan untuk bekerja hingga saat ini. Romantisme yang muncul ketika melihat foto dan video singkat betapa akrabnya warga Balikpapan dan Samarinda di Stadion Batakan ketika Borneo FC berlaga di sana musim ini.
 
Bahkan sejumlah pembuat konten asal Balikpapan yang saya lihat di Instagram tak sungkan mengenakan jersey Borneo FC.
 
Berkolaborasi membuat konten dengan warga Samarinda. Ini tentu pemandangan yang indah dari saudara yang tinggal bertetangga, walaupun dulu sering saling ejek.

Dan secara umum, saat ini Balikpapan dan Samarinda terus berlomba untuk menjadi semakin maju dan semakin baik. Saling bersaing menjadi yang terdepan.
Baca Juga: Pria Pembakar Alquran di Swedia Dilaporkan Mati Ditembak saat Live TikTok
 
Di semua sendi kehidupan. Persaingan yang positif begini tentu akan menguntungkan kita warganya yang tinggal di dua kota ini.
 
Kita akan menikmati pembangunan yang semakin maju dan fasilitas publik yang semakin baik.

Banyak proyek pembangunan di kedua kota. Sejak lama, tepatnya pada 2008, ketika Kaltim menjadi tuan rumah PON, Samarinda jadi punya tiga stadion sepak bola. Yakni, Stadion Madya Sempaja dan Stadion Utama Palaran.
 
Satu lagi tentu stadion yang sudah lama eksis, Stadion Segiri. Balikpapan juga kebagian pembangunan stadion tenis. Dan belakangan, Balikpapan juga punya Stadion Batakan, di timur kota, yang berstandar klub Liga Inggris.
 
Yang kalau dari siaran di televisi, kala menonton laga di Stadion Batakan, seperti menonton liga-liga di Eropa.
 
Apalagi sekarang, ketika Sepaku di Penajam Paser Utara (PPU) sana menjadi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Balikpapan, Kukar, dan Samarinda yang bakal kena imbas paling dekat dari pembangunan itu.
Baca Juga: Ratusan THL Disdikpora PPU Dirumahkan, Termasuk Guru
 
Menjadi kota penyangga tentu berdampak sangat positif bagi pembangunan daerah. Sekarang saja, saat Sepaku sedang dibangun, kita di Balikpapan sangat merasakan dampaknya.
 
Orang semakin banyak. Bisnis semakin menggeliat. Properti bertumbuhan.
 
Pengusaha properti di Balikpapan atau Samarinda berjualan dengan embel-embel dekat dari ibu kota. Dan tentu dampak positif pembangunan lainnya. Walaupun khusus di Balikpapan kita juga tak bisa mengesampingkan proyek kilang Pertamina yang sudah menyedot banyak manusia datang ke Kota Minyak. (far)
Editor : Faroq Zamzami
#balikpapan #Rivalitas #samarinda #pusamania #persiba