Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mahasiswa Menolak Dibungkam, Cak Kis Sindir Polisi; Dari Peringatan Sumpah Pemuda di Banjarmasin

miminradar-Radar Banjarmasin • Kamis, 29 Oktober 2020 - 17:13 WIB
SERBA HITAM: Ditetapkan sebagai tersangka, tak menyurutkan Ahdiat Zairullah (memegang mikrofon) untuk turun aksi. Mahasiswa menyatakan mosi tidak percaya kepada DPRD Kalsel, DPR RI dan presiden. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
SERBA HITAM: Ditetapkan sebagai tersangka, tak menyurutkan Ahdiat Zairullah (memegang mikrofon) untuk turun aksi. Mahasiswa menyatakan mosi tidak percaya kepada DPRD Kalsel, DPR RI dan presiden. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bagi mahasiswa di Banjarmasin, 28 Oktober 2020 bukan cuma peringatan Sumpah Pemuda. Ini juga hari duka pemuda Indonesia.

---

KEMARIN (28/10) sore di perempatan Jalan Lambung Mangkurat, bermodal pengeras suara dan pamflet protes, mahasiswa menggelar mimbar bebas.

Berbeda dengan aksi menolak Omnibus Law sebelumnya, kali ini mahasiswa dari berbagai kampus itu menanggalkan jaket almameter. Massa kompak mengenakan pakaian serba hitam.

Aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se-Kalsel masih setia menyuarakan mosi tidak percaya DPRD Kalsel, DPR RI, presiden dan para menterinya.

Mimbar bebas itu dikomando langsung oleh Presiden BEM Universitas Lambung Mangkurat, Ahdiat Zairullah. Yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Kalsel atas dugaan pidana Pasal 218 KUHP.

Dalam orasinya, Ahdiat menegaskan, Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Demokrasi juga sedang sakit, karena berpendapat di muka umum saja sekarang sulit.

"Saluran aspirasi sudah macet. Sedang dikebiri. Ada upaya pembungkaman. Tapi kami pastikan akan tetap melawan," serunya kepada massa.

Lalu, apa yang mereka maksud dengan hari duka pemuda? Ketua DEMA Universitas Islam Negeri Antasari, Muhammad Syahri Husaini menyebut pemerintah tutup telinga atas tuntutan buruh dan mahasiswa.

"Tak pernah sekalipun dikabulkan. Khususnya untuk mengeluarkan Perppu atas UU Cipta Kerja," cecarnya.

Memperingati 92 tahun Sumpah Pemuda, mahasiswa kemudian mengumandangkan 'Sumpah Duka Pemuda Indonesia'. Ditujukan kepada pemerintah dan kroni-kroninya.

Begini narasi lengkapnya, "Kami putra-putri Indonesia mengaku, berduka yang satu, duka terhadap negara Indonesia. Kami putra-putri Indonesia mengaku, kecewa yang satu, kecewa terhadap pemerintah Indonesia. Kami putra-putri Indonesia mengaku, membenci yang satu, membenci kaum elit oligarki."

Refleksi itu berjalan damai. Tepat pukul 18.00 Wita, mahasiswa dengan tertib membubarkan diri.

Peringatan Sumpah Pemuda itu juga digelar mahasiswa di kota-kota besar lain di Indonesia. Omnibus Law Cipta Kerja yang disahkan DPR pada 5 Oktober lalu menjadi target utama mahasiswa. (war/at/fud)

Cak Kis Sindir Polisi

BUKAN hanya mahasiswa, refleksi Sumpah Pemuda kemarin (28/10) juga diikuti Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono.

Ditemui seusai aksi, lelaki yang akrab disapa Cak Kis itu mengecam sikap aparat terhadap demonstran. Terutama setelah penetapan dua mahasiswa ULM menjadi tersangka oleh Polda Kalsel.

"Perlu saya pertanyakan, mohon maaf nih, Polri ini apakah polisi Republik Indonesia atau polisi republik investor?" sindirnya.

Cak Kis menilai, di sebuah negara demokrasi, kebebasan berpendapat harus dilindungi. Selama unjuk rasa, tugas polisi mengamankan aksi, bukan malah sebaliknya. "Maka kami mengecam perilaku itu," tegasnya.

Dia juga menceritakan, telah dipanggil polisi sebagai saksi pada 2 November nanti. Cak Kis merasa mulai ada upaya pembungkaman kritik.

"Padahal selama ini aksi-aksi di Kalsel bisa menjadi contoh di Indonesia karena selalu berjalan damai. Tapi sekali lagi, mengapa aparat justru memanggil dan bahkan menetapkan tersangka. Ini pembungkaman," tutupnya. (war/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#cover story #demo mahasiswa