Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bahasa Paku Terancam Punah, Bahasa Siang Minim Penutur

izak-Indra Zakaria • 2023-11-24 11:15:49
Photo
Photo

Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki keragaman bahasa daerah. Kekayaan tutur kata ini tersebar di tiap daerah. Namun, jumlah penutur bahasa daerah cenderung mengalami penuru­nan dari tahun ke tahun. Upaya pelestarian pun dilakukan agar penutur bahasa daerah tidak te­rus berkurang. Minimnya penutur berpotensi membuat bahasa daerah tertentu cepat punah.

 

AKHMAD DHANI, Palangka Raya

 

KEPALA Balai Bahasa Kalteng Muhammad Muis mengungkapkan, secara nasional sudah ada 11 bahasa daerah yang punah. Saat ini Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Di Kalteng sendiri, tidak kurang terdapat 26 bahasa daerah.

“Kami tidak ingin ada bahasa daerah yang punah di Kalteng. Sejatinya 26 bahasa di Kalteng ini masih dalam kondisi baik, penuturnya masih menggunakan bahasa itu secara baik,” beber Muis kepada wartawan usai mengikuti pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Kalteng 2023 di Bahalap Hotel, Palangka Raya, Selasa (21/11).

Namun Muis tidak menampik bahwa ada beberapa bahasa di Kalteng yang saat ini tengah mengalami penurunan jumlah penutur. Khususnya bahasa siang dan bahasa paku. “Yang menjadi catatan kami, ada bahasa siang di Kabupaten Murung Raya. Dari lima kampung yang seharusnya menuturkan bahasa siang, dua kampung di antaranya sudah tidak menggunakan bahasa itu lagi, ini menjadi kekhawatiran kami,” kata Muis.

Balai Bahasa Kalteng berharap bahasa siang terus digunakan oleh masyarakat di tiga kampung yang tersisa, meski masyarakat di dua dari lima kampung penutur bahasa siang tadi ada kemungkinan tidak menuturkan bahasa daerah itu lagi. Muis menegaskan, bahasa siang tidak terancam punah, tetapi sudah ada kampung tertentu yang masyarakatnya tidak lagi menggunakan bahasa itu. Dapat dikatakan mengalami pengurangan penutur.

“Selain itu ada juga bahasa paku yang digunakan oleh masyarakat di sekitar Barito Timur. Penuturnya sudah sangat sedikit sekarang ini. Semoga saja tidak ada lagi bahasa yang menuju ambang kepunahan,” tuturnya.

Menurut Muis, salah satu penyebab penutur bahasa siang mengalami penurunan adalah karena generasi muda yang enggan menggunakan bahasa itu karena malu.

“Menurunnya jumlah penutur bahasa daerah ditengarai karena generasi muda lebih senang bertutur pakai bahasa Indonesia dan kadang-kadang merasa bangga kalau pakai bahasa asing, mereka malu dan merasa kampungan kalau harus memakai bahasa daerah,” kata Muis seraya menyebut bahwa kondisi itu perlahan-lahan menggeser jumlah pengguna bahasa daerah.

Untuk mengatasi itu, Balai Bahasa Kalteng telah merevitalisasi delapan bahasa daerah, yakni bahasa Dayak Maanyan, bahasa Dayak Ngaju, bahasa Oot Danum, bahasa Dayak Katingan, bahasa Sampit, bahasa Melayu Kotawaringin, bahasa Bakumpai, dan bahasa Siang.

“Delapan bahasa itulah yang direvitalisasi, termasuk bahasa Siang. Tujuan revitalisasi bahasa adalah agar bahasa daerah tidak punah, tetap lestari, dan digunakan oleh generasi muda untuk bertutur sehari-hari,” tambahnya.

Menurut Muis, dari delapan bahasa yang dilakukan revitalisasi itu, satu di antaranya berisiko tinggi mengalami kepunahan jika tidak segera dilakukan revitalisasi. “Bahasa siang adalah yang paling berisiko, tetapi mudah-mudahan tidak sampai punah ya,” ucapnya.

Disinggung apakah bahasa Paku juga akan direvitalisasi, pria bergelar magister humaniora itu mengatakan, karena bahasa Paku sudah terancam punah, maka upaya revitalisasi hampir tidak ada manfaatnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk tetap melestarikan bahasa itu adalah dengan melakukan kodifikasi untuk mendokumentasikan.

“Kami membuat kodifikasi atas bahasa itu (bahasa Paku, red), kami buat, kami kumpulkan, sehingga bisa terdokumentasikan,” ucapnya.

Oleh karena itu, Muis menyadari pentingnya mindset bangga menggunakan bahasa daerah. Ia berpendapat, perlu dilakukan suatu upaya berupa sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak malu menggunakan bahasa daerah dalam aktivitas sehari-hari.

“Bahasa daerah adalah salah satu bentuk kebudayaan kita, kalau bahasa daerah punah, maka akar kebudayaan kita pun terancam punah,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Plh Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalteng Arthur Mukkun mengatakan, revitalisasi bahasa daerah dilakukan untuk menempatkan kembali bahasa daerah di ranah yang semestinya. Adapun pihak yang menjadi sasaran dari revitalisasi bahasa adalah generasi muda.

“Komunitas dan generasi muda yang menjadi sasaran kegiatan ini wajib mengenali dan memahami bahasa dan budaya daerah. Mereka harus sesering mungkin diperkenalkan dan didekatkan dengan bahasa ibu,” tutur Arthur saat membuka kegiatan.

Ia menyampaikan, Balai Bahasa Kalteng bekerja sama dengan pemerintah daerah di 14 kabupaten/kota kembali melaksanakan revitalisasi bahasa yang difokuskan pada delapan bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak Ngaju, bahasa Maanyan, bahasa Oot Danum, bahasa Melayu Kotawaringin, bahasa Dayak Siang, bahasa Dayak Bakumpai, bahasa Dayak Katingan, dan bahasa Dayak Sampit.

“Kami berusaha semaksimal mungkin agar budaya Dayak, termasuk bahasa Dayak tidak hilang begitu saja, tetapi tetap terlindungi, terlestarikan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani mengungkapkan, dalam upaya menjaga kelestarian bahasa daerah, pihaknya memasukkan pelajaran muatan lokal berupa pelajaran bahasa Dayak Ngaju dalam kurikulum sekolah.

“Isu bahasa daerah ini digaungkan kembali menjadi satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Untuk di Palangka Raya, pelajaran muatan lokal kami seragamkan belajar bahasa daerah Dayak Ngaju,” bebernya.

Jayani mengatakan, sekolah-sekolah di Kota Palangka Raya yang menerapkan Kurikulum Merdeka atau sekolah yang sudah mulai beralih ke Kurikulum Merdeka, sudah menerapkan pelajaran muatan lokal bahasa Dayak Ngaju.

“Terutama sekolah-sekolah penggerak, kemudian yang melaksanakan Kurikulum Merdeka secara mandiri, sekolah-sekolah itu juga sudah menerapkan kurikulum muatan lokal bahasa Dayak Ngaju,” sebutnya. (*/ce/ala)

Editor : izak-Indra Zakaria