Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dunia Bersatu Amankan Selat Hormuz: 20 Negara Siap Turun Tangan Redam Krisis Energi Global

Redaksi Prokal • Minggu, 22 Maret 2026 - 13:00 WIB

Kapal tangker di Selat Hormuz.
Kapal tangker di Selat Hormuz.

LONDON – Gelombang dukungan internasional untuk mengamankan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz terus menguat. Pemerintah Inggris mengumumkan bahwa kini sebanyak 20 negara telah menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan lalu lintas pelayaran di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Langkah kolektif ini menyusul pernyataan bersama yang sebelumnya dikeluarkan oleh enam negara pelopor, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang pada Kamis (19/3/2026).

Dalam pernyataan resminya, koalisi negara-negara tersebut menegaskan bahwa stabilitas Selat Hormuz adalah harga mati bagi ekonomi dunia. Gangguan pada rantai pasok energi di wilayah tersebut dinilai bukan lagi sekadar masalah regional, melainkan ancaman global.

"Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya," bunyi petikan pernyataan bersama tersebut, Sabtu (21/3/2026).

Keenam negara tersebut juga menyerukan adanya moratorium segera untuk mengakhiri serangan terhadap infrastruktur sipil. "Gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasok energi global merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan global," tegas mereka dalam dokumen tersebut.

Hanya dalam waktu singkat, kekuatan koalisi ini membengkak. Pada Sabtu ini, 14 negara baru resmi bergabung, termasuk Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, hingga negara-negara Nordik seperti Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Bergabungnya negara-negara seperti Republik Ceko dan Romania semakin mempertegas kekhawatiran masyarakat internasional terhadap krisis yang sedang berlangsung.

Dukungan masif ini muncul sebagai respons atas terhentinya total lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz. Jalur kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global tersebut lumpuh total akibat aksi saling balas antara kekuatan militer di kawasan tersebut.

Ketegangan memuncak dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang menghantam infrastruktur di Teheran dan memakan korban jiwa. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di seantero Timur Tengah. Akibat konflik terbuka ini, harga bahan bakar di berbagai belahan dunia melonjak tajam. Negara-negara koalisi kini mendesak penghentian serangan terhadap instalasi minyak dan gas untuk mencegah kehancuran ekonomi yang lebih dalam. (*)

Editor : Indra Zakaria