SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diprediksi akan didominasi awan dalam 24 jam ke depan, parameter cuaca menunjukkan risiko kebakaran berada pada level yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan model prediksi cuaca numerik WRF Daily Forecast untuk periode Rabu (21/1/2026) hingga Kamis (22/1/2026) pagi, sebagian besar wilayah Kotim hanya akan mengalami kondisi berawan hingga hujan ringan. Minimnya pertumbuhan awan signifikan ini juga terkonfirmasi melalui citra satelit Himawari-8 yang menunjukkan aktivitas awan konvektif yang sangat rendah di atmosfer setempat.
Namun, stabilnya kondisi atmosfer ini justru menjadi ancaman bagi daratan. Pemantauan titik panas (hotspot) dalam 24 jam terakhir mencatat adanya tujuh titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah. Sebaran titik panas ini terdeteksi di beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Antang Kalang dengan tiga titik, serta masing-masing satu titik di Kecamatan Telaga Antang, Cempaga, Mentaya Hulu, dan sekitarnya.
BMKG merilis peta analisis potensi kebakaran yang menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masuk dalam kategori "Sangat Mudah Terbakar". Kondisi ini dipicu oleh akumulasi curah hujan yang minim serta sifat lahan gambut yang sangat cepat mengering dalam kondisi cuaca stabil.
"Potensi kebakaran masih sangat tinggi. Diperlukan peran aktif semua pihak untuk mencegah terjadinya karhutla, terutama di wilayah-wilayah yang telah terdeteksi adanya titik panas," tulis BMKG dalam keterangan resminya, Rabu (21/1).
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan patroli lapangan dan pemantauan titik panas secara berkala. BMKG juga memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar tetap waspada dan secara sadar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, mengingat risiko penyebaran api yang dapat meluas dengan cepat di bawah kondisi atmosfer saat ini. (*)
Editor : Indra Zakaria