PALANGKA RAYA – Ancaman bencana kabut asap yang pernah menempatkan Kalimantan Tengah sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada tahun 2023 silam kini kembali membayangi. Meski tahun 2026 baru saja dimulai, rentetan peristiwa kebakaran hutan dan lahan sudah bermunculan di berbagai titik di Bumi Tambun Bungai. Situasi ini memicu kekhawatiran serius mengingat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi awal Februari mendatang wilayah ini baru akan memasuki masa transisi menuju musim kemarau.
Laporan kebakaran pertama muncul dari wilayah pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur, tepatnya di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit. Di lokasi ini, api menghanguskan sedikitnya 6 hektare lahan kering dalam waktu singkat. Kondisi serupa juga dilaporkan melanda wilayah Kabupaten Sukamara, di mana lahan kering berpasir di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Pantai Lunci, mulai terbakar dan menuntut kesiapsiagaan penuh dari personel penanggulangan bencana setempat.
Eskalasi kebakaran lahan yang lebih besar terjadi di Kabupaten Gunung Mas, di mana sekitar 15 hektare lahan di Desa Batu Nyapau dilaporkan hangus pada awal pekan ini. Upaya pemadaman di lokasi tersebut melibatkan kekuatan penuh dari Polres Gunung Mas yang mengerahkan mobil Armored Water Cannon (AWC) bersinergi dengan unit pemadam kebakaran dan BPBD. Meskipun tim gabungan berhasil melokalisir api dalam waktu satu jam, petugas sempat menghadapi kendala klasik berupa keterbatasan sumber air di lokasi dan jarak pengisian ulang tangki yang cukup jauh.
Ketegangan juga dirasakan oleh Tim Reaksi Cepat BPBD Kotawaringin Barat yang harus berjibaku memadamkan api secara maraton di wilayah Arut Selatan dan Kumai. Di lokasi tersebut, api menyasar lahan di beberapa titik koordinat jalan raya dengan luas terdampak mencapai lebih dari satu hektare. Sebaran titik panas atau hotspot yang melonjak tajam ini menjadi indikasi kuat bahwa kondisi vegetasi di lapangan sudah sangat rentan tersulut api.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur, grafik kenaikan titik panas menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dengan deteksi sebanyak 54 hotspot hingga pertengahan Januari 2026. Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, mengonfirmasi bahwa sebaran titik panas tertinggi saat ini terpantau berada di wilayah Antang Kalang. Dengan kondisi alam yang mulai mengering sebelum puncak kemarau tiba, otoritas penanggulangan bencana di seluruh Kalimantan Tengah kini dalam posisi siaga satu guna mencegah berulangnya tragedi kabut asap yang dapat melumpuhkan aktivitas masyarakat. (rif/cal)
Editor : Indra Zakaria