TANJUNG – Rutin mengirimkan mahasiswa belajar ke China membuat Pemkab Tabalong turut direpotkan. Pasalnya masih ada 13 mahasiswa asal Tabalong yang belum dipulangkan dari negeri yang sedang direpotkan wabah corona itu.
Lalu mengapa mereka belum dipulangkan?
Sekretaris Daerah Tabalong H Abdul Mutalib Sangadji mengatakan, mahasiswa yang tidak terpantau itu dikarenakan kuliah dengan biaya sendiri atau diberangkatkan yayasan lain. “Tiga belas orang tidak terpantau karena keberangkatan mandiri,” ujarnya.
Ia mencatat, ada sebanyak 28 mahasiswa Tabalong telah berada di tanah air. Enam diantaranya masih dalam menjalani proses karantina di Natuna, Kabupaten Riau, Sumatera Tengah. “Semuanya sehat-sehat saja,” katanya.
Pemkab Tabalong sendiri mendata total mahasiswa yang berada di China sebanyak 44 orang. Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Tabalong pun selalu memberi perhatian ke mereka, meski hanya melalui telepon genggam. Selain juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat, agar para mahasiswa bisa aman sampai kampung halaman.
Selama ini Pemkab Tabalong memang rutin mengirimkan pelajar untuk kuliah di China. Kebijakan beasiswa ini adalah hasil kerjasama dengan perusahaan China di Tabalong. Mahasiswa Tabalong yang masih berada di China rata-rata belajar di Nanjing Polytechnic Institute di Nianjing.
Muhammad Aminuddin yang dihubungi Radar Banjarmasin melalui jaringan online mengatakan saat ini kondisinya dalam keadaan sehat. Kebutuhan pokok untuk kehidupan sehari-hari pun masih aman dan bisa dipenuhi.
Walau demikian, dia diminta oleh kampus untuk terus memakai masker. Masker hanya bisa diperoleh dengan membeli ke sejumlah pertokoan yang masih buka, meski memang sangat sulit didapatkan.
“Sampai saat ini saya belum ada niat untuk kembali ke Indonesia, karena di Nanjing dinilai masih aman,” ujarnya.
Orang tuanya sendiri sangat kuatir dan menginginkan dirinya pulang. Tapi dirinya selalu meyakinkan, jika kondisinya aman dan tidak ada masalah. Aminuddin mengatakan dia bersama sembilan mahasiswa asal Indonesia lainnya yang masih tinggal di Nanjing. Tiga diantaranya adalah mahasiswa asal Tabalong.
Mahasiswa China asal Tabalong yang sudah berhasil pulang ke rumah adalah Fadel. Ia mengaku baik-baik saja, tanpa merasa gejala sakit sama sekali. Dia tiba di rumah tiba pada 2 Februari 2019 lalu.
“Saya pulang dari China tanggal 31 Januari pukul 12.00 tengah malam,” jelasnya. Diperjalanan pulangnya, setidaknya ada empat kali proses pemeriksaan kesehatan yang dijalani, termasuk di Shanghai oleh otoritas bandara setempat.
Kepulangan Fadel dikarenakan dirinya libur kuliah di musim dingin. Dia bersekolah di sana dengan biaya mandiri, tidak ada bantuan dari pemerintah. Sesuai jadwal perguruan tingginya, diberi waktu hingga 17 Februari mendatang. Namun, ternyata diinformasikan kembali hingga 2 Maret.
“Kalau semua sudah bisa dikendalikan saya kembali tidak apa-apa,” kata warga di Kampung Baru, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong ini.
Fadel bercerita, tempat perkuliahannya di Jiangsu, yang berjarak tujuh jam perjalanan dari Wuhan, lokasi yang dinyatakan paling banyak terjangkit virus Corona. Di sana semua pertokoan tutup, tidak ada yang buka. “Banyak orang pulang ke kampung halaman, jadi sepi,” ceritanya.
