Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

“New Normal” Iman Pascaramadan

izak-Indra Zakaria • Jumat, 29 Mei 2020 - 21:54 WIB
Photo
Photo

Bambang Iswanto

Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda

 

 

ISTILAH yang termasuk paling populer saat ini adalah new normal. Masih terkait dengan pandemi Covid-19. Tatanan kehidupan baru, penjelasan paling sederhana dari istilah new normal.

Dalam konteks pandemi Covid-19, bisa diterjemahkan sebagai perubahan perilaku dalam menjalankan aktivitas normal seperti biasa dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat, dengan tidak meninggalkan tujuan mencegah penyebaran virus.

Sampai sekarang, petunjuk teknis (juknis) sudah dimatangkan untuk diterapkan secara bertahap sampai ada vaksinasi Covid-19. Yang diperkirakan bisa digunakan pada 2021. Selama menunggu vaksin “mari berdamai dengan Covid-19” bahasa yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengilustrasikan new normal. Bukan menyerah mengatasi virus, tetapi menyesuaikan diri dengan Covid-19 dalam berkehidupan normal seperti biasa, dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Biarlah para pandemiologis dan ahli lain yang merancang cara terbaik bagaimana new normal dapat diterapkan agar denyut ekonomi menggeliat, sektor pendidikan bergairah, ibadah, dan sektor lain bisa berjalan normal seperti biasa di tengah wabah.

New normal, istilah yang tidak hanya bisa digunakan terkait Covid-19. Dalam hubungan dengan perilaku dan keimanan seseorang pascaramadan pun bisa diterapkan.

SINDROM SYAWAL

Iman itu fluktuatif. Hal itu disebutkan dalam sebuah hadis, iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ramadan merupakan momentum peningkatan iman karena fasilitas super yang diberikan Allah.

Fasilitas itu tidak didapatkan pada bulan lain, seperti setan yang dibelenggu, pintu-pintu langit dibuka lebar, bonus pahala berlipat ganda, kemudahan mendapatkan ampunan dan seabrek fasilitas lain mampu memotivasi seorang muslim untuk meningkatkan kadar keimanannya.

Eskalasi keimanan tersebut diwujudkan dengan berusaha menjalankan perintah Allah seperti puasa, tarawih, tadarus, iktikaf, berderma. Ejawantah dari peningkatan kadar keimanan juga dengan meninggalkan larangan-larangan agama seperti berbohong, berbuat zalim, dan maksiat.

Pascaramadan, banyak umat muslim yang tidak bisa mempertahankan keimanannya seperti pada Ramadan. Intensitas ibadah dan rasa mendekatkan diri berkurang. Ketika Ramadan akrab dengan Al-Qur’an dan membacanya, pascaramadan sudah jarang disentuh dan dibaca.

Amalan-amalan sunah giat dilaksanakan ketika bulan puasa, setelahnya tidak giat lagi. Demikian pula dalam meninggalkan perbuatan yang dilarang. Ketika Ramadan mampu menahan diri untuk tidak berbohong, tidak menyebar hoaks, dan tidak berkata kasar. Pascaramadan kebiasaan lama yang negatif kembali dilakukan.

Inilah sindrom syawal. Terjadi pada umat muslim di mana-mana. Gejalanya hampir sama, kembali kepada kebiasaan lama dan seolah-olah Ramadan tidak memberikan bekas mendalam.

Sejatinya, tujuan ibadah Ramadan dan tujuan puasa membentuk keimanan dan ketakwaan yang istikamah dan tidak luntur. Jika tidak bisa mempertahankan, minimal turunnya tidak banyak. Jangan sampai pada level terjun bebas.

Keimanan bisa turun pascaramadan merupakan hal yang bisa dimafhumi. Kebanyakan orang memang suka diberikan fasilitas agar termotivasi. Motivasi beribadah dan meningkatkan keimanan sering hilang seiring hilangnya fasilitas. Ketika sudah tidak ada lagi fasilitas belenggu setan, bonus pahala, keberkahan ampunan, dan lain-lain, motivasi meningkatkan iman juga lenyap.

Hanya sedikit, yang mampu tetap termotivasi tanpa ada fasilitas dan ancaman dari Allah. Tanpa ada fasilitas dan ancaman mereka tetap mempertahankan keimanan dan ketakwaan pada level tertinggi. Itulah golongan kekasih-kekasih Allah. Mereka sudah tidak peduli surga dan neraka.

Dekat dengan Allah adalah kewajiban yang tidak ada kaitannya dengan pahala yang harus dikejar atau dosa yang harus dijauhi. Bagi mereka, beribadah merupakan keniscayaan dan bentuk syukur kepada Allah.

Bagi umat Islam kebanyakan, yang tidak bisa meniru kekasih-kekasih Allah, cukup mempertahankan iman jangan sampai merosot tajam apalagi kehilangan iman. Wajarlah iman bisa naik dan bisa turun sebagaimana yang diungkap rasul dalam telah disebut di atas. Bisa naik sangat bagus, jika turun wajar, asal jangan turun drastis. Dan di-charge ulang penuh dalam momentum tertentu, Ramadan salah satunya.

NEW NORMAL IMAN

Bagaimana iman bisa tidak sampai turun secara drastis apalagi hilang? Mungkin strategi “new normal” bisa diterapkan. Tatanan kehidupan baru pascaramadan diterapkan. Mulai membiasakan diri istikamah dengan selalu mengingat dan mendekatkan diri dengan Tuhan seperti Ramadan, meski setan sudah tidak dibelenggu lagi. Sifat-sifat syaithaniah yang senantiasa menggoda tersebut yang belenggunya dilepaskan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tatanan hidup manusia dalam keseharian.

Dalam kiasan new normal, seorang muslim tidak boleh menyerah dan tunduk dengan godaan-godaan setan yang terus ada dan harus membiasakan diri selalu berdampingan dengan godaan-godaan tersebut. Tidak bersembunyi dari godaan, tapi melawannya dengan protokol keimanan dan ketakwaan yang diajarkan rasul dan Allah dari Al-Qur’an dan sunah serta para ulama.

Toh godaan buktinya memang selalu menyertai manusia. Karena sejak awal manusia diciptakan memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa dan kecenderungan bertakwa (faalhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa).

Manusia diberikan akal dan pikiran untuk menentukan pilihan dari dua kecenderungan tersebut. Jika akal pikiran digunakan untuk mengikuti protokol (baca: pedoman) takwa dan iman yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, maka jadilah ia golongan orang yang istikamah, mampu menjaga keimanan dan ketakwaannya. Sebaliknya jika abai, masuk golongan orang yang kufur, melakukan dosa-dosa, maksiat dan tidak mampu mempertahankan keimanannya.

Godaan korupsi bagi yang berkedudukan, godaan mencuri, merampok, menjajakan diri ke lembah hitam bagi yang lemah ekonomi, godaan bertindak zalim bagi yang berkuasa, godaan mengurangi timbangan bagi pedagang, godaan sombong bagi yang berilmu, godaan bakhil yang punya harta banyak dan seterusnya akan selalu berdampingan dalam hidup tanpa bisa dihindari.

Semua harus dilawan dengan petunjuk agama, seperti selalu mengingat Allah dan kebesaran-Nya di manapun, bukan hanya di atas sajadah. Selalu berbagi ketika diberikan kelonggaran harta, bertanggung jawab dunia akhirat ketika diamanahi jabatan dan seterusnya.

Semoga keimanan kita istikamah pascaramadan dan diperjumpakan kembali dengan Ramadan berikutnya. Amin. (rom/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Kolom Pembaca