Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tahulah Pian, Larangan Petasan di Banjarmasin Sudah Terjadi Sejak Era Sultan Ini

M Idris Jian Sidik • Rabu, 13 Maret 2024 - 18:41 WIB
PRASASTI: Dipahat di atas kayu, ini adalah prasasti yang berisikan larangan membunyikan petasan pada zaman Sultan Adam.
PRASASTI: Dipahat di atas kayu, ini adalah prasasti yang berisikan larangan membunyikan petasan pada zaman Sultan Adam.

 

Tradisi membunyikan petasan tidak hanya di zaman sekarang. Sejak zaman dulu sudah ada pada hari-hari bulan Ramadan. Umat Islam di Kalimantan Selatan, mulai Banjarmasin hingga ke Hulu Sungai, terus melanjutkan tradisi membunyikan meriam bambu atau meriam pohon kelapa. 

Pada zaman now, tradisi itu digantikan dengan membakar petasan pada setiap malam hari. Apapun alasannya, membakar petasan sebenarnya dilarang. Menurut kalangan tertentu, larangan itu dianggap tidak berlaku di bulan Ramadan. Alasannya, demi menyemarakkan suasana Ramadan.

Larangan petasan sebenarnya juga terjadi sejak ratusan tahun lalu. Noktah sejarah telah menuliskan bahwa petasan dilarang di se-antero Kesultanan Banjar. Tercatat nama Sultan Adam Al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Saidullah II, Sultan Banjar yang memerintah tahun 1825-1 November 1857, melarang petasan di bulan Ramadan.

Dosen Sejarah ULM, Mansyur mengungkapkan bahwa Sultan Adam Al-Watsiq Billah bahkan membuat prasasti pengumuman yang dibagikan ke setiap kampung. Prasasti ini dipahat di atas kayu ulin. Berisikan larangan membunyikan petasan, dan membuat keributan pada bulan Ramadan.

Bukti sejarah yang ditulis pada permukaan kayu ulin dengan huruf Arab Melayu (Jawi) ini menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan atau puasa dilarang membunyikan petasan dan sejenisnya. Dianggap akan mengganggu umat yang sedang beribadah. “Prasasti ini sampai sekarang masih terdapat di koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru,” ungkapnya. 

Pembuatan prasasti tersebut mengindikasikan bahwa sebagai seorang penguasa, Sultan Adam dikenal sebagai sultan yang keras dalam menjalankan ibadah Islam, dan dihormati oleh rakyatnya. “Beliau pula merupakan salah seorang sultan yang sangat memperhatikan perkembangan Islam di Kalimantan,” tutup Mansyur. (*)

Editor : Indra Zakaria