Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Permainan Kotor Paraguay Dilawan dengan Main Cantik Prancis, Pemain Paraguay Tambah Emosi

Indra Zakaria • Minggu, 5 Juli 2026 | 16:16 WIB
Penjaga gawang Paraguay, Orlando Gills melempar bola ke badan Mbappe.
Penjaga gawang Paraguay, Orlando Gills melempar bola ke badan Mbappe.

PROKAL.CO- Langkah Prancis menuju perempat final Piala Dunia 2026 harus ditebus dengan perjuangan ekstra melelahkan. Les Bleus sukses membungkam Paraguay dengan skor tipis 1–0 berkat penalti Kylian Mbappe di babak 16 besar, sekaligus memesan tiket untuk menantang Maroko. Namun, jalannya pertandingan yang menjurus kasar memicu kecaman keras dari kubu Prancis, terutama dari sang kapten.

Mbappe tidak segan-segan melabeli gaya permainan Paraguay sebagai sepak bola "kotor". Sepanjang laga, wakil Amerika Selatan tersebut berulang kali mempertontonkan aksi kasar di lapangan. Mulai dari tekel keras Andres Cubas terhadap Adrien Rabiot, tendangan Juan Jose Caseras ke arah Mbappe, hingga sikut Gabriel Avalos yang mendarat di perut Dayot Upamecano. Ironisnya, wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, panen kritikan karena membiarkan laga berjalan liar tanpa mengeluarkan satu pun kartu kuning untuk pemain Paraguay. Sebaliknya, tiga penggawa Prancis—Manu Kone, Michael Olise, dan Bradley Barcola—justru dihadiahi kartu kuning.

Kebuntuan baru pecah pada menit ke-70 setelah Diego Gomez menjatuhkan Desire Doue di kotak terlarang. Setelah meninjau monitor VAR, wasit akhirnya menunjuk titik putih. Mbappe yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan tenang dan mengemas gol ketujuhnya di turnamen ini. Gol penalti tersebut sempat diwarnai drama protes keras dari para pemain Paraguay, bahkan Gustavo Velazquez kedapatan mencoba merusak rumput di sekitar titik penalti sebelum Mbappe menendang bola.

Mbappe ejek pemain Paraguay.
Mbappe ejek pemain Paraguay.

"Jika kami harus ikut mengotori tangan kami, kami akan melakukannya. Kami membuktikan bahwa kami bukan sekadar tim yang hanya tahu cara menyerang dengan indah," ujar Mbappe selepas laga. "Mereka (Paraguay) mengira kami akan datang mengenakan setelan tuksedo, tetapi kami sudah siap berperang. Bahkan dalam jenis permainan seperti itu, kami tetap lebih baik dari mereka."

Tensi panas terus berlanjut hingga peluit panjang berbunyi. Kiper Paraguay, Orlando Gill, kedapatan melempar bola ke arah punggung Mbappe setelah sang striker enggan menjabat tangannya. Velazquez juga tertangkap kamera mencoba melakukan konfrontasi fisik dengan beberapa penggawa Prancis saat menuju lorong ganti.

Pelatih Prancis, Didier Deschamps, mencoba menanggapi situasi ini dengan lebih diplomatis meski ia mengakui sempat ada provokasi verbal dari bangku cadangan lawan. Deschamps bahkan membeberkan taktik khususnya di menit-menit akhir untuk melindungi Mbappe dari incaran pemain lawan. "Saya meminta dua pemain berpostur paling besar di tim untuk berdiri menjaga Kylian di akhir laga karena mereka berniat menjatuhkannya secara kasar. Tim-tim Amerika Selatan selalu memberikan perlawanan yang menyulitkan dengan memanfaatkan segala trik yang ada," ungkap Deschamps.

Didier Descham memisahkan pemain Paraguay dan anak asuhnya.
Didier Descham memisahkan pemain Paraguay dan anak asuhnya.

Bek andalan Prancis, William Saliba, menambahkan bahwa kesiapan mental menjadi kunci utama kemenangan Les Bleus malam itu. Menurutnya, Prancis sudah mengantisipasi provokasi lawan sejak awal dan berkomitmen untuk tidak membuang energi dalam adu argumen yang bisa merusak fokus permainan. Senada dengan Saliba, Rayan Cherki menegaskan bahwa laga brutal ini menjadi pembuktian penting bagi dunia bahwa mentalitas Prancis tidak hanya siap untuk bermain cantik, tetapi juga siap untuk memenangkan "perang" di lapangan hijau. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Paraguay