Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bawaslu Pantau Gerak-Gerik Prabowo di Haul

berry-Beri Mardiansyah • Minggu, 10 Maret 2019 - 18:28 WIB

BANJARMASIN - Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto direncanakan menghadiri Haul Akbar Guru Sekumpul ke-14. Sedangkan sang rival, capres nomor urut 01, Joko Widodo dipastikan absen. Seberapa penting kehadiran itu bagi masyarakat Kalsel? Apakah memang berpengaruh terhadap elektabilitas capres?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, dosen politik FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Gazali Rahman lebih dulu menganalisis posisi kedua capres di mata jemaah haul. Dia merasakan perbedaan yang kentara.

Gazali melihat Jokowi telah belajar dari pengalaman haul tahun 2018. Kala itu, kunjungan Jokowi ke Martapura justru menjadi blunder. Protokol keamanan kepresidenan dianggap menyusahkan jemaah. "Sekalipun kunjungan kepala negara, tak bisa dilepaskan dari aroma politik. Akhirnya yang muncul malah komentar negatif," ujarnya, kemarin (9/3).

Dia ingat, selama belasan tahun haul digelar, belum pernah Sekumpul diguyur hujan deras. "Secara kebetulan, ketika Jokowi datang, malah turun hujan. Segelintir orang lalu coba mengait-ngaitkan. Seolah-olah hujan itu pertanda," terangnya.

Tentu saja, tak masuk akal mengaitkan antara cuaca buruk dan Jokowi. Gazali hanya memberikan contoh. Bagi pemilih awam dan tradisional, awan mendung dan hujan pun bisa diributkan.

Pada sisi lain, kehadiran Prabowo dipandang lumrah. Terlepas dari latar belakang militernya, Prabowo dianggap tokoh yang mesra dengan ulama. Contoh, Prabowo secara blak-blakan mendukung reuni gerakan 212. "Maka kabar kedatangan Prabowo dalam haul pun terdengar tak aneh," tukasnya.

Namun, bukan berarti Prabowo sudah memenangi hati jemaah haul. Takkan semudah itu. Peran tim pemenangan bakal krusial. "Kuncinya adalah kemasan. Jika kunjungan Prabowo dikemas secara apik, maka elektabilitasnya di Kalsel bakal naik," jaminnya.

Kemasan yang ia maksud, Prabowo mesti datang tanpa pengamanan berlebihan. Membaur seperti jemaah kebanyakan. Tak menuntut fasilitas istimewa dari panitia, sekalipun menyandang status kontestan Pilpres.

Hindari aksi-aksi politik selama berada di Sekumpul. "Karena jemaah menginginkan haulnya tetap khusyuk. Jika tidak, yang terjadi justru sebaliknya, elektabilitas Prabowo bakal anjlok. Jadi timses harus sangat berhati-hati," tegasnya.

Tapi Gazali tak ingin menyatakan kesempatan Jokowi telah habis. Masih ada kesempatan bagi kubu 01 untuk memanfaatkan momen haul. Secara fisik, Jokowi boleh saja tak berhadir. Tapi secara simbol, sosoknya masih bisa dirasakan.

Permainan simbol bisa diperankan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor dan Bupati Banjar, KH Khalilurrahman. Sebagai kepala daerah yang tergabung dalam barisan pendukung capres petahana. "Pertanyaannya, bisakah gubernur dan bupati memainkan simbol-simbol itu," tukasnya.

Sementara itu, dosen sosiologi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Antasari, Aulia Aziza merasa sangsi. Bahwa kehadiran haul akan mendongkrak elektabilitas capres. Karena sorotan jemaah takkan teralihkan dari KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani.

Secara karakter, masyarakat Banjar sangat menghormati ulama. Dan haul adalah ajang menunjukkan rasa kecintaan dan kerinduan itu. "Bahkan, mereka mendatangi haul dengan keyakinan bakal kembali berkumpul bersama abah guru di surga," ujarnya.

