Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kalsel Krisis Jalan Angkutan: Jembatan Alalak Lama Tak Dibuka, Harus Tunggu Jalan Lingkar Utara Diperbaiki

izak-Indra Zakaria • Kamis, 25 Februari 2021 - 22:09 WIB
LUMPUH: Jalan Gubernur Syarkawi saat dicek kondisinya kemarin. Akses penting ini lumpuh dan tak bisa dilewati lagi. | FOTO: M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN
LUMPUH: Jalan Gubernur Syarkawi saat dicek kondisinya kemarin. Akses penting ini lumpuh dan tak bisa dilewati lagi. | FOTO: M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN

BANJARMASIN - Jembatan Alalak lama belum bisa dibuka untuk angkutan elpiji. Balai Jalan Nasional XI Banjarmasin belum mengeluarkan rekomendasi karena kondisi jembatan banyak yang rawan.

“Setelah kami cek, sangat banyak yang harus diperbaiki lebih dulu. Tak hanya di bagian bawah, namun juga di bagian atas,” terang Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, Syauqi Kamal.

Praktis angkutan elpiji hanya bisa dengan kapal LCT yang menghubungkan dari depot pengisian ke pelabuhan Banjar Raya di Banjarmasin. Sementara, memaksakan melintas Jalan Gubernur Syarkawi, tak memungkinkan karena kondisinya masih rusak parah.

Alih-alih mengharapkan jembatan ini dibuka, Jalan Gubernur Syarkawi juga tak bisa lagi dilintasi oleh truk angkutan elpiji. Kepastian ini didapat setelah kemarin pagi semua pihak yang terlibat memantau kondisi jalan di lingkar utara itu.

Dikatakan Syauqi, cuaca yang beberapa hari ini turun hujan membuat kondisi jalan di beberapa titik rusak dan tak bisa ditangani cepat. Namun dia memastikan, satu lajur jalan yang sebelumnya dilakukan perbaikan fungsional dengan cara diuruk, mulai bisa dilintasi.

Sedangkan lajur satunya, mulai hari ini akan dilakukan penanganan sesuai desain awal yang sudah terkontrak. “Mulai besok (hari ini) ditangani. Dipastikan akan ditutup satu lajur,” katanya.

Sedianya, penanganan ruas jalan ini yang memakan anggaran mencapai Rp174 miliar sudah digeber pada akhir tahun 2020 tadi. Lantaran terkendala cuaca yang membuat jalan tergenang, pekerjaan pun terganggu. “Selain di beberapa titik dibuat cross drain atau saluran drainase di bawah jalan, jalannya juga akan ditinggikan,” tandasnya.

Tentang gas elpiji yang terhambat, Kepala Hiswana Migas Kalsel Saibani menuturkan tak ada pilihan selain menunggu ruas Jalan Gubernur Syarkawi sudah nyaman dan bisa dilalui. Pasalnya akses lain yakni Jembatan Alalak dibuka khusus angkutan elpiji. “Jika jembatan Alalak tak bisa dibuka, jalan satu-satunya adalah perbaikan cepat Jalan Gubernur Syarkawi,” cetusnya.

Dia mengingatkan, bulan Ramadan tak lama lagi. Jangan sampai pasokan elpiji menimbulkan keresahan di masyarakat. “Ini yang harus diperhatikan pemerintah. Kita sebentar lagi memasuki bulan Ramadan,” ingatnya.

Soal Jembatan Alalak, dia sangat mengharapak diuji coba terlebih dulu untuk dilintasi. Dia beralasan, jembatan tersebut sebelum ditutup, masih bisa dilintasi oleh truk pengangkut elpiji. “Kalau hanya mengharapkan dengan kapal LCT, kondisi seperti ini akan lama berlangsung,” imbuhnya.

Sementara, Jalan Hauling Road milik PT Talenta Bumi yang sebelumnya digratiskan, mulai kemarin ditarif bagi yang melintas. Hanya gratis untuk angkutan membawa sembako BBM dan elpiji bersubsidi. Ditariknya biaya angkutan yang melintas di ruas jalan batu bara ini setelah adanya kesepakatan dengan Pemprov Kalsel.

Konsep tarif angkutan yang melintas hampir sama dengan angkutan batu bara. Yakni setiap angkutan yang akan melintas, harus menebus voucher. Tarifnya dari Rp100-300 ribu sesuai dimensi dan muatan angkutan. “Alasannya untuk perawatan jalan. Tapi untuk angkutan sembako dan BBM dan elpiji bersubsidi,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Rusdiansyah kemarin.

Humas PT Talenta Bumi, Agus Basri membenarkan jalan dikenakan biaya. Namun itu adalah kontribusi untuk perawatan jalan. “Tarif kontribusi untuk angkutan di luar batu bara ini jauh lebih murah jika dibandingkan dengan angkutan batu bara,” ujarnya kemarin.

Dia menyebut, untuk angkutan batu bara, dikenakan tarif Rp300 ribu per ton per Km. Sementara, angkutan di luar itu hanya dikenakan tarif Rp100-300 ribu sekali jalan. “Sangat jauh sekali tarifnya jika dibandingkan dengan angkutan batu bara,” sebutnya.

Berbicara perbaikan, Agus juga menyebut nilainya dua kali lipat pasca dibukanya jalan ini yang tak hanya untuk angkutan batu bara. “Ketika Jalan Matraman terputus lalu, angkutan besar melintas di sini. Tonasenya bahkan lebih dari angkutan batu bara. Sehingga perawatannya dua kali lipatnya,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Banua Infrastruktur #Banua Transportasi #infrastruktur