Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kala Pembelajaran Jarak Jauh Sulitkan Siswa Pelosok; Berburu Batangan Sinyal, Bangun Antena Sendiri

miminradar-Radar Banjarmasin • Selasa, 4 Agustus 2020 - 19:27 WIB
PEMBURU SINYAL: Sejumlah anak di Desa Liyu berkumpul di satu titik desa demi sinyal internet. Di masa pandemi pembelajaran jarak jauh menyulitkan siswasiswa di pelosok desa. | FOTO: WAHYUDI/RADAR BANJARMASIN
PEMBURU SINYAL: Sejumlah anak di Desa Liyu berkumpul di satu titik desa demi sinyal internet. Di masa pandemi pembelajaran jarak jauh menyulitkan siswasiswa di pelosok desa. | FOTO: WAHYUDI/RADAR BANJARMASIN

Semasa pandemi Covid-19, pembelajaran jarak jauh mengandalkan sinyal internet. Di perkotaan, sinyal mungkin berlimpah. Tapi di pelosok, para siswa harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan batang-batang sinyal.

-----

Langit di Desa Liyu Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, tampak sedikit berbeda dari sebelumnya. Antena-antena pencakar langit tinggi menjulang. Ini rupanya bukan antena untuk televisi, melainkan antena penguat sinyal telekomunikasi.

Sebagian orang tua di desa ini membeli alat penguat sinyal telekomunikasi, demi kenyamanan anak-anaknya yang menjalani pembelajaran daring dari sekolah.

Alat tersebut kemudian di pasang di ujung bambu dengan sekitar enam meter. Tidak banyak juga sinyal yang didapat, hanya hitungan KBPS atau satu-dua batang. Tapi lumayan untuk bisa mengakses tugas yang diberikan sekolah dan browsing.

“Modal yang dikeluarkan sekitar Rp500 ribu, untuk beli antena, tali pancang kabel dan tiangnya,” ujar Megi, orang tua Pela, siswi kelas satu di SMAN 2 Juai.

Pelajar lainnya yang orang tuanya belum bisa beli alat penguat sinyal, pada jam pelajaran berkumpul di bawah bukit. Di sana ada sinyal, namun juga tidak sekuat sinyal daerah perkotaan.

Dia bersama warga dam aparat desa setempat, kata Megi, padahal sudah beberapa kali mengajukan agar dipasang penguat sinyal internet di desanya sejak 2019 lalu, akan tetapi sampai saat ini belum ada respons.

Megi menilai, secara kualitas pembelajaran daring ini sangat jauh dari harapan. Karena kebanyakan anak cuma main internet. Sementara yang belajar adalah orang tuanya. Jadi guru dadakan bagi anak sekaligus juga murid.

“Kami berharap ada solusi yang lebih efektif dibanding belajar daring ini, kita tidak bisa terus-terusan begini, apalagi kalau situasi ini terus berlarut-larut. Harus ada solusi yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Salah seorang guru sekolah terpencil mengakui bahwa pembelajaran seperti saat ini sangat tidak efisien. Meskipun ada kebijakan buat tatap muka, namun hanya sebentar, paling lama 30 menit.

“Sebenarnya kami yakin saja aman, apalagi pelajar sekolah terpencil ini kan tidak ada jalan-jalan. Jangankan keluar kota, ke luar dusun saja mereka jarang. Dan kami sebagai guru juga pastinya menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan,” tandasnya.

Menyikapi keluhan susah sinyal di daerah pedalaman, Kabid Infrastruktur E-Goverment Diskominfo Balangan, Abdurrahman mengatakan, pihaknya sudah memprogramkan pemasangan fasilitas internet gratis di beberapa desa. “Saat ini sudah ada lima desa yang kita pasangi fasilitas ini, targetnya ada 11 desa pedalaman yang akan dipasangi, lagi termasuk Desa Liyu,” terangnya.

Terkait keluhan orang tua, murid dan guru mengenai pembelajaran daring yang kurang efektif, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, Abdul Basid mengakui, pihaknya telah menerima informasi kendala yang dihadapi oleh satuan pendidikan. Di antaranya yakni kesulitan dalam hal memberikan pembelajaran non tatap muka kepada peserta didik.

