Kehadiran sang buah hati pasti jadi anugerah setiap orangtua. Tak ingin momen-momen indahnya terlewat. Eksistensi new born baby photography sudah lebih dulu populer. Jadi pilihan bagi para orangtua mengabadikan momen kelahiran si kecil. Kini sudah lebih berkembang. Replika tiga dimensi (3D) mencetak kaki dan tangan mungil bayi mulai diincar dan digandrungi.
PERTAMA kalinya hadir di Kota Tepian, replika 3D cetak kaki dan tangan bayi mengundang antusiasme yang cukup besar di kalangan orangtua muda. Lydia Gautama, atau akrab disapa Lydy Gaga serius menggeluti hal tersebut. Perempuan yang dikenal sebagai new born baby photographer itu sudah memulainya sejak 2018.
Dia menyebut, replika 3D sudah lebih dulu hadir di daerah Jawa. Namun, secara lokal, belum terlalu booming. Kebetulan, Lydy memiliki seorang kenalan yang biasa membuat replika 3D. Dia pun jadi tahu dan akhirnya berinisiatif untuk memproduksi sendiri di ibu kota Kaltim. “Mengerjakan replika itu agak susah. Benar-benar harus telaten. Paling penting harus sabar ke si bayinya. Sebab, selama proses mencetak itu pastikan bayinya sedang tidur pulas. Tidak boleh bergerak sama sekali,” jelasnya.
Bahan yang diperlukan semacam jelly berbentuk bubuk. Jelas aman karena berbahan dasar rumput laut. Kemudian dicampur dengan air hangat. Saat masih mencair, tangan atau kaki bayi yang ingin dicetak bisa dimasukkan selama 5–10 detik. Jika teksturnya sudah agak padat, bisa langsung dicabut. Pada proses itu jangan sampai ada gerakan dari bayi. Apalagi jika adonan belum mengeras dan bayi mulai bergerak. Dapat dipastikan bentuk cetakan bakal hancur.
Kemudian, buat lagi adonan dari clone powder yang sudah dicampur air. Lalu tuang ke cetakan dari jelly sebelumnya. Tunggu hingga beberapa jam sampai mengeras dan buka bagian jelly. Bentuk tangan atau kaki pun terbentuk sempurna dan bisa diberi cat. Proses pengeringannya tak bisa dengan cahaya matahari langsung. Cukup dikeringkan di suhu ruang. Jika terlalu panas, replika bisa retak. Proses pengerjaan yang harus detail, membuat klien Lydy baru bisa menerima hasilnya dalam waktu dua bulan.
Termasuk jadi tantangan, apalagi bagi bayi-bayi yang mudah rewel dan sulit ditidurkan. Biasanya harus ditunggu sampai keadaannya tenang. Itulah sebabnya, Lydy merekomendasikan bayi yang usianya masih tergolong muda jika ingin membuat replika. Idealnya mulai 0–3 bulan. Kalau sudah empat bulan ke atas, butuh usaha dan waktu ekstra. Kebanyakan mulai tertarik saat si buah hati menginjak usia di atas empat bulan. Lydy memberi edukasi pada orangtua agar tidak terlambat saat ingin membuat replika. Tak dimungkiri, sebagian dari mereka masih sulit memahami.
“Kalau dibandingkan dengan new born baby photography, jumlah peminat replika 3D memang belum sebanyak itu. Banyak pertimbangan dari orangtuanya. Ada yang bingung mau dipajang di mana dan pasti harus mengeluarkan bujet lebih kan,” imbuh pemilik dari Golden Jade Photography itu.
Replika 3D tersebut dibanderol dengan harga variatif. Bergantung pada usia bayi. Versi yang sudah dilengkapi pigura, dua foto, dan replika sepasang tangan dan kaki dipatok Rp 1 juta. Kalau hanya ingin satu kaki dan tangan pun bisa, mulai Rp 700 ribu. Itu khusus usia 0–3 bulan. Tambahan lain, biasanya di pigura akan ditambah dengan tali pusar, potongan kuku dan rambut, atau gelang rumah sakit si ibu. Sesuai permintaan. Di atas itu, harganya bertambah karena bahannya semakin banyak. Sekitar Rp 1,5 juta.
Namun, replika 3D tak hanya untuk bayi. Anak-anak hingga dewasa pun bisa. Kini, populernya memang masih untuk para bayi.
“Ke depannya saya ingin mengembangkan replika 3D bagi orang dewasa. Untuk pasangan bahkan di bidang perusahaan juga bisa. Misal untuk perjanjian kerja sama atau cap pembukaan perusahaan. Cakupannya ingin lebih luas dan untuk semua umur,” kuncinya. (*/ysm/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria