Catatan: Faroq Zamzami
(Wartawan Prokal.co)
PROKAl.CO, BALIKPAPAN-Saya secara alamiah adalah fans Putra Samarinda (Pusam). Klub sepak bola kebanggan Kota Samarinda zaman sekolah dulu. Jadi fans Pusam karena alasan sangat sederhana, faktor teritorial.
Lahir dan menghabiskan masa kecil di Samarinda, ya sudah secara natural sukanya Pusam.
Fans biasa saja. Bukan garis keras. Bisa juga dibilang fans sekadarnya. Asal punya tim sepak bola idola di tanah kelahiran. Biar enggak ketinggalan dalam pergaulan.
Biasanya, tabloid seminggu dua kali itu akan digilir dibaca oleh teman-teman, tentunya setelah si empunya tabloid hatam.
Muaranya adalah menggunting gambar-gambar pemain dunia dari tabloid itu, kemudian ditempel di pintu lemari baju atau di dinding dekat ranjang. Atau juga di sampul buku tulis sekolah.
Biasanya setelah digilir beberapa orang yang tersisa gambar-gambar pemain-pemain liga Indonesia. Mereka tentu mengutamakan mengambil gambar-gambar pemain dunia, yang saat itu Serie A Italia paling primadona.
Saat itu nama-nama pemain Pusam yang saya ingat ada Ibrahim Lestaluhu, Yance Katehokang, dan Ebwelle Bertin.
Saat kelas dua atau kelas tiga SMP, saya pernah sekali nonton derbi panas antara Persiba versus Pusam di Stadion Parikesit, yang saat ini stadion itu sudah tak bersisa karena jadi bagian dari perluasan kompleks Pertamina.
Saya bersama tiga teman. Semua dari Samarinda. Pertandingan sore. Dari sekolah ke stadion kami masih pakai seragam sekolah.
Biar murah bayar angkutan kota (angkot). Sekolah kami madrasah, jadi sejak SMP sudah pakai celana panjang, di mana pada masa itu SMP negeri umumnya masih pakai celana pendek di atas lutut.
Style kami semua saat itu adalah pakai celana Pramuka, baju putih SMP, biar sekilas dikira siswa SMA. Harga karcis masuk stadion saat itu kalau tidak salah ingat yang kami beli Rp 4.000 per orang.
Kami menonton di barisan yang menghadap tribune beratap. Barisan bangku terbuka. Bukan juga bangku sebenarnya tapi lebih pada tangga semen disusun bertingkat, jadi penonton menyaksikan laga sambil berdiri.
Tak ada yang tahu kami adalah anak Samarinda, fans Pusam di antara lautan fans Persiba. Saat itu Pusam kalah 1-2. Satu pemain yang sangat melekat di kepala saat derbi itu adalah Ebwelle Bertin.
Tapi jika melihat tahun kiprahnya di Pusam dari Wikipedia, dengan sepengetahuan saya sepertinya tidak sesuai, tapi saya tahu ada Ebwelle Bertin, pemain Kamerun, di laga itu.
Yang paling teringat adalah saat dia membawa bola, para fans Persiba di sekitar saya saat itu meneriakinnya dengan kaki ulin. Hal itu masih melekat di kepala.
RIVALITAS DUA KOTA
Pada masa-masa saya sekolah sampai kuliah dulu, rivalitas orang Samarinda dan Balikpapan sangat tajam. Tak hanya soal sepak bola. Tapi di banyak sendi kehidupan.
Saya merasakan itu karena dulu saat SMP di Balikpapan kerap berdebat mengarah olok-olokan dengan kawan yang dari Balikpapan.
Saya berkawan dekat dengan beberapa teman asal Balikpapan, tapi kalau tiba-tiba membahas sepak bola kami melupakan kalau tinggal satu kamar, dan memasang mode saling serang dengan kata-kata tapi tak pernah sampai ada yang adu tinju.
