CARACAS – Suasana mencekam menyelimuti ibu kota Venezuela, Caracas, setelah pemerintah mengerahkan milisi bersenjata untuk menguasai jalan-jalan protokol. Langkah drastis ini diambil sebagai upaya rezim untuk mempertahankan kendali kekuasaan menyusul serangan mendadak Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Kelompok paramiliter yang dikenal sebagai colectivos kini terlihat mendominasi ruang publik dengan melakukan patroli menggunakan sepeda motor dan senapan serbu.
Di berbagai sudut kota, milisi bersenjata mendirikan pos pemeriksaan ketat yang memicu ketakutan luar biasa di kalangan warga sipil. Mereka tidak hanya menghentikan kendaraan, tetapi juga memaksa warga membuka ponsel untuk diperiksa riwayat pesan dan aktivitas media sosialnya guna mencari indikasi dukungan terhadap intervensi Amerika Serikat. Warga melaporkan bahwa suasana kota diliputi kecemasan mendalam, di mana siapa pun yang dianggap berkhianat atau merayakan kejatuhan Maduro berisiko ditangkap seketika.
Presiden interim Delcy Rodriguez mencoba menampilkan citra stabilitas nasional dalam pidato televisinya, namun kegugupan pemerintah sulit disembunyikan. Meskipun Rodriguez menegaskan bahwa Venezuela tetap berdaulat dan menepis klaim Donald Trump mengenai kendali Washington atas negara tersebut, fakta di lapangan menunjukkan ketegangan yang rapuh. Insiden penembakan terhadap drone tak dikenal serta penahanan sejumlah jurnalis internasional pada awal pekan ini semakin mempertegas betapa sensitifnya situasi keamanan di pusat kekuasaan Venezuela.
Di balik upaya rezim menjaga kesetiaan, spekulasi mengenai perpecahan internal mulai menguat. Beberapa pejabat senior, termasuk Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, berada dalam posisi terdesak karena ancaman hukum dari Amerika Serikat yang terus membayangi mereka. Di sisi lain, tokoh oposisi Maria Corina Machado yang kini berada dalam pelarian, terus menyerukan transisi demokrasi dan berjanji akan segera kembali untuk mengambil alih kepemimpinan melalui pemilu yang adil.
Situasi geopolitik ini semakin rumit dengan adanya sinyalemen dari Washington yang menuntut akses istimewa bagi perusahaan minyak Amerika Serikat sebagai syarat normalisasi hubungan. Sementara itu, warga Caracas kini terpaksa hidup dalam aturan dekret darurat yang melarang segala bentuk perayaan politik. Bagi sebagian besar penduduk, aktivitas sehari-hari kini terasa seperti perjudian nyawa di tengah ketidakpastian antara tekanan milisi di jalanan dan blokade ekonomi yang kian mencekik kedaulatan negara Amerika Selatan tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria