Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Gas Beracun Gunung Ruang Dikabarkan ke Kalimantan, BMKG Kalsel Beri Penjelasan

M Fadlan Zakiri • Selasa, 30 April 2024 | 17:50 WIB
Gunung Ruang meletus.
Gunung Ruang meletus.

Sepekan yang lalu, warga net diramaikan dengan informasi mengenai adanya gas beracun SO2 atau sulfur dioksida menyebar di Kalimantan.

Kabar tersebut santer tersiar melalui sebuah gambar dan video yang tersebar di sejumlah platform media sosial. Di sana menjelaskan bahwa gas beracun tersebut merupakan dampak dari erupsi Gunung Ruang, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara yang terjadi pada Selasa (16/4) lalu.

Bahkan, dinarasikan bahwa gas SO2 tersebut sudah sampai ke wilayah Paser, Kalimantan Timur (Kaltim). Demi menghindari dampak dari penyebaran SO2 tersebut, warga diminta untuk memakai masker ketika keluar rumah.

Lantas, benarkah terjadi penyebaran SO2 beracun sampai ke wilayah Kalimantan? Terkait hal itu, Analis Klimatologi di Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Muhammad Arif Rahman meminta masyarakat untuk tidak langsung termakan informasi yang belum tentu kebenaran dan sumbernya.

Berdasarkan penjelasan dari pihak Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur citra yang menunjukkan tingkat penyebaran SO2 di Kalimantan bukan dari BMKG.

Informasi tersebut berasal dari aplikasi Windy, perangkat Amerika Serikat (AS) yang digunakan untuk permodelan sebaran debu vulkanik termasuk SO2. Bukan hasil pengamatan.

“Untuk menghindari kesimpangsiuran informasi, kami harap masyarakat dapat merujuk pada informasi yang diberikan oleh lembaga resmi,” ucap Arif.

Meski demikian, ia menyatakan BMKG memang mengamati sebaran debu vulkanik, termasuk gas SO2 setelah Gunung Ruang meletus. Berdasarkan citra satelit yang ada, pergerakan gas beracun tersebut memang memang ada yang memasuki wilayah Kalimantan.

Konsentrasi SO2 dari letusan Gunung Ruang itu bergerak ke arah Barat berdampak pada wilayah Sulawesi bagian Utara, Kalimantan bagian Utara, Brunei, dan Malaysia-Kalimantan Utara.

Namun, dari data itu juga, ia memastikan bahwa gas SO2 tersebut tidak mengarah ke wilayah Kalsel. “Untuk wilayah Kalsel tidak terkena dampak,” ujarnya.

Berdasarkan data PM2.5 di wilayah Kalsel data maksimumnya hanya mencapai < 40 mikrogram/meter kubik atau masuk kategori sedang. “Tidak ada data yang menunjukkan tidak sehat selama periode Gunung Ruang meletus hingga hari ini,” tukasnya.

Namun, ia tidak menampik jika dampak erupsi Gunung Ruang memang berpengaruh terhadap tingkat kesehatan udara di Indonesia. Data citra satelit sentinel 5P menunjukkan bahwa memang terlihat lonjakan konsentrasi SO2 di atas atmosfer Indonesia.

Kondisi itu muncul sejak tanggal 17 April 2024 hingga puncaknya 19 April 2024, dan selanjutnya meluruh dan normal kembali pada tanggal 21 April 2024. 

Sebelumnya, dari pantauan BMKG sempat terlihat sebaran debu vulkanik disertai gas SO2 pada Jumat (18/4) dan Sabtu (19/4) lalu di atas Kaltim. Pada Jumat pukul 10.00 WIB, debu vulkanik bergerak ke arah Timur-Barat Laut. Sementara pada Sabtu pukul 05.00 WIB, debu vulkanik tersebut terdeteksi bergerak ke arah barat-utara dan timur laut-tenggara.

Namun, berdasarkan pengamatan BMKG melalui RGB Citra Satelit Cuaca Himawari Gunung Ruang pada 24 April 2024, konsentrasi SO2 tersebut sudah tidak terdeteksi lagi.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Diyan Novrida menjelaskan pihaknya belum memiliki alat untuk mendeteksi paparan SO2 maupun abu vulkanik akibat erupsi Gunung Ruang di Kaltim.

Selain itu, gambar yang diunggah dalam video tersebut merupakan gambar dari pemodelan prediksi sebaran SO2, bukan hasil dari pengamatan langsung BMKG. (*) 

Editor : Indra Zakaria