Menggendong bayi tidak bisa sembarangan. Setiap gerakan dalam menggendong bisa memengaruhi kenyamanan si buah hati.
ULIL MUAWANAH
MENGUATKAN ikatanibu dan anak, salah satu caranya bisa dengan menggendong. Namun, agar aktivitas itu nyaman, ada teknik tertentu yang bisa diterapkan. Agar lebih maksimal, pola gendongan bisa menyesuaikan usia, tinggi badan, berat badan, serta gaya menggendong.
Seperti yang dijelaskan Melisa Sudirman, Babywearing Consultant Trainee (School of Babywearing UK). Dia menuturkan, sebelum menggendong, ibu mesti memerhatikan jenis kain yang digunakan. Untuk penggunaan kain tradisional atau jarik, cara lebih aman yakni dengan menggunakan simpul jangkar. Sebab, lebih nyaman buat penggendong. Dengan simpul jangkar, beban bayi tidak akan terlalu berat. Serta lebih mudah saat ditarik atau menyesuaikan posisi bayi.
“Ketika ibu merasa lelah, anak juga akan ikut lelah. Itu dipengaruhi oleh gaya menggendong dan jenis gendongan yang digunakan,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Icha itu menyebut, trik atau gaya menggendong TICKS. Itu merupakan singkatan dari tight, in view all times, close enough to kiss, keep chin off the chest, dan supported back sangat dianjurkan bagi orangtua, terlebih para ibu muda. Agar anak merasa aman dan nyaman. Hal pertama yakni, menggendong dengan gendongan yang ketat bisa menopang tubuh bayi dengan sempurna. Sehingga bayi lebih aman dalam dekapan. Sebab jika gendongan longgar sewaktu-waktu, bayi bisa miring atau bahkan terjatuh.
Hal kedua, in view all times. Ibu harus mudah melihat bayi dalam gendongan. Kondisi bayi/anak tidak tertutupi kain. Untuk memastikan melihat langsung ekspresi sang anak apakah tengah gelisah, aktif, atau tertidur. Akan lebih mudah merespons jika anak mudah dilihat. “Terkadang ada kain sisa yang menutupi sang bayi, sehingga ibu tak bisa menyadari kondisi sang bayi,” ucapnya.
Posisi bayi ketika digendong menentukan kenyamanan bagi penggendong juga. Jika bayi terlalu ke bawah, bebannya akan bertumpu di perut, sehingga kenyamanan penggendong akan berkurang. Lalu, bila posisi bayi terlalu tinggi dapat menghalangi pandangan penggendong. Sehingga, sebaiknya posisi anak berada di dada yang dekat dengan mulut si ibu, atau close enough to kiss. “Mencium kepala atau kening anak dapat membuat bayi lebih tenang ketika gelisah,” tutur Icha.
Berikutnya, memastikan aliran pernapasan bayi selalu terbuka. Sebab jika badan bayi terlalu melengkung, dagu menempel pada dada, bisa menyebabkan kesulitan jalan pernapasan. Maka pastikan ada jarak antara dagu dan dada bayi sekitar dua jari penggendong. Keep chin off the chest. Hal ini penting untuk mencegah sudden infant death dalam gendongan.
“Pernapasan itu penting, bahkan dalam menggendong kita perlu mengetahui, apakah anak dapat bernapas dengan baik,” ucapnya.
Terakhir, punggung yang tersangga (supported back) dengan baik dapat membantu bayi untuk selalu dalam posisi naturalnya. Posisi natural bayi adalah frog position, yakni badan tegak lurus dan kaki membentuk m-shape. “Dengan menggendong, bayi merasa lebih bahagia dan sehat. Serta membantu ibu dengan baby blue syndrom, depresi yang timbul pasca persalinan. Orangtua dapat merasa lebih percaya diri, dan terpenting meningkatkan bonding antara ibu dan buah hati,” tutupnya. (ndy/k8)
Editor : octa-Octa