Memperingati hari kemerdekaan, Pulau Bromo pun bersolek. Tiang ditegakkan, bendera merah putih dikibarkan. Apa makna kemerdekaan bagi penduduk Pulau Bromo?
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
KEMARIN (16/8) siang, delta di Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan itu tampak ramai. Warga hilir-mudik.
Anehnya, tak seorang pun mengenakan masker. Usut punya usut, penduduk di perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar itu sudah meyakini berada di zona hijau. Alias terbebas dari corona.
Mungkin benar. Menengok data Dinas Kesehatan, dari 16 kasus positif COVID-19, 14 orang dinyatakan sembuh dan satu meninggal dunia. Tersisa satu orang dalam perawatan.
Terlepas dari perkara pandemi, kawasan ini tampak semarak dengan aksesori merah putih. Sekalipun akses utama, yakni titian kayu masih tanpa perbaikan.
Kayu-kayu yang menjadi alas titian masih banyak yang terlepas dan berderak apabila diinjak.
Ada lebih dari 700 kepala keluarga yang tinggal di Pulau Bromo. Sudah tak terhitung penduduk yang jatuh ke sungai atau kakinya terperosok akibat titian bolong.
"Kalau bisa, titian kayu ini diperbaiki," tutur Lian, warga Bromo.
Ketika dikunjungi Radar Banjarmasin, pria 35 tahun itu asyik menemani anaknya belajar di rumah. Namanya M Fadlan, siswa kelas IV SDN 4 Mantuil.
Lian masih mengingat dengan jelas. Mertuanya pernah menjadi korban titian rusak itu. Ceritanya, pada suatu malam, sang mertua hendak menuju rumah menantu.
Jaraknya padahal cuma beberapa meter. Tapi karena minimnya penerangan, salah satu kaki mertuanya menginjak kayu titian yang rapuh.
"Beliau terperosok kemudian terjatuh. Tidak hanya mertua saya saja. Anak-anak juga sering terperosok," bebernya.
Pengakuan itu dikuatkan warga lainnya, Yani. Lelaki 47 tahun itu juga kerap melihat orang terperosok. "Bahkan tercebur ke sungai," kisahnya.
Maka Yani tak segan menegur anak-anak yang berlarian di titian. Dia khawatir, mereka bakal menjadi korban berikutnya.
"Andai titian ini diperbaiki, kami tentu merasa merdeka. Seingat saya, sudah lebih dari lima tahun titian ini tidak diperbaiki," jelasnya.
Sama seperti di kelurahan lain, Pulau Bromo juga bakal sepi dari ragam lomba yang kerap menghiasi 17 Agustusan.
Ketua RT 06 Widodo mengatakan, tahun-tahun sebelumnya sedikitnya ada tiga jenis perlombaan yang digelar. Seperti panjat pinang, tarik tambang dan lomba makan kerupuk.
"Tahun ini kami setop dulu. Karena ada imbauan wali kota untuk tidak menggelar lomba. Sepi juga, tapi tak apa-apa. Demi kebaikan bersama," tegasnya.
Pada momen kemerdekaan ini, dia juga mengharapkan perbaikan titian. Maklum, selama ini cuma perbaikan tambal sulam. Serba swadaya dari modal sampai pengerjaan. "Semoga saja ke depan diperbaiki," tuntasnya.
Perlu diketahui, tahun 2017 silam, Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin sudah menggelar perbaikan. Membangun titian beton sepanjang 480 meter dengan lebar dua meter.
Meski menggelontorkan anggaran tak sedikit, mencapai Rp3,8 miliar, ternyata tak cukup untuk memperbaiki seluruh kerusakan. Masih tersisa titian sepanjang 820 meter. Alasan pemko, kondisinya masih bagus. (fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin