PULAU Praslin dan Curieuse, di Seychelles ada pohon palem eksklusif di dunia. Namanya coco de mer (Lodoicea Maldivica). Bijinya besar. Tapi, bukan soal besarnya yang buat terkenal. Bijinya mirip bokong wanita. Selain coco de mer, nama botaninya lodoicea calliyge berarti ‘bokong yang indah’.
Minggu lalu, Pak Agus Tantomo, mendapat undangan berkunjung ke Republik Seychelles. Melihat bagaimana pengelolaan negara yang punya 115 pulau kecil, berhasil dalam pengelolaan wisata.
Banyak tempat yang dikunjungi. Salah satunya, berkunjung ke kawasan tumbuhnya kelapa ‘coco de mer’ itu. Karena unik, Pak Agus mengirimkan beberapa foto. Salah satu foto yang dikirim, tempurung ‘coco de mer’ berada di pundak kirinya. Memang betul mirip bokong wanita.
Cerita Pak Agus, sebelum Seychelles ditemukan, kacang dari ‘coco de mer’ diperdagangkan di Maladewa. Karena itu ada yang menyebut berasal dari Maladewa, karena nama botaninya Lodoicea Maldivica.
Cerita yang dikumpulkan Pak Agus, selama berada di Seychelles, buah kelapa itu banyak yang jatuh ke laut. Dan tenggelam. Setelah pembusukan, kemudian buah muncul ke permukaan laut. Pelaut, mengira ada tumbuhan di dasar laut Samudera Hindia.
Karena proses itulah, sehingga kelapa ini dinamai coco de mer, dari bahasa Prancis ‘kelapa laut’.
Pada masa itu, buah atau biji coco de mer bernilai besar, dan semua yang ditemukan di laut atau di pantai langsung menjadi milik raja, yang menjualnya dengan harga sangat tinggi. Buah ini bahkan bisa menjadi hadiah agung yang sangat berharga. Para pangeran Timur Tengah bahkan Kaisar Romawi Suci, Rudolf II, menawarkan banyak uang untuk harta langka ini.
Sumber coco de mer akhirnya ditelusuri kembali ke Seychelles, sekitar pertengahan abad ke-18, di mana para penjelajah menemukan kejutan lain. Berbeda dengan kelapa sawit yang memiliki bunga jantan dan betina terpisah, proses penyerbukan coco de mer sulit dipahami. Namun inilah yang juga menambah daya pikatnya.
Seorang ahli kosmologi Kristen, Mayor Jenderal Charles George Gordon dari angkatan darat Inggris pernah berasumsi jika coco de mer adalah buah terlarang yang ditawarkan kepada Adam.
Coco de mer yang menakjubkan ini memiliki beberapa keunggulan. Antara lain, menghasilkan buah liar terbesar dengan berat sampai 42 kg; bijinya berbobor hingga 17,6 kg, yang paling berat di dunia; menghasilkan kotiledon terpanjang, sampai 4 meter; bunga betinanya adalah yang terbesar, lebih besar dari telapak tangan.
Inilah salah satu yang unik, yang dimiliki Seychelles. Keunikan yang mampu menyedot datangnya wisatawan. Dan, banyak lagi keunikan lainnya.
Saya pernah berbincang dengan Pak Nico Barito, Dubes Seychelles untuk Indonesia. Katanya, banyak yang berusaha membawa buah ‘coco de mer’ ke luar Seychelles. Tapi ada larang keras. Kalau juga ada yang berhasil, tidak akan bisa ditumbuh di luar tanah Seychelles.
Ketika Pak Agus memperlihatkan foto ‘coco de mer’ di pundaknya, tiba-tiba ingatan saya ke Museum Batiwakkal, di Gunung Tabur. Rasanya saya pernah melihat bentuk seperti itu, di salah satu ruangan yang ada di museum.
Saya penasaran. Kemarin, (12/12), saya mengunjungi Museum Batiwakkal. Kebetulan sepi pengunjung. Saya sedikit leluasa, untuk masuk ke semua ruangan.
“Nah, itu dia,” kata saya dengan suara nyaring. Petugas museum terkejut.
Akhirnya terjawab juga penasaran saya. Warnanya gelap. Sama dengan warna yang dipegang Pak Wabup. Bentuk ‘bokong’ juga sama yang dipegang Pak Wabup. Tak semontok yang ditangan Pak Wabup.
Kalau di Seychelles, namanya ‘coco de mer’ alias kelapa laut. Keterangan yang ada di Museum Gunung Tabur namanya buah ‘Paung Janggi’.
Diletakkan di sebelah kanan ‘Sulimbar’. ‘Paung Janggi’ sebetulnya dalam kondisi utuh. Hanya, dibelah dua, dan belahan itu berfungsi sebagai penutup. “Sudah lama berada di museum dan ditempatkan dekat sulimbar itu. Soal manfaatnya, ada penjelasan tertulis di sekitar sulimbar,” kata petugas museum.
‘Paung Janggi’ ini, bagian dari properti saat wanita akan melahirkan. Makanya ‘coco de mer’ atau ‘Paung Janggi’ berada tak jauh dari sulimbar, ranjang yang digunakan selama proses melahirkan. Ada juga tembikar dari kuningan, untuk menempatkan tembuni (ari-ari).
Yang menarik, dalam keterangan itu disebutkan bahwa buah ‘Paung Janggi’ pernah tumbuh di sekitar Sungai Birang, Kecamatan Gunung Tabur. Namun sudah punah.
Saya beberapa kali melewati Sungai Birang, anak Sungai Segah. Banyak buayanya. Sungai yang sering membuat pekerja sarang walet, terserang sakit malaria. Kira-kira di sebelah mana pohon ‘Paung Janggi’ pernah tumbuh dan sekarang sudah punah.
Kalaulah, ‘coco de mer’ juga adalah ‘Paung Janggi’, sama dengan yang ada di Seychelles, yang di pundak Pak Agus Tantomo, kira-kira bagaimana ceritanya hingga bisa berada di kerabat keraton Sultan Gunung Tabur.
Apakah juga, menjadi salah satu cenderamata yang diberikan kepada Sultan waktu itu, karena buah ini memang dianggap buah langka dan memiliki nilai yang tinggi. Sebagai bagian dari diplomasi antar-kesultanan.
Rasa penasaran saya beluym terjawab seluruhnya. Saya masih harus mencari tokoh masyarakat ataupun kerabat Kesultanan Gunung Tabur, yang tahu cerita hadirnya buah ‘Paung Janggi’ di Museum Batiwakkal. Buah terlarang, yang di Seychelles, namanya ‘coco de mer’. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post