Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jelajah Potensi Wisata Paminggir (2): Mengenali Wajah Kerbau Rawa

izak-Indra Zakaria • Rabu, 22 Maret 2023 - 19:41 WIB
HADANGAN NAIK KE KALANG: Kerbau rawa digiring naik ke atas kandang, Rabu (15/3). Lokasi di Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Seri liputan ini merupakan bagian dari tur jurnalis bersama Walhi Kalsel. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
HADANGAN NAIK KE KALANG: Kerbau rawa digiring naik ke atas kandang, Rabu (15/3). Lokasi di Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Seri liputan ini merupakan bagian dari tur jurnalis bersama Walhi Kalsel. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Di mata orang awam, kerbau rawa terlihat sama saja. Tapi warga Desa Sapala bisa mengenali dengan mudah kerbau rawa miliknya, di tengah gerombolan kerbau rawa milik tetangga.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Amuntai

CUACA masih cerah, Rabu (15/3) siang itu. Angin yang berembus pelan, ditambah perut kenyang, membuat mata mengantuk.

Tapi, sayang bila melewatkan kesempatan ini demi tidur siang. Mending bertandang ke kalang hadangan (kandang kerbau rawa). 

Sayup-sayup terdengar suara dari handy talky yang dipegang Ating, anggota Pokdarwis Pesona Rawa.

Ating tampak serius membalas suara di seberang. Yang dibicarakan perihal kalang siapa yang bakal dikunjungi. Dan sebaiknya menggunakan perahu besar atau kecil.

“Pakai ukuran kecil saja. Lebih nyaman menyusuri danau,” saran salah seorang warga.

“Tidak, sebaiknya pakai yang besar. Anginnya kencang. Khawatirnya gelombang besar,” sahut yang lain.

Kami hanya diam mendengarnya. Keduanya punya pendapat yang sama-sama benar.
Jadi, perahu mana yang dipilih? “Pakai saja keduanya,” timpal Firdaus, Bendahara Pokdarwis Pesona Rawa Sapala.

Tak ada perdebatan, mereka semua setuju saja. 

Menjelang petang, kami beranjak dari aula Posyandu Ikan Patin menuju dermaga. Sebelumnya mampir sebentar ke salah satu rumah pengrajin perangkap ikan.

Di situ, kami bertemu Asiah. Di teras rumah ia asyik menganyam sisi-sisi perangkap ikan. Bentuknya persegi panjang. Bahan utamanya kawat besi. Orang Sapala biasa menyebutnya tampirai. “Di sungai ini banyak ikannya. Ada baung, patin, nila, saluang, lundu, sepat siam, gabus dan lain-lainnya,” ungkap perempuan 37 tahun itu.

“Bisa dibilang, mencari ikan di sini gampang sekali,” sambungnya. Kondisi itu dibenarkan Kepala Desa Sapala, Junaidi. Selain mudah ditangkap, mudah juga untuk dijual. Sebab pasarnya sudah jelas.

“70 persen warga Desa Sapala menggantungkan hidup dengan mencari ikan. Lalu, 30 persen lagi beternak kerbau rawa,” ungkapnya. Menaiki perahu, bersama motoris, rombongan dalam perahu yang ditumpangi penulis itu berjumlah 14 orang. 

Raung mesin perahu memekakkan telinga. Dari Desa Sapala, perahu dipacu menuju keluar desa. Melintasi banyak pohon khas rawa.

Berselang 20 menit, kami tiba di sebuah padang rawa. Begitu luas, sampai tepinya tak jelas. Warga setempat biasa menyebutnya danau.

Di kejauhan, dua buah kalang berdiri kokoh. Masing-masing dilengkapi pondok kecil. Fungsinya untuk menambatkan perahu dan melepas penat penggembala.

Air danau begitu tenang. Namun ketika angin berembus, ombaknya melimpasi bagian dalam perahu.