IntinYa, Prabowo jangan berharap lebih. "Siapapun yang hadir, Prabowo atau Jokowi, tetap dipandang sebagai tamu biasa oleh jemaah. Tidak istimewa, apalagi sampai mempengaruhi elektabilitas capres," tambah peneliti masyarakat Banjar tersebut.

Aulia mengambil contoh kunjungan Jokowi setahun silam. "Kehadiran Jokowi ternyata toh tak terlalu mewarnai acara. Jemaah tetap fokus pada kebahagiaan merayakan haul. Kharisma abah guru takkan tergantikan," tegasnya.

Jadi, apakah kunjungan Prabowo bakal sia-sia? Aulia tak ingin terdengar sesarkas itu. Setidaknya, Prabowo akan memperoleh apresiasi dari jemaah. "Dalam kacamata sosiologi agama, ibadah atau ritual bersama-sama akan melahirkan rasa solidaritas. Contoh, salat sendirian di rumah atau salat berjemaah di masjid, jelas nilainya berbeda," pungkasnya. 

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) harus bekerja ekstra keras selama Haul Akbar Guru Sekumpul. Bukan hanya gerak-gerik calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang diawasi, tapi juga parpol dan caleg di Kalsel.

"Haul adalah acara yang sakral. Jangan sampai didomplengi kampanye. Baik parpol, caleg, maupun capres. Andaikan terjadi hal terlarang selama haul, pengawas akan bergerak untuk mencegah," kata Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kalsel, Aris Mardiono, kemarin (9/3).

Ada banyak yang harus diawasi. Misalkan pemasangan alat peraga kampanye dan pembagian bahan kampanye di sekitar kawasan haul. "Ada ratusan ribu jemaah yang datang. Gaungnya besar. Maka wajar muncul kekhawatiran acara keagamaan ini dimanfaatkan untuk ajang berkampanye," imbuhnya.

Aris mengingatkan, dilarang keras berkampanye di tempat ibadah. Sesuai yang sudah digariskan Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. "Cek saja Pasal 280. Semuanya tergolong tindak pidana pemilu," tegasnya.

Perihal teknis pengawasan di lapangan nanti, Aris memastikan akan terus berkoordinasi dengan panitia haul. Sekalipun dia meyakini, takkan ada pelanggaran mencolok. "Saya yakin, polisi pun takkan mengeluarkan izin kegiatan jika ada gelagat berkampanye di kawasan Sekumpul," ujarnya.

Aris lantas mengucapkan terima kasih kepada panitia haul. Karena jauh-jauh hari, komisioner Bawaslu Kabupaten Banjar dan Bawaslu Banjarbaru selalu diajak berembuk. "Pelibatan dalam persiapan haul ini sangat membantu Bawaslu," pungkasnya.

Senada dengan pernyataan Ketua Bawaslu Kalsel, Iwan Setiawan. "Pengawasan kami bakal melekat pada capres 02. Ingat juga peraturan panitia haul. Dalam radius empat kilometer dari lokasi Sekumpul, harus steril dari alat peraga kampanye," ujarnya. 

 

Kuncinya Adalah Kemasan Kunjungan

 

 

Dosen politik FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Gazali Rahman lebih menganalisis posisi kedua capres di mata jemaah haul. Dia merasakan perbedaan yang kentara.  Gazali melihat Jokowi telah belajar dari pengalaman haul tahun 2018. Kala itu, kunjungan Jokowi ke Martapura justru menjadi blunder. Protokol keamanan kepresidenan dianggap menyusahkan jemaah. "Sekalipun kunjungan kepala negara, tak bisa dilepaskan dari aroma politik. Akhirnya yang muncul malah komentar negatif," ujarnya, kemarin (9/3).

 

Dia ingat, selama belasan tahun haul digelar, belum pernah Sekumpul diguyur hujan deras. "Secara kebetulan, ketika Jokowi datang, malah turun hujan. Segelintir orang lalu coba mengait-ngaitkan. Seolah-olah hujan itu pertanda," terangnya.

 

Tentu saja, tak masuk akal mengaitkan antara cuaca buruk dan Jokowi. Gazali hanya memberikan contoh. Bagi pemilih awam dan tradisional, awan mendung dan hujan pun bisa diributkan.

 

Pada sisi lain, kehadiran Prabowo dipandang lumrah. Terlepas dari latar belakang militernya, Prabowo dianggap tokoh yang mesra dengan ulama. Contoh, Prabowo secara blak-blakan mendukung reuni gerakan 212. "Maka kabar kedatangan Prabowo dalam haul pun terdengar tak aneh," tukasnya.

 

Namun, bukan berarti Prabowo sudah memenangi hati jemaah haul. Takkan semudah itu. Peran tim pemenangan bakal krusial. "Kuncinya adalah kemasan. Jika kunjungan Prabowo dikemas secara apik, maka elektabilitasnya di Kalsel bakal naik," jaminnya.

 

Kemasan yang ia maksud, Prabowo mesti datang tanpa pengamanan berlebihan. Membaur seperti jemaah kebanyakan. Tak menuntut fasilitas istimewa dari panitia, sekalipun menyandang status kontestan Pilpres.

 

Hindari aksi-aksi politik selama berada di Sekumpul. "Karena jemaah menginginkan haulnya tetap khusyuk. Jika tidak, yang terjadi justru sebaliknya, elektabilitas Prabowo bakal anjlok. Jadi timses harus sangat berhati-hati," tegasnya.

 

Tapi Gazali tak ingin menyatakan kesempatan Jokowi telah habis. Masih ada kesempatan bagi kubu 01 untuk memanfaatkan momen haul. Secara fisik, Jokowi boleh saja tak berhadir. Tapi secara simbol, sosoknya masih bisa dirasakan.

 

Permainan simbol bisa diperankan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor dan Bupati Banjar, KH Khalilurrahman. Sebagai kepala daerah yang tergabung dalam barisan pendukung capres petahana. "Pertanyaannya, bisakah gubernur dan bupati memainkan simbol-simbol itu," tukasnya.

 

Sementara itu, dosen sosiologi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Antasari, Aulia Aziza merasa sangsi. Bahwa kehadiran haul akan mendongkrak elektabilitas capres. Karena sorotan jemaah takkan teralihkan dari KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani.

 

Secara karakter, masyarakat Banjar sangat menghormati ulama. Dan haul adalah ajang menunjukkan rasa kecintaan dan kerinduan itu. "Bahkan, mereka mendatangi haul dengan keyakinan bakal kembali berkumpul bersama abah guru di surga," ujarnya.

 

Intinya, Prabowo jangan berharap lebih. "Siapapun yang hadir, Prabowo atau Jokowi, tetap dipandang sebagai tamu biasa oleh jemaah. Tidak istimewa, apalagi sampai mempengaruhi elektabilitas capres," tambah peneliti masyarakat Banjar tersebut.

 

Aulia mengambil contoh kunjungan Jokowi setahun silam. "Kehadiran Jokowi ternyata toh tak terlalu mewarnai acara. Jemaah tetap fokus pada kebahagiaan merayakan haul. Kharisma abah guru takkan tergantikan," tegasnya.

 

Jadi, apakah kunjungan Prabowo bakal sia-sia? Aulia tak ingin terdengar sesarkas itu. Setidaknya, Prabowo akan memperoleh apresiasi dari jemaah. "Dalam kacamata sosiologi agama, ibadah atau ritual bersama-sama akan melahirkan rasa solidaritas. Contoh, salat sendirian di rumah atau salat berjemaah di masjid, jelas nilainya berbeda," pungkasnya.(fud/ran/ema)

Editor : berry-Beri Mardiansyah
#Banua Haul Guru Sekumpul ke-14 #Banua Politik Pilpres 2019 #haul guru sekumpul #Banua Politik #pilpres