Syarifah Saufiah adalah Kepala Desa Pulau Sewangi. Perempuan berusia 40 tahun ini pun turut menjadi korban dalam musibah keracunan massal di Desa Pulau Alalak, Kecamatan Alalak Kabupaten Batola.
Ketika dihubungi wartawan ini, Kepala Desa mengaku masih belum bisa beraktivitas. “Masih lemas, dan ini sudah di rumah setelah mendapatkan penanganan medis RS TPT, Banjarmasin. Tadi malam dikasih 2 infus dan ini pas pulang diinfus lagi, sudah tiga botol,” ungkanya didampingi sang suami Said Muhammad Laili, kepada Radar Banjarmasin, Minggu (27/2) sore.
Cerita Saufiah, gejala-gejala yang dirasakanya cukup menyiksa. Selain muntah-muntah, perutnya terasa dililit. Sakitnya luar biasa, melebihi dari kontraksi ibu hendak melahirkan. “Lebih sakit dari orang hendak melahirkan yang saya rasakan malam itu, bahkan tubuh saya lemas hingga pingsan setelah 10 kali muntah,” ceritanya.
Syarifah tak mengira jika ia mengalami keracunan, ia merasa hanya riwayat sakit maghnya kambuh. Kemudian ia diberikan suaminya obat maag, namun sekian menit kondisinya malah semakin sakit yang tak dikuasinya. “Obat maagnya malah keluar, seiring muntah itu,” ujarnya.
Sampai disitu Saufiah tak sadar juga bahwa ia telah keracunan. Lantas pihak keluarga mengira ia terkena ganguan makhluk halus, kemudian diberikan pengobatan ala orang tua behari, yaitu dengan dicontengi kapur dan kunyit.
“Suami saya kira kepidaraan, dan setelah diolesi tetapi tetap saja sakitnya masih menyayat,” kisahnya. Sementara diluar sana dan grup-grup relasinya berdentingan kalau ada menginformasikan jika ada sejumlah warga yang keracunan. Bahkan ambulans yang datang melintas di depannya dikira hanya menjemput atau mengantar orang sakit.
“Sejak bada magrib saya tak bisa berbuat apa-apa, justru itu saya tidak tahu diluar sana orang pada ribut jika keracunan, kebetulan cukup jauh juga rumah saya dengan warga saya yang keracunan, sehingga sadarnya ketika mau salat isya bahwa ada yang keracunan setelah dilihat di grup WA,” ujarnya.
Dari tiga masakan itu, lokasi pembagian makan memang beda-beda, seperti jemaah yang laki-laki, mereka disuguhkan masakan sop, dan beberapa tenda lainnya ada yang gado-gado. Sama halnya seperti tenda rekannya Pembakal Alalak, disuguhkan sop. Kebetulan tenda ia termasuk warga lainnya disuguhkan soto.
“Soal dari mana asal penyebab keracunan, makanan apa saya kurang tahu. Tetapi yang banyak tamu yang keracunan setelah memakan Soto, dan katanya juga ada 3 panci besar yang memasak kuahnya,” sambungnya.(lan)
Editor : izak-Indra Zakaria