Tak lama, perahu yang ditumpangi penulis tiba di salah satu kalang. Kami lihat di situ hanya ada dua hadangan. Salah satunya masih kecil

Di pondok tak ada orang. Tak lama, Firdaus dan yang lain datang menaiki dua perahu kecil bermesin tempel.

“Paman Syahri masih mamburu (memandu) hadangan (kerbau rawa) menuju ke kalang (kandang). Tunggu saja, sebentar lagi kelihatan,” ucap Firdaus.

“Itu dia,” seru Hamidan, rekan Firdaus.

Di kejauhan, kami melihat seorang lelaki berdiri di atas sampan. Memegang galah panjang, ia memandu lebih 10 ekor kerbau rawa keluar dari tengah pepohonan yang rimbun.

Aneh. Kerbau rawa yang memiliki berat ratusan kilogram, justru piawai berenang melintasi perairan yang dalam.Pungggungnya menyembul di permukaan air. Kepalanya mendongak ke atas permukaan air. “Sejak lahir, sebenarnya kerbau rawa sudah pandai berenang,” jelas Hamidan.

Ia lantas mengajak kami melihat seekor anak kerbau rawa yang sedang bersama induknya di kalang. Usianya baru sepekan.

“Ini sebenarnya sudah bisa berenang. Tapi belum bisa dilepas. Masih tak bisa jauh dari induknya,” tuturnya.Bila sudah berusia empat lima pekan, maka dilepasliarkan. Agar bisa beradaptasi dengan kelompoknya. “Tentu tetap diawasi,” tekannya. Kerbau rawa atau hewan dengan nama latin Bubalus Bubalis Carabanesis merupakan jenis kerbau khas Asia Tenggara. 

Di Kalsel, kerbau rawa banyak dipelihara di daerah yang mempunyai lahan rawa luas dan sumber pakan hijauan alami. Salah satunya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Apa yang membuatnya berbeda dengan kerbau darat? Bisa dilihat dari kulit yang cenderung berwarna abu-abu dan kecokelatan. Akibat kerbau rawa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berendam.

Kerbau rawa juga mempunyai tanduk yang lebih panjang ketimbang kerbau darat.

Lalu, sejak kapan kerbau rawa dipelihara penduduk Desa Sapala? Tak ada tahun pasti, jawabannya sudah sejak zaman dahulu. “Kami mewarisinya secara turun temurun,” ucap Hamidan.

Di sana, tampak Syahri sibuk menghalau seekor kerbau yang berenang keluar dari rombongan.

Kerbau itu justru mendekati kalang. Menginjak tangga, saat naik ia melenguh dan diam sebentar. “Kerbau rawa ini pemalu bila melihat orang banyak berada di atas kalang, apalagi kalau menumpuk di dekat tempatnya naik,” ungkap Hamidan.

Oh, ternyata hewan yang satu ini bisa grogi juga.Bergiliran, kerbau rawa naik ke kalangnya. Ketika ekor terakhir sudah naik, Syahri tampak semringah.Melihat dari besarnya rombongan kerbau itu, penulis penasaran, bagaimana membedakan kerbau milik peternak yang satu dengan peternak lainnya?

Mengingat bila dilihat-lihat, tak ada ciri spesifik yang membedakannya.Hamidan menjelaskan, penggembala yang bepengalaman tahu di mana bedanya.

Bisa lewat tanda yang diberikan penggembala, misalkan coretan cat di kuping. Atau dari kalung di leher kerbau, atau dari bentuk tanduk yang agak berbeda.

“Satu lagi. Meski tak kentara, sebenarnya bila diperhatikan lekat-lekat, wajah kerbau itu berbeda-beda,” tegasnya. Penulis yang penasaran, memandang dekat kerbau yang naik ke kalang. Sungguh tak bisa dibedakan. Di mana-mana kerbau terlihat sama saja.Dan alih-alih bisa mengenali, kerbau yang penulis pelototi justru balas melotot balik dan bersiap hendak menyeruduk. (bersambung)

Editor : izak-Indra Zakaria