Oleh:
Dadang IK Mujiono
Mahasiswa S3 Departemen Asia Tenggara National University of Singapore
Adolf Hitler mengatakan “Orang yang tidak memiliki rasa sejarah, adalah seperti orang yang tidak memiliki telinga atau mata” maka sudah sewajarnya manusia harus belajar sejarah, khususnya sejarah negara sendiri, Indonesia.
Banyak literatur sejarah di Indonesia mulai dari buku untuk SD sampai perguruan tinggi mengatakan bahwa Indonesia dijajah oleh kolonial Belanda selama 350 tahun. Namun jika kita telaah dari sejarah Indonesia, kedatangan bangsa Belanda ke Nusantara (pada saat itu Indonesia belum ada) pertama kali di Bantam (Banten) di tahun 1596.
Jika kita kurangi dari tahun 1945-1596, ya benar kira-kira Belanda sudah berada di Indonesia selama 349 tahun. Namun, apakah benar Belanda menjajah selama 349 tahun? Tentu banyak versi.
Kedatangan Belanda pada saat itu awalnya tidak untuk menjajah Nusantara, melainkan berdagang dengan kerajaan setempat khususnya rempah-rempah. Datangnya bangsa Belanda merupakan perwakilan dari persatuan pedagang Belanda yang dikirim dari Amsterdam untuk mencari informasi mengenai rempah-rempah yang dibutuhkan masyarakat Eropa.
Pada saat itu ekspedisi Belanda ke Nusantara dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Seiring berjalannya waktu, pedagang Belanda berhasil mengendalikan perdagangan di Asia dan akhirnya mendirikan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebuah perserikatan dagang yang bertujuan memonopoli aktivitas dagang di Asia pada tanggal 20 Maret 1602. Banyak sejarawan mengatakan berdirinya VOC adalah cikal bakal penjajahan Belanda di Indonesia/Nusantara.
Hadirnya VOC sendiri tidak serta-merta dengan mudah menguasai seluruh SDA yang ada di Nusantara. Sejak berdiri di Batavia (Jakarta) 1603, VOC mengalami banyak tantangan, di antaranya peperangan yang dilakukan oleh kerajaan Banten dan Mataram. Bahkan di 1613-1648 Mataram dan Banten melakukan penyerangan terhadap Batavia yang didukung oleh VOC namun gagal.
Uniknya seiring berjalannya waktu Belanda dan Kerajaan Mataram justru bekerja sama melawan kekuatan laut seperti Kerajaan Banten dan berbagai kerajaan lainnya. Adanya hubungan yang erat tersebut dilatarbelakangi oleh politik Belanda yang merangkul kerajaan setempat untuk berdagang dan mencari untung bersama-sama.
Adanya konflik di antara kerajaan di Nusantara juga dimanfaatkan Belanda sebagai pihak penengah dan memberikan banyak bantuan kepada pihak-pihak tertentu untuk memenangkan peperangan, tentunya dengan imbalan kepada Belanda. Salah satunya terjadi ketika peperangan antara Pangeran Muda Trunojoyo dari Medan melawan Putra Mahkota Mataram.
Pertanyaan yang muncul di saat sekarang, apakah Belanda menjajah Nusantara? Pada kenyataannya Belanda memang memiliki kekuatan politik dan militer yang kuat di Jawa, namun perlu dicatat, tidak akan pernah ada perkembangan politik di antara kerajaan di Nusantara tanpa ada intervensi Belanda.
Sehebat-hebatnya VOC berperan dalam politik dan perdagangan di Nusantara, toh akhirnya VOC runtuh karena korupsi, biaya perang dan biaya operasional yang besar. Tepat di tahun 1789 ketika Revolusi Perancis, VOC dinyatakan bangkrut dan seluruh aset dan wilayah dagang serta kekuasaan VOC resmi diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Sejak saat itu wilayah yang dikuasai pemerintah Belanda secara resmi disebut sebagai Netherland Indies.
Raja Pertama Belanda yang ada di Nusantara disebut Louis Napoleon (Adik dari Kaisar Napoleon). Sejak saat itu Raja Napoleon melakukan restrukturisasi organisasi wilayah kekuasaannya di Nusantara, memerangi korupsi dan menghancurkan struktur VOC.
Sejak saat itu juga, dia membagi-bagi wilayah di Jawa secara jelas dengan memperkenalkan istilah “residencies” (Provinsi) dan akhirnya Netherlands Indies dikenal sebagai negara pertama di Asia dengan birokrasi dan administrasi yang sangat terstruktur setelah Revolusi Prancis 1789.
Sejak berdiri pada 1789, Pemerintah Belanda mulai menjajah Nusantara tanpa ada pertempuran yang berarti. Meskipun pada 1825 terdapat pergantian kekuasaan di Nusantara dari Inggris kembali ke Belanda.
Namun secara umum pendudukan Belanda berjalan secara damai, situasi berbeda terjadi di Yogyakarta dimana peperangan terjadi antara Kerajaan Jogjakarta (Kraton) melawