Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Belajar Normalisasi Sungai dari Gang AA: Mulanya Dikira Tambak Ikan

miminradar-Radar Banjarmasin • Kamis, 25 Februari 2021 - 21:57 WIB
DASAR BUNGAS: Dari kiri ke kanan Mury, Ami Ruslan dan Ivan Borneo berpose di depan plang Taman Iwak Bungas. | Foto: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
DASAR BUNGAS: Dari kiri ke kanan Mury, Ami Ruslan dan Ivan Borneo berpose di depan plang Taman Iwak Bungas. | Foto: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Di tengah kesibukan Satgas Normalisasi Sungai Banjarmasin membongkar jembatan, bila perlu studi banding, tak perlu jauh-jauh. Silakan berkunjung ke Gang AA di Kelurahan Belitung Utara.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

KALI dengan lebar dua meter dan panjang 200 meter itu membelah permukiman Gang AA di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin Barat.

Siring di kiri dan kanan sungai dicat warna-warni, semarak pelangi. Di dalam sungai, dinaungi teratai, beragam ikan air tawar berenang. Ada lele merah, nila, gurami dan patin.

Bagi warga Gang AA, menjaga sungai rupanya tak cukup dengan menyabit belukar atau mengeruk lumpur. Makhluk hidup di dalamnya juga harus dijaga.

"Kami beri nama 'Taman Iwak Gang AA Bungas'," tutur Tasrifansyah, kemarin (24/2) siang.

Lelaki yang akrab disapa Ivan Borneo inilah yang mengajak warga untuk membenahi sungai itu.

Alasannya, Ivan jenuh melihat sungai yang ditutupi rumput tinggi, tumpukan sampah, bahkan pemandangan bangkai hewan mengapung. Membuat gangnya tampak kumuh.

"Alhamdulillah, ternyata mendapat dukungan. Soal modal, kami kumpulkan secara swadaya," tambahnya.

Pembersihan sungai dimulai pada Oktober 2020 lalu. Tak mudah, pekerjaan itu butuh waktu sebulan penuh.

"Bulan berikutnya kami isi dengan bibit-bibit ikan air tawar. Lalu akhir Desember kami mengecat siringnya," jelasnya.

Sekilas, ikan-ikan itu sudah besar. Melebihi telapak tangan orang dewasa. Hilir mudik di sungai, dihitung-hitung lebih dari seratus ekor.

Agar tak saling mangsa, dibuat zona-zona ikan dengan kain berlubang.

Ivan ingat, awalnya tak semua warga mendukung ide normalisasi sungai tersebut. Bahkan ada yang menolak. Tapi setelah diberi pengertian bahwa ini bukan tambak ikan, melainkan buat pelestarian lingkungan, akhirnya para penentang melunak.

"Warga khawatir sungai menjadi bau. Karena airnya masih dipakai beberapa warga. Tapi, setelah dijelaskan bahwa ini bukan tambak, mereka pun setuju," kenangnya.

Urusan pakan, warga lainnya, Mury mengatakan, disediakan secara swadaya. "Siapa saja boleh ngasih makan. Asal tiga hari sekali," ujarnya.

Hebatnya, sejak dilepasliarkan, ikan-ikan itu sudah pernah dipanen untuk dinikmati bersama.

"Bukan berarti boleh dijamah orang luar. Kami merasa kehilangan, karena beberapa kali ikannya dicuri," tambah Mury.

Warga lainnya, Ami Ruslan menimpali, selama Banjarmasin dilanda banjir, sungai itu sempat meluap. Banyak ikan yang kabur. "Dulu ada patin yang besar banget, tapi kabur pas banjir kemarin," tukasnya.

Soal kesadaran, warga Gang AA memang patut diacungi jempol. Tapi wajar, selalu saja ada yang nakal. Maka segala larangan perlu ditetapkan.

Dari membuang sampah ke sungai, hingga menangkap ikan dengan menyetrum dan menebar racun. Tak tanggung-tanggung, pelanggar diancam sanksi pidana.

"Kami memakai Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009," tegas Ivan.

Tentu warga belum puas. Di tepi siring akan ditanami bawang dayak dan binahong (jenis tanaman obat). Kian komplet dengan saung bambu.

"Mau bangun gazebo untuk warga bersantai. Terus dikasih penerangan dan kamera CCTV," tutup Ivan.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Belitung Utara, Amrullah memuji warganya di RT 16 tersebut. Dia berharap, aksi warga Gang AA bisa menginspirasi RT dan gang lainnya.

"Utamanya dalam memotivasi pelestarian lingkungan. Sebagai dukungan, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan. Agar bisa dibantu," janji Amrullah. (at/fud)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#sampah di sungai #Feature Inspirasi