Titik panas tersebut tersebar di Kabupaten Sambas sebanyak empat titik, Mempawah tujuh titik, Sanggau 16 titik, Ketapang 19 titik, Sintang tiga titik, Kapuas hulu tiga titik, Bengkayang 27 titik, Landak 12 titik, Sekadau empat titik, Kayong Utara empat titik, Melawi satu titik dan Kubu Raya dua titik.
Sementara Kota Pontianak dan Singkawang tidak terpantau titik panas.
Pada produk Himawari-8 EH menunjukkan suhu puncak awan yang didapat dari pengamatan radiasi pada panjang gelombang 10.4 mikrometer yang kemudian diklasifikasi dengan pewarnaan tertentu, dimana warna hitam atau biru menunjukkan tidak terdapat pembentukan awan yang banyak (cerah), sedangkan semakin dingin suhu puncak awan, dimana warna mendekati jingga hingga merah, menunjukan pertumbuhan awan yang signifikan dan berpotensi terbentuknya awan Cumulonimbus.
“Pada 22-28 Juli 2024 hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat masuk dalam kategori sangat mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan,” terangya. Titik panas itu pun mempengaruhi kualitas udara. Konsentrasi partikulat PM2.5 pada 20 Juli 2024 di pantauan Sungai Raya, Kubu Raya nilai maksimum harian PM2.5 sebesar 95.5 mikro gram per meter kubik.
Angka itu masuk dalam kategori tidak sehat pada pukul 20.00 WIB. Sementara nilai rata-rata harian ialah 28,3 mikro gram per meter kubik atau dalam kategori sedang. Data itu berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalbar. Deteksi Hotspot atau titik panas menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar (NOAA20, S-NPP, TERRA dan AQUA) memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan/lahan.
“Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan dengan sekitarnya. Observasi ini dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Pada daerah yang tertutup awan atau blank zone, hotspot di wilayah tersebut tidak dapat terdeteksi,” ungkap Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Pontianak, Sutikno dihubungi di Sungai Raya, Senin (22/7).
Kondisi cuaca selama 24 jam terakhir menunjukkan dominan berawan. Tetapi, terjadi hujan dengan intensitas ringan di sebagian wilayah kabupaten dan kota di Kalbar.
Citra Satelit Cuaca Infra Red Enhanced tanggal 22 Juli 2024 pukul 06.00 WIB menunjukkan bahwa tidak terdapat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Kalimantan Barat.
“Tetapi, untuk potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan selama satu minggu ke depan, wilayah Kalimantan Barat masuk dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar Daniel mengatakan Total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare.
Dalam beberapa minggu terakhir sudah ada dua kabupaten yang melaporkan kasus lahan terbakar, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu dan Kubu Raya.
Kasus terbakar di Kapuas Hulu hanya terjadi dalam beberapa jam.
Sementara di Kubu Raya petugas masih dalam proses pemadaman yakni di Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang.
“Dari 14 kabupaten dan kota per Senin (22/7) sudah ada tiga kabupaten yang menetapkan status ini, yaitu Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kayong Utara, dan Kabupaten Sambas. Kemudian SK ini, status siaga darurat bencana asap ini nanti akan diikuti dengan status siaga darurat bencana di tingkat provinsi Kalbar. Penetapan status itu menurutnya penting agar BPBD provinsi dalam memberikan dukungan personel dan sarana kepada pemerintah kabupaten,” terang Daniel di ruang kerjanya.
Daniel menjelaskan, titik panas yang terpantau tidak semuanya adalah kebakaran. Terbagi dalam tiga kategori, hanya sebanyak 10 titik yang masuk dalam kategori kepercayaan tinggi. Sepuluh titik itu tersebar di Sanggau satu titik, Ketapang 3 titik, Bengkayang 4 titik dan Landak ada dua titik.
“Nah yang 10 ini kita curigai api, karena tingkat kepercayaannya tinggi. Lalu kita sudah mendorong BPPD Kabupaten dan Kota untuk melakukan ground check. Kalau seandainya ini api dilakukan operasi pemadaman dan kalau bukan berarti amankan situasinya,” jelasnya. (mif)