Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bisa Tidur di Tempat Tes AKM

berry-Beri Mardiansyah • 2021-10-06 12:16:18
TES DAN NGINAP: Tidak hanya sebagai tempat tes AKM, rumah Hadi Purwandi jadi tempat menginap siswa. Semua membaur layaknya keluarga. | Foto: Ahmad Mubarak / Radar Banjarmasin
TES DAN NGINAP: Tidak hanya sebagai tempat tes AKM, rumah Hadi Purwandi jadi tempat menginap siswa. Semua membaur layaknya keluarga. | Foto: Ahmad Mubarak / Radar Banjarmasin

MARABAHAN - Kepala Sekolah SMPN 3 Bakumpai, Hadi Purwandi, menyediakan tempat menginap gratis sekaligus tempat tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) bagi siswa-siswinya.

Hal itu dilakukan dengan alasan SMPN 3 Bakumpai terletak di Desa Balukung Kecamatan Bakumpai. Desa tersebut sangat terpencil. Untuk menuju sekolah itu, membutuhkan waktu sekira 2 jam perjalanan sungai atau darat. Untuk perjalanan darat bisa ditempuh apabila jalan kering. Saat jalan terkena hujan, berisiko terjatuh atau tidak bisa melanjutkan perjalanan. "Menggunakan sepeda motor sejauh 30 Km," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (05/10).

Selain itu, pastinya soal sinyal internet. Sinyal di sana, naik-turun. Bahkan bisa hilang sama sekali.

Untuk itu, sebanyak 11 orang siswanya yang mengikuti tes AKM terpaksa diinapkan di rumahnya.

AKM yang diselenggarakan secara online, membuat pihaknya tidak bisa menyelenggarakan di sekolah. Sehingga pihaknya memutuskan untuk melakukannya di Marabahan. Tepatnya di Rumah Hadi sendiri. "Karena AKM diselenggarakan dua hari, siswa kelas VIII yang berjumlah 11 orang, dibawa untuk nginap di rumah saya," ujarnya sembari mengatakan hari ini (05/10) hari terakhir AKM dan semua siswa diantar pulang ke desanya.

Untuk mengantar siswanya, pihaknya menggunakan perahu kelotok. Sama seperti penjemputan sebelumnya, akan diantar ke rumah masing-masing yang berada di Desa Balukung.

Selama mengikuti AKM di rumahnya, Hadi dan keluarga merasa tidak terganggu. Sedangkan untuk AKM, pihaknya dibantu guru-guru lainnya. "Mereka (siswa) juga dipantau guru-guru SMPN 3 Bakumpai, silih berganti menjaga anak-anak," ujarnya.

Saat masuk ke dalam rumah, anak-anak terlihat bebas di rumah Hadi. Dari belajar di depan rumah, kamar tamu, hingga tempat tidur. Semua dilakukan tanpa rasa canggung. Bahkan di saat lelah atau jam istirahat menunggu giliran AKM, siswa-siswi itu terlihat berbaring di kasur yang disediakan. Tidak hanya itu, kekeluargaan sangat terasa saat mereka bersama guru lainnya. Dari makan hingga ngemil sekalipun, mereka lakukan bersama.

Pada malam hari, dirinya harus mengawasi anak-anak. Tidak boleh keluar rumah. Dan tentunya harus berbagi tempat tidur. Untuk murid laki diberikan satu kamar, dipisah dengan murid perempuan. Murit perempuan tidur di kamar lain. Tepatnya masih satu ruangan dengan ruangan AKM yang akan diselenggarakan. "takut mereka keluyuran dan hilang, jadi dilarang keluar rumah," ujarnya.

Walaupun demikian, karena ada sebagian siswanya yang jarang ke Marabahan, dan ingin jalan-jalan. Dirinya membawa anak-anak untuk nongkrong di kafe yang tidak jauh dari rumahnya. Hanya saja, semuanya tetap dipantau olehnya. "Mereka mjnta santai, jadi malam saya ajak ke kafe, tapi tetap saya temani dan pantau.

Apakah keluarga terganggu? Tidak terganggu, malah senang, itu yang terucap dari Hadi. Lelaki murah senyum ini mengaku keluarga mendukung penuh. Bahkan sudah terbiasa. Maklum saja, dirinya dan istrinya, sebelum pandemi melanda, mengadakan kursus belajar di rumah. "Keluarga sudah terbiasa dengan orang banyak, apalagi si kecil, sangat senang banyak teman bermain.

Hal senada juga disampaikan Lidya, sebagi guru kelas, mereka juga ikut membantu anak-anak mengikuti AKM. Selain menyiapkan makanan, mereka juga memberikan materi pembelajaran di saat waktu luang. Serta memberikan semangat kepada  muridnya. "Dari pagi sampai sore hari, kami ikut menemani mereka. Tapi untuk malam, semua diawasi kepala sekolah kami," ujarnya.

Melcy, salah satu siswi SMPN 3 Bakumpai yang mengikuti AKM ini, mengaku senang. Bisa kumpul bersama teman-teman. Menginap di rumah Kepala sekolah. Serta bisa menikmati jaringan internet tanpa lelet. "Di kampung, jaringan sangat lelet, di sini lancar. Kami juga bisa nongkrong santai di kafe," ujarnya sembari mengungkapkan baru pertama bisa nongkrong di kafe bersama teman-temannya.(bar)

Editor : berry-Beri Mardiansyah
#Banua Pendidikan