Karya Terbaru Sineas Kaltim yang Penuh Kolaborasi
TENGGARONG – Sebagai salah satu penglaris di industri perfilman Indonesia. Genre horor sudah mewarnai sinema Indonesia dengan film-film terkenal dan laris manis selama puluhan tahun. Beberapa diantaranya yang sangat laku di pasaran adalah KKN di Desa Penari dan Pengabdi Setan. Genre ini memiliki daya tarik tersendiri dengan cerita-cerita mistis yang sangat kental dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Kesempatan ini juga yang diambil oleh seorang sineas asal Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), David Richard. Untuk melahirkan sebuah film Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang. Yang telah memamerkan cuplikan pendeknya di akun Youtube East Borneo Film (EBF), yang juga menjadi rumah produksi film ini. Selain menerbitkan cuplikan film yang sudah ditonton sebanyak 18 ribu kali di Youtube, EBF juga merilis sinopsis singkat film ini.
Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang menceritakan tentang dua orang wartawan Manto (dimainkan oleh Achmad Muslih Navis) dan Wawan (dimainkan oleh Daniel Inran) yang mendapat tugas ke desa untuk membuat sebuah film dokumenter. Desa tersebut dipilih karena terkenal dengan adanya keluarga pemuja setan, sehingga desa tersebut cukup berhantu. Mereka merekam aktivitas dan setiap kegiatan disana untuk mendapatkan data-data, dan seiring berjalan waktu malapetaka muncul ketika Usman (seorang pendatang yang diperankan oleh Mustaqiem) mengumandangkan adzan di desa tersebut.
Diceritakan David Richard, yang merupakan sutradara sekaligus produser kepada Prokal.co. Film ini datang dari pengalaman pribadinya. Tercetusnya ide untuk film ini membuat David kilas balik saat dirinya bertugas sebagai Jurnalis media elektronik. Kala itu adalah hari Jumat, David liputan kegiatan sunatan massal bersama majelis di suatu desa Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Seusai liputan, David menunaikan ibadah salat Jumat di masjid. Saat itu, ceramah diisi oleh almarhum Ustaz Untung. Dalam ceramahnya, ustaz Untung menceritakan tentang wajibnya rumah ibadah umat muslim, seperti masjid dan langgar untuk diadzankan dan disholatkan setiap lima kali sehari. Saat itu, ustaz Untung juga menceritakan pengalamannya saat muda, dimana ia dihubungi seorang laki-laki untuk pergi ke desanya.
Desa yang dipercayai sudah tidak bertuhan, penuh fitnah dan selalu disangkutkan dengan hal mistis. Dimana, arwah istri laki-laki tersebut diduga gentayangan mengganggu warga. Bahkan, diduga sebagai pemuja setan. Kemudian ustaz Untung bertanya kepada laki-laki tersebut. Apakah masjid desanya sering disholatkan dan diadzankan? Kemudian lelaki itu menjawab bahwa adzan berkumandang hanya saat maghrib. Di saat itu ustaz Untung membalas, bagaimana tidak ada fitnah dan segala macam. Iblis sudah membuat tempat ibadah warga menjadi rumahnya juga.
“Disitu saya merinding dan berpikir, gimana kalau adzan itu sudah tidak ada. Dari situ lah film ini terinspirasi,” ungkap David sembari menceritakan kembali pengalamannya via telepon, Kamis (21/3).
Murni Karya dan Penuh Kolaborasi
Diungkapkan David, mulainya produksi film Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang berangkat dari permintaan tiga juniornya di Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tiga juniornya ingin mengerjakan tugas akhir mereka dalam program studi film dan televisi, yakni editor, tata suara serta penata gambar. Saat itu, David mengatakan pembuatan film memiliki lika-liku tersendiri baginya.
Ia mengaku, saat mendapat ide untuk film ini, ia segera menyusun naskahnya. Namun, ia juga tidak menampik bahwa pembuatan film horor akan memakan biaya banyak. Oleh karena itu, ia mengerjakannya dengan pelan-pelan, dan menunggu ada kesempatan untuk menggarapnya. Saat naskah hampir rampung pada tahun 2022, ketiga junior David meminta bantuannya. Saat itu ia menawarkan beberapa skrip, dan akhirnya mendarat di film horor pertama EBF ini.
“Setelah bagian akademik kami rampungkan, naskah sudah fiks. Baru kami panggil teman-teman untuk memulai produksi film ini. Jadi secara keseluruhan, mulai pra hingga pasca produksi, pembuatan film ini sekitar empat tahunan. Syuting hanya 10 hari, pasca produksinya yang lama,” imbuhnya.
