Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

AS Kerahkan Ribuan Marinir dan Kapal Serbu Amfibi ke Timur Tengah, Perang Darat Segera Dimulai?

Redaksi Prokal • Sabtu, 21 Maret 2026 - 17:45 WIB

Marinir Amerika Serikat.
Marinir Amerika Serikat.

PROKAL.CO- Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah mengerahkan kapal serbu amfibi besar beserta ribuan personel Marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah upaya Washington untuk membuka paksa blokade Selat Hormuz yang telah ditutup oleh Iran selama hampir tiga minggu pasca serangan awal AS dan Israel. Penutupan jalur krusial yang mengangkut 20% pasokan minyak dunia ini telah memicu lonjakan harga minyak global hingga 50%.

Pengerahan pasukan ini bertepatan dengan momen Idulfitri dan Tahun Baru Persia (Nowruz), di mana pemimpin tertinggi baru Iran, Mujtaba Khamenei, merilis pesan pertama melalui saluran Telegramnya. Dalam pesan tersebut, ia menegaskan bahwa upaya musuh untuk menanamkan rasa takut melalui serangan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh—termasuk mendiang ayahnya—justru dijawab dengan "persatuan dan perlawanan" yang melumpuhkan dari rakyat Iran.

Di Washington, Presiden Donald Trump meluapkan kekesalannya melalui media sosial terhadap negara-negara sekutu yang enggan membantu operasi militer di Selat Hormuz. Trump menyebut mereka "penakut" (cowards) karena mengeluhkan tingginya harga minyak namun menolak berpartisipasi dalam manuver militer yang menurutnya "sederhana dan berisiko rendah." Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan bahwa pemilih di AS mulai menentang potensi operasi darat seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar domestik.

Situasi di lapangan terus memanas dengan laporan serangan drone terhadap kilang minyak Mina Al-Ahmadi di Kuwait dan serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut, termasuk Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Israel juga mengonfirmasi telah menargetkan fasilitas pemerintah di Teheran dan mengklaim pembunuhan sejumlah petinggi intelijen Iran. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa pemulihan aliran minyak dan gas dunia mungkin membutuhkan waktu hingga enam bulan, memicu kekhawatiran akan guncangan ekonomi global yang permanen.(*)

Editor : Indra Zakaria