Meski banyak persyaratan untuk bisa bepergian menggunakan angkutan pesawat di tengah pandemi Covid-19. Nyatanya, menjelang Hari Raya Idulfitri jumlah penumpang di Bandara Internasional Syamsudin Noor semakin padat. Hal itu menimbulkan pertanyaan, seberapa mudah melengkapi dokumen, sehingga banyak penumpang yang bisa tembus?
----
Untuk mendapatkan jawaban itu, wartawan Radar Banjarmasin, (19/5) mencoba mencaritahu bagaimana mudahnya melengkapi berkas persyaratan terbang di Bandara Internasional Syamsudin Noor, dengan cara berpura-pura menjadi calon penumpang.
Saat tiba di terminal keberangkatan bandara, wartawan koran ini bertemu dengan seorang pria berbadan tegap. Pria itu lantas bertanya terkait maksud kedatangan Radar Banjarmasin ke bandara. "Mau ke mana Mas. Berangkat ya?" tanyanya.
"Iya," jawab wartawan koran ini yang berpura-pura menjadi calon penumpang.
Pria berbadan tegap tersebut merupakan calo, dia menawarkan tiket ke wartawan koran ini yang disangkanya calon penumpang. "Mau terbang ke mana? Ini saya ada tiket. Kalau beli di lain, sudah habis dibooking orang," katanya.
"Mau tanya-tanya dulu Pak, bagaimana cara melengkapi berkasnya. Soalnya, banyak 'kan persyaratannya. Kalau sudah lengkap baru beli tiket," kata wartawan koran ini yang berpura-pura kesulitan melengkapi berkas persyaratan untuk terbang.
"Gampang," ujar calo tersebut. "Kalau sudah rapid test, tinggal minta surat pengantar ke kelurahan. Tapi kalau karyawan, minta surat tugas dari perusahaan. Kami juga bisa membantu mengurus berkasnya," tambahnya.
Wartawan koran ini lantas bertanya berapa harga tiket plus biaya pembuatan dokumen untuk tujuan ke Surabaya. "Kalau mau dua ribu (Rp2 juta). Sudah siap terbang. Tinggal melengkapi hasil rapid test. Kalau harga tiketnya saja Rp1,7 juta," kata calo itu.
Usai mendapatkan informasi dari calo, Radar Banjarmasin kemudian menanyai salah seorang penumpang bagaimana cara melengkapi dokumen sebagai syarat untuk terbang. Penumpang bernama Agus itu mengaku mendapatkan dokumen dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Semua lengkap diurus perusahaan. Termasuk rapid test dan tiket. Kami tinggal membawa badan," ungkapnya.
Agus sendiri berencana pulang kampung ke Brebes, Jawa Tengah bersama 14 teman lainnya. Mereka merupakan bekas karyawan di salah satu perusahaan bidang proyek bangunan di Tanjung. "Proyeknya sudah selesai. Jadi kami dipulangkan," ujar Agus.
Sementara itu, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banjarmasin, Ruslan Fajar mengaku tidak yakin ada calo yang bisa menguruskan dokumen para penumpang. "Karena di bandara itu pemeriksaan dokumen berlapis-lapis," bebernya.
Dia mengungkapkan, pemeriksaan dokumen sudah dilakukan saat penumpang akan memasuki ruang tahap pertama. "Di sana dokumen dicek petugas TNI dan Polri," ungkapnya.
Setelah itu, ketika sampai di ruang tahap pertama, dikatakan Ruslan, dokumen diperiksa lagi oleh Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19. "Dari sana. Penumpang lalu diperiksa KKP. Terkait kelengkapan surat keterangan kesehatan, seperti hasil rapid test atau PCR," ujarnya.
Hanya saja, dia menyampaikan, dalam memeriksa dokumen, tim tidak mengetahui apakah berkas milik penumpang asli atau tidak. "Karena susah untuk meng-cross chek keaslian dokumen," ucapnya.
Dia menambahkan, penumpang yang banyak berangkat saat ini sendiri paling banyak karyawan yang pulang ke kampung karena diputus kerja. "Ada juga, lantaran proyek atau kontrak kerjanya di perusahaan sudah habis," tambahnya.
Dijelaskannya, sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, orang yang diputus kerjanya, serta kontrak atau proyeknya sudah habis diperbolehkan untuk pulang ke kampung. "Tapi, harus dibuktikan dengan surat keterangan dari perusahaan bahwa mereka telah selesai bekerja," jelasnya.
Selain para karyawan yang masa kerjanya sudah habis, Ruslan menyampaikan syarat lain untuk bisa terbang ialah karyawan yang ditugaskan oleh atasannya untuk melakukan pekerjaan di luar Kalsel. "Kalau ini, syaratnya harus menunjukkan surat tugas dari kantor," ucapnya.
Lalu, bagi masyarakat yang tidak ada urusan pekerjaan, boleh terbang hanya bagi orang yang anggota keluarga intinya (orangtua, suami/istri, anak dan saudara kandung) sakit keras atau meninggal dunia. "Ini juga harus ada surat keterangan bahwa keluarganya sakit atau meninggal dunia," kata Ruslan.
Kepala Komunikasi dan Legal Bandara Internasional Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria hanya menjawab singkat. "Tanya yang bikin aturan lah Mas," singkatnya.
Dia juga enggan buka-bukaan terkait rata-rata trafik penumpang di bandara saat ini. "Tidak mesti (berapa) Mas. Paling, tidak sampai 200 orang per harinya," paparnya.
Sebelumnya, Area Manager Lion Air Banjarmasin Agung Purnama mengaku dalam beberapa hari terakhir penumpang yang mereka layani mengalami peningkatan dibandingkan awal-awal kembali beroperasinya penerbangan orang. "Meningkat sekitar 15 persen. Sekarang setiap penerbangan rata-rata diisi oleh 100 penumpang," bebernya.
Lion Air sendiri saat ini hanya melayani dua rute penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, yakni ke Jakarta dan Surabaya. "Kami prediksi sampai akhir bulan Mei, penumpang masih mengalami kenaikan," pungkasnya. (ris/ran/ema)
Editor : izak-Indra Zakaria