Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lumpuhnya Nadi Maritim Dunia: 1.900 Kapal Terjebak di Tengah Krisis Selat Hormuz

Indra Zakaria • Jumat, 27 Maret 2026 - 17:15 WIB

Kapal tangker di Selat Hormuz.
Kapal tangker di Selat Hormuz.

TEHERAN – Ketegangan hebat yang menyelimuti Timur Tengah pasca-serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu kini telah memicu krisis maritim skala besar yang melumpuhkan Selat Hormuz. Hingga akhir Maret 2026, dilaporkan sekitar 1.900 kapal komersial terjebak dalam ketidakpastian di kawasan Teluk Persia. Langkah Teheran yang secara efektif menutup jalur perairan paling strategis di dunia tersebut bagi entitas yang terafiliasi dengan negara penyerang telah menghentikan denyut lalu lintas laut secara total.

Situasi di lapangan menunjukkan pemandangan yang mencekam, di mana ribuan kapal terpaksa menjatuhkan jangkar di perairan terbuka karena tingginya risiko militer jika memaksakan diri melintas. Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa aturan di selat tersebut kini telah berubah secara permanen. Iran memberlakukan larangan melintas yang sangat ketat bagi kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel, sembari menegaskan bahwa situasi keamanan tidak akan kembali seperti sedia kala sebelum agresi berhenti sepenuhnya.

Dampak dari kebuntuan maritim ini mulai merambat ke sektor energi global dengan ancaman yang sangat nyata. Berdasarkan data dari perusahaan analisis Vortexa, diperkirakan ada sekitar 190 juta barel minyak mentah dan berbagai produk turunannya yang kini mengapung tanpa kejelasan di atas kapal-kapal tanker yang tertahan. Data dari MarineTraffic merinci bahwa armada yang terjepit ini tidak hanya terdiri dari 211 kapal tanker minyak mentah raksasa, tetapi juga ratusan kapal curah, kapal pengangkut bahan kimia, hingga kapal kontainer dan pengangkut gas (LPG) yang membawa pasokan vital bagi berbagai negara.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena Selat Hormuz secara normal merupakan jalur utama bagi 30 persen ekspor minyak global melalui laut. Raksasa pelayaran asal Jerman, Hapag-Lloyd, bahkan telah melaporkan bahwa setidaknya enam kapal mereka kini dalam kondisi lumpuh total di Teluk Persia. Penghentian arus logistik ini seketika mengguncang pasar pelayaran dunia yang ditandai dengan lonjakan tajam tarif angkutan. Direktur analisis maritim dari Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, mencatat bahwa Baltic Clean Tanker Index telah meroket hingga 78 persen per Maret 2026, mencerminkan kepanikan pasar global.

Krisis ini diperparah dengan membengkaknya biaya bahan bakar dan pengenaan biaya tambahan darurat oleh perusahaan-perusahaan pelayaran. Masalah menjadi kian pelik karena jalur darat yang ada saat ini tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menggantikan volume kargo laut yang luar biasa masif. Dengan terkuncinya sekitar 5,5 persen armada tanker dunia di Teluk Persia, para ahli memperingatkan bahwa jika penutupan selat ini berlangsung lebih lama, dunia akan menghadapi krisis rantai pasok global di titik yang paling kritis dalam sejarah modern.(*)

Editor : Indra Zakaria