Tentunya, kata dia, kendala ini tak Basid dipungkiri bisa saja terjadi pada seluruh sekolah di Kabupaten Balangan. Tidak hanya daerah pedalaman.

“Tapi kita tidak bisa berbuat banyak, melainkan mengikuti edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan untuk mekanisme belajar di tengah Covid-19 saat ini,” tukasnya.

Permasalahan pembelajaran jarak jauh juga membebani ekonomi masyarakat desa. Di kawasan lereng pegunungan meratus di Kecamatan Padang Batung Hulu Sungai Selatan, tak semua orang punya gawai. Anak-anak bahkan tidak punya handphone.

Riska pelajar SDN Batu Bini mengaku saat belajar daring menggunakan smartphone orang tuanya.“Pinjam punya abah (ayah) kalau mau belajar online,” ujarnya.

Pelajar kelas enam ini mengatakan lebih senang belajar dengan guru di alam terbuka dibandingkan secara daring. Karena lebih nyaman tanpa harus menggunakan jaringan internet.

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Batu Bini, Muhammad Sani mengatakan kebanyakan orang tua murid memang pekerjaannya pekebun, jadi banyak anaknya tidak memiliki smartphone.

Tidak jarang juga para orang tua pelajar harus meminjam smartphone dengan tetangga sekitar rumah agar anaknya dapat belajar secara daring. “Masalah lainnya tidak semua orang tua mampu membeli kuota internet. Karena uang Rp 10 sampai 20 ribu jika digunakan membeli kuota internet sangat berat bagi mereka untuk memenuhi dapur mereka ditengah pandemi saat ini,” katanya.

Atas dasar berbagai permasalahan dihadapi tersebut, SDN Batu Bini yang terletak di wilayah lereng pegunungan meratus ini menerapkan guru kunjung selama tiga hari dalam seminggu di alam terbuka.

Siswa di pelosok biasanya punya cara untuk menyiasati ini. Misalnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara, siswa harus berburu sinyal di lokasi tertentu. Wardila, siswa yang tinggal di Desa Panawakan Kecamatan Haur Gading mengatakan jaringan lelet membuat dia dan rekan-rekannya sangat kesulitan. "Kami harus berkumpul dalam satu area yang kuat jaringan," kata sumber pada Radar Banjarmasin.

Hal ini menjadi pertanyaan karena memang jika siswa berkumpul lalu apa bedanya dengan sekolah formal? Hal ini ternyata banyak terjadi di wilayah pelosok Kalsel. Seperti halnya yang dirasakan Hamidah, pelajar SMPN 3 Bakumpai, Batola. Dia terpaksa belajar di beberapa tempat yang terdapat sinyal jaringan internet. "Ingin dapat sinyal harus pergi ke beberapa tempat yang ada sinyal. Paling sering ke Titian rumah yang berada di tepi Sungai Barito.

Mencari sinyal ini menurutnya hanya dilakukan apabila tugas yang dikerjakan tidak ada di dalam buku pelajaran. Serta melakukan koordinasi atau bertanya langsung dengan guru pengajar di grup WhatsApp. "Sinyal memang menjadi kendala di desa kami. Kadang sinyal ada kadang tidak ada. Kami tidak bisa selalu online," ujar Hamidah.

Hamidah menambahkan, kendala sinyal juga berpengaruh untuk mereka mengunduh tugas atau materi yang dikirim guru mereka di grup WhatsApp. Data yang sedikit besar, sangat lama di download dengan sinyal yang naik turun. Bahkan sinyal bisa hilang mendadak. "Koordinasi kami bisa teratasi dengan langsung menemui guru piket yang berada di sekolah. Tugas kami dikumpul satu minggu sekali dan kembali diberi tugas untuk satu minggu mendatang," ceritanya

Hamidah mengungkapkan selain susah sinyal, di desanya hanya ada satu vendor jaringan yang bisa digunakan. "Harga kuota yang kami pakai juga lumayan mahal," ujarnya cemas. (why/shn/bar/mar/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#cover story #Feature Umum #Banua Pendidikan