Sebatas olok-olokan saja. Karena perkawanan lebih kental dari apapun, agaknya itu pikiran kami masa itu. Jadi cukup beradu urat leher.
Kalau yang seumuran saya, atau lebih tua dari saya, atau sedikit lebih muda dari saya pasti tahu, sindir-sindiran antara orang Balikpapan dan Samarinda, selain soal sepak bola.
Dulu, orang Balikpapan menyindir tentang Sungai Karang Mumus yang tak bersih, dan satu ini; angkutan kota di Samarinda tak sekeren di Balikpapan. Atau tentang banyak hal lainnya, yang tentunya pembaca lebih tahu, dan senyum-senyum sendiri kalau ingat soal itu.
Tak perlu lah saya jabarkan detail. Cukup beberapa sebagai romantisme tipis-tipis.
Di Balikpapan masa itu, angkot, terutama yang disopiri kawula muda, dilengkapi dengan speaker besar alias full musik. Hal itu ditunjang karena posisi duduk penumpang yang berbaris seperti di mobil pribadi.
Speaker yang besar diletakkan di balik barisan kursi paling belakang. Angkot jadi tren dan mengecap masa keemasan kala itu. Nyaris sebagian besar anak sekolahan naik angkot. Para sopir angkot pun mengikuti tuntutan pasar.
Makanya banyak angkot yang tampilannya keren, misal diberi bamper depan, dibuat terlihat ceper, dan ada tulisan-tulisan identitas di bagian kaca depan atau belakang yang didesain ciamik.
Sementara di Samarinda, angkotnya kerap jadi sindiran karena duduknya berhadap-hadapan dan sangat jarang ada dentuman musik. Intinya kurang kerenlah bagi kawula muda masa itu.
Baca Juga: Jaket Resmi MAXi Yamaha, Obat Ganteng Buat Riding Harian dan Touring
Saya dan teman-teman yang saat itu bersekolah di Balikpapan, biasa selalu sedia kaset pita di tas, jadi kalau mau naik angkot ke mana saja, kami memberikan kaset seperti Guns N Roses atau White Lion atau Firehouse, atau yang lainnya, kepada sopir angkot agar disetel.
Asyik mendengarkan lagu kesukaan selama perjalanan dengan angkot di Balikpapan masa itu.
Kalau kami, anak Samarinda, yang kami banggakan kepada anak Balikpapan saat itu, tentu status ibu kota, dan menyindir banyaknya anak Balikpapan yang kuliah di Samarinda, karena pada masa itu, bahkan sampai saya lulus kuliah, belum menjamur universitas di Balikpapan seperti saat ini.
Tapi kini rivalitas itu seakan sirna tak lagi terasa. Entah bagi kalangan remaja usia sekolah dan kuliah saat ini.
Secara historis sebenarnya tak ada insiden besar yang menjadi pemicu rivalitas antara Persiba dan Pusam. Dari hasil googling, menurut pelaku sejarah dulu persaingan kedua tim dimulai dari gesekan biasa antarpemain di lapangan hijau.
Atau bisa juga rivalitas belakangan ini tak terasa antara kedua klub di dua kota karena bermain di kasta liga yang berbeda. Borneo FC klub kebanggaan warga Samarinda kini bermain di Liga 1. Persiba beberapa tahun terakhir berlaga di Liga 2.
Saya tak bisa membayangkan kalau kondisi Borneo FC, klub asal Samarinda, yang saat ini meminjam Stadion Batakan di Balikpapan, terjadi pada masa lalu. Ketika zamannya Pusam dulu.
Dan secara umum, saat ini Balikpapan dan Samarinda terus berlomba untuk menjadi semakin maju dan semakin baik. Saling bersaing menjadi yang terdepan.
Banyak proyek pembangunan di kedua kota. Sejak lama, tepatnya pada 2008, ketika Kaltim menjadi tuan rumah PON, Samarinda jadi punya tiga stadion sepak bola. Yakni, Stadion Madya Sempaja dan Stadion Utama Palaran.