David menegaskan bahwa film ini murni karya komunitas film, tidak ada mengejar keuntungan. Sebanyak 100 orang terlibat dalam produksinya. Ratusan orang ini memiliki satu kesamaan. Yakni sesama putra-putri Bumi Etam. David mengungkapkan ratusan orang ini memiliki tugasnya masing-masing. Mulai dari produksi, pemeran, tata suara, editing, sampai dengan visual effect. Beberapa pemeran sendiri merupakan aktor festival film, aktor senior hingga pelakon teater.
Dukungan beberapa pihak berperan sangat penting dalam mewujudkan film ini berangkat ke layar lebar. Berperan sebagai sponsor, ada 29 UMKM yang bergerak di bidang kuliner, serta 14 perusahaan dari berbagai bidang yang membantu teknis dan properti produksi film ini. Karena untuk kepentingan akademik, awalnya pembiayaan hanya menggunakan dana junior David. Namun, karena tidak mencukupi, sponsor ini hadir membantu East Borneo Film mewujudkan Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang.
“Karena kekurangan itu kami berusaha mencari jalan keluar. Dan Alhamdulillah teman-teman UMKM dan beberapa bisnis lainnya ikut membantu properti dan teknis,” tegas David.
Kental Akan Kutai Kartanegara
Jika di luar negeri terdapat film-film horor terkemuka seperti Cloverfield, The Blair Witch Project dan The Medium. Maka Kutai Kartanegara memiliki Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang. Sebagai seorang putra daerah, David mengambil konsep film horor found footage layaknya sebuah dokumentasi. Kemudian memadukannya dengan kearifan lokal Kukar. Tiga titik menjadi lokasi syuting, semuanya di Kukar. Yakni Waduk Panji Tenggarong, Desa Loa Raya Tenggarong Seberang dan Desa Kedang Ipil Kota Bangun Darat.
Film ini merupakan karya kesekian David bersama EBF, sebelumnya ia telah membuat Ranam – Looking For Land, Guru Beru dan La Tukad’djib. Ketiga film ini diproduksi dengan bahasa Kutai, dan kental dengan budaya Kutai Kartanegara. Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang juga memadukan budaya Kutai, untuk bahasa di film, David menggunakan bahasa Indonesia, namun logat Kutai. Syuting 10 hari di hutan-hutan Kukar juga menjadi tantangan bagi tim produksi.
Mulai dari keperluan alat syuting, penerangan yang minim serta kondisi lapangan. Beberapa kejadian mistis disebut David terjadi selama syuting. Seperti di Loa Raya, penerangan elektronik terganggu dengan sendirinya. Dan di Kedang Ipil, beberapa kru mengaku melihat kuburan di malam hari. Dan di siang harinya, kuburan tersebut tidak ada lagi.
“Kita kadang syuting dari malam sampai pagi. Tapi kami ambil positif dan jangan takut, kami bisa saling jaga karena ramai,” tutur David.
Batu Loncatan Industri Film Lokal
Ketika Adzan Sudah Tidak Lagi Berkumandang saat ini belum memiliki jadwal pasti untuk penayangan. Karena saat ini masih jadi kebutuhan akademis tugas akhir mahasiswa ISI Yogyakarta. Namun, tim David berencana menayangkan film ini di CGV Plaza Mulia Samarinda. Durasi akademiknya saat ini sekitar 45 sampai 50 menit. Dan jika tidak ada halangan, juniornya berencana menayangkannya setelah Hari Raya Idulfitri. Film horor ini juga disebutnya sebagai batu loncatan.
Ia berencana untuk menggarap ulang film ini secara profesional dan bisa dikomersilkan di bioskop seluruh Indonesia. Untuk itu, ia menganggap film ini sebagai pengantar. Meski masih non profit, ia berharap, setelah penayangan akan ada seseorang yang tergerak untuk berinvestasi. Dan David juga harap investor tersebut merupakan orang lokal. Sehingga, perputaran ekonomi tidak berjalan di luar Kaltim, namun dari dalam. Dan keuntungan tersebut dapat dirasakan lokal.
Sebagai putra asli Tenggarong dan juga alumnus Fakultas Seni Media Rekam jurusan film dan televisi ISI Yogyakarta. David sudah memiliki rekam jejaknya di industri perfilman lokal sebagai sineas muda. Dengan rumah produksi East Borneo Film, ia mendorong agar pemuda Kaltim yang memiliki minat di industri ini tidak berhenti berkarya. Jangan menunggu pemerintah atau investor, namun tetap berkarya dengan konsisten.
“Tetap lah berkarya, walaupun sekarang belum dilirik siapapun. Jika ada keinginan berkreasi, jangan diihilangkan. Konsisten saja. Karena itu yang dilihat orang saat kita berkarya,” pinta David mengakhiri. (moe)
Editor : Indra Zakaria