Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menunggu "The Special One" Baru: Enam Raksasa Eropa yang Mengintip Peluang Rekrut Xabi Alonso

Redaksi Prokal • 2026-01-19 12:30:00
Xabi Alonso.
Xabi Alonso.

 

PROKAL.CO- Dunia seolah runtuh bagi Xabi Alonso. Sosok yang semula dipuja sebagai pangeran kepulangan di Real Madrid, harus mengakhiri masa jabatannya dengan cara yang kurang terhormat. Penunjukannya sebagai pengganti Carlo Ancelotti di awal musim sempat menghadirkan optimisme tinggi, namun harmoni itu hancur berantakan. Kegagalan meredam gejolak ruang ganti pasca-kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi titik balik yang menyakitkan. Sang legenda harus menerima kenyataan bahwa lingkungan manajerial Los Blancos adalah rimba yang terlalu rumit untuk ditaklukkan dalam waktu singkat.

Meski babak di Spanyol berakhir kelabu, reputasi Alonso tidak lantas memudar. Keajaiban yang ia ciptakan bersama Bayer Leverkusen di Bundesliga masih segar dalam ingatan para pemilik klub besar Eropa. Di usia 44 tahun, Alonso tetaplah komoditas panas: muda, taktis, dan memiliki karisma pemimpin yang jarang dimiliki pelatih lain. Kini, saat ia berstatus bebas transfer, spekulasi mengenai destinasi berikutnya mulai memanas, menyeret nama-nama klub raksasa yang tengah mencari arah baru.

Di Inggris, Tottenham Hotspur muncul sebagai kemungkinan meski terasa tidak nyata. Era Thomas Frank di London Utara yang sedang berada di tren negatif membuat nama Alonso terdengar seperti solusi instan untuk membangkitkan bakat tersembunyi skuat The Lilywhites. Namun, dengan posisi Spurs yang terjerembab di papan bawah, sulit membayangkan sang ahli taktik mau menerima tantangan di tim yang secara kompetitif sedang tertinggal jauh dari jajaran elit Premier League.

Lain lagi ceritanya dengan Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen. PSG di bawah Luis Enrique memang sedang di puncak dunia, namun ketidakpastian kontrak Enrique di masa depan membuka celah bagi profil pelatih kolektif seperti Alonso. Sementara itu, Bayern Munchen yang pernah memuja Alonso saat menjadi pemain, kini tengah menikmati masa bulan madu kedua bersama Vincent Kompany. Kecuali jika performa Kompany terjun bebas secara mendadak, pintu Bavaria tampaknya masih tertutup rapat bagi kepulangan sang mantan gelandang.

Manchester kini juga menjadi panggung desas-desus. Di sisi merah, Manchester United kembali memulai dari nol setelah kegagalan Ruben Amorim, dengan Michael Carrick sebagai pemegang kendali sementara. Skema taktis Alonso dianggap cocok dengan materi pemain peninggalan Amorim, namun sejarah masa lalu Alonso bersama Liverpool diyakini akan menjadi tembok besar yang sulit diruntuhkan. Di sisi biru, nama Alonso mulai dibisikkan sebagai penerus evolusi Pep Guardiola jika sang maestro Catalan benar-benar memutuskan pergi dari Etihad Stadium pada 2027 mendatang.

Namun, dari semua pelabuhan yang ada, Anfield terasa seperti rumah yang paling merindukannya. Liverpool seolah menjadi kepingan puzzle yang sempurna bagi Alonso. Tekanan besar yang kini menghimpit Arne Slot di musim keduanya, ditambah keberadaan dua mantan anak asuh emasnya di Leverkusen—Jeremie Frimpong dan Florian Wirtz—yang kini berseragam The Reds, membuat reuni ini terasa tinggal menunggu waktu. Bagi Alonso, kembali ke Merseyside bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan tentang menghidupkan kembali cinta lama di tempat di mana ia selalu merasa diterima.(*)

Editor : Indra Zakaria