Meski demikian, kebutuhan makanan terbilang aman. Hanya saja diwajibkan terus menggunakan masker. Masker tersebut diperoleh dari pengelola asrama, dengan jatah satu masker satu hari untuk satu orang mahasiswa.
“Untuk keluar kampus dibatasi. Harus pakai surat izin dan mendapatkan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Pulang dari luar kampus juga harus diperiksa kembali,” terangnya.
Kondisi aman di Jiangsu diyakininya tetap akan kondusif. Meski kabar terbaru yang diterimanya, daerah tersebut sudah ada delapan orang terjangkit virus Corona. “Saya tetap akan kembali ke kampus tegasnya, tapi tetap harus mengikuti perkembangan berita,” cetusnya.
Ani, orang tua Fadel juga merasa yakin semua akan baik-baik saja. “Menurut saya tidak masalah kalau Fadel kembali ke kampus di China,” katanya. Keyakinan itu lantaran, banyak saja mahasiswa Tabalong yang berkuliah di sana dan nyatanya tetap baik-baik saja. Pemerintah pun juga memberi perhatian. Penyebaran virus Corona disampaikannya akan hilang ketika musim dingin telah berakhir.
Dia mengatakan ketika Fadel baru tiba di rumah, tidak ada sesuatu yang menunjukkan gejala penyakit. Sehat-sehat saja. Pemeriksaan kesehatan pun tidak dilakukan kembali. “Karena saya yakin, dia sudah menjalani empat kali pemeriksaan kesehatan di bandara. Semuanya lulus,” tegasnya.
Dua Rumah Sakit Disiagakan
SEMENTARA ITU, meski saat ini tak ada terindikasi virus Corona masuk ke Kalsel, namun, dua rumah sakit umum daerah (RSUD) milik Pemprov Kalsel sudah menyiagakan ruangan khusus jika ada yang terpapar dengan virus ini.
RSUD Ulin Banjarmasin misalnya sudah menyiapkan ruangan isolasi yang siap ditempati pasien yang terindikasi virus Corona. Tak tanggung-tanggung, ruang isolasi yang disiapkan ada delapan kamar.
Direktur Utama RSUD Ulin Banjarmasin Suciati mengungkapkan, sejak virus ini merebak di China, pihaknya sudah menyiapkan antisipasi termasuk fasilitas jika sampai ada pasien di Kalsel. “Dari SDM hingga sarana sudah disiapkan. Mudah-mudahan jangan sampai ke Kalsel,” harap Suci.
Sebagai rumah sakit rujukan di Kalsel, RSUD Ulin Banjarmasin memang harus bersiap. Hal ini agar menghindari virus ini tak mewabah di Banua. “Saya sudah sampaikan kepada staf, agar bersiaga jika ada pasien yang memiliki gejala. Tapi syukurnya sampai hari ini tak ada,” imbuhnya.
Tak hanya di RSUD Ulin, kesiapsiagaan juga sudah dilakukan sejak dini oleh RSUD Dr H Moch Ansari Saleh Banjarmasin. “Semua petugas termasuk perawat sudah disosialisasikan SOP penanganan virus Corona,” terang Direktur Utama RSUD Dr H Moch Ansari Saleh Banjarmasin, Izaak Zoelkarnaen kemarin.
Dia mengatakan, sudah menyiapkan SDM yang terlatih ketika ada pasien terindikasi suspect virus ini. Disebutkannya seperti disiapkannya dokter paru yang siap sedia ketika ada pasien.
Selain itu, ruangan isolasi pun sudah disiapkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Ruangan yang disiapkan ada dua. Satu di gedung perawatan. Satunya lagi di IGD. “Kami juga baru beli pakaian atau alat pelindung diri (APD) untuk perawatannya,” ujar Izaak.
Terpisah Kadinkes Kalsel, Muslim menerangkan pihaknya sudah siap siaga mengantisifasi suspect virus ini di Kalsel. . “Semua sudah disiagakan. Kami mengharapkan, warga tetap tenang dan yang paling utama adalah, agar terus menjaga kesehatan,” kata Muslim. (ibn/mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin