Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dampak Pergaulan Bebas, Aborsi Jalan Pintas Penghilang Aib

izak-Indra Zakaria • 2019-02-04 12:19:55
ilustrasi
ilustrasi

BALIKPAPAN–Sudah saatnya Pemkot menaruh perhatian serius dalam hal degradasi moral dan tidak semata bangga dengan pembangunan fisik yang diklaim melaju pesat. Apa gunanya jembatan dan bangunan megah sementara generasi mudanya bobrok. Terungkapnya kasus aborsi di Kota Beriman yang dilakukan pemudi sudah cukup menjadi peringatan bahwa ada yang salah dalam pembinaan generasi muda. Psikolog, Patria Rahmawati menegaskan, kasus aborsi yang terjadi belakangan ini merupakan dampak pergaulan bebas khususnya di kalangan remaja.

"Nah anak remaja ini kan maunya yang instan. Ketika mereka terjerumus ke dalam pergaulan bebas terus hamil sehingga dia mengambil jalan pintas yakni aborsi," terang Patria saat dihubungi Balpos kemarin (3/2).

Tindakan menggugurkan janin secara ilegal, dia menekankan, erat kaitannya dengan pergaulan bebas yang berujung pada tindak kriminalitas. Sebab secara psikologis remaja tersebut mengikuti arus pergaulan yang tidak tepat sehingga terjerumus kepada perilaku seks bebas. Apalagi banyak remaja yang belum mendapatkan pendidikan tentang pemahaman seksual yang tepat seperti apa.

"Karena perilaku seks bebas dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan reproduksi remaja khususnya yang putri. Nah yang seperti ini kan mereka tidak punya pengetahuan yang tepat dan ilmiah, hingga akhirnya mereka mencari informasi yang salah melalui media sosial,” terang dia.

Kelompok usia remaja, ia menambahkan, merupakan masa pencarian jati diri sehingga mereka selalu ingin mencoba hal baru sampai akhirnya mencoba perbuatan aborsi. Para remaja yang salah dalam pergaulan, akhirnya melakukan hubungan seks bebas dan tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuat. Pada akhirnya mereka kerap memikirkan jalan pintas yang dianggap cepat dalam menyelesaikan masalahnya.

"Dia belum bisa berpikir secara matang dan bertindak secara bijak pada saat mereka menyelesaikan masalah. Karena mereka mendapatkan pergaulan yang tidak tepat dari sekitarnya," urainya.

Patria menyarankan agar orangtua turut berperan aktif dalam mengawasi anaknya serta melakukan bimbingan terhadap pemahaman seksual yang tepat supaya anak terhindar dari pergaulan bebas. Begitu pula dengan pihak sekolah yang wajib memberikan bimbingan konseling kepada para siswa agar menanamkan keimanan yang kuat pada remaja.

"Apa yang harus dilakukan yakni mereka harus menjalin komunikasi dengan orang tua, karena itu akan membantu mengatasi pengendalian mereka atas kegalauan yang mereka alami. Ketika anaknya masuk masa pubertas, tidak ada salahnya orangtua memberikan pendidikan seks bukan untuk melakukan tapi untuk menghindari," saran Patria.

 

Hindari Sanksi Sosial

Aborsi secara legal di Indonesia  diatur dalam Pasal 75 Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

Praktisi anak, Helga Worotitjan memaparkan bahwa praktik aborsi legal sangatlah rumit diterapkan karena harus ada unsur-unsur yang terpenuhi.

Helga menyebut ada dua kondisi seseorang yang diperbolehkan aborsi secara legal. Di antaranya indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan. Baik yang mengancam nyawa ibu atau janin, yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan dan menderita penyakit genetik berat atau cacat bawaan.

"Selanjutnya juga kehamilan yang diakibatkan karena korban perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan," bebernya.

Tidak hanya itu unsur yang wajib terpenuhi, selanjutnya dilakukan setelah melalui konseling atau penasehatan pra-tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca-tindakan. Semua dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. Untuk melalui proses itu semua, calon pasien aborsi legal melalui ketatnya proses administrasi dan wawancara.

"Memerlukan waktu yang panjang. Sementara banyak dari mereka yang akan aborsi tak memiliki cukup waktu. Baik dengan alasan medis maupun psikis. Seperti korban pemerkosaan misalnya,” jelas Helga.

Diera serba digital ini, juga banyak diperjual belikan obat yang dianggap dapat mengugurkan kandungan. Beberapa situs juga menawarkan obat lengkap dengan tutorial aborsi dengan mengetik di mesin pencari google. Helga menegaskan bahwa cara tersebut sangat berbahaya bagi keselamatan. "Aborsi tanpa penanganan dokter ahli sangat berbahaya. Dari meninggal hingga potensi gangguan kesehatan jangka panjang,” pungkas dia. (yad/pri/yud)

Editor : izak-Indra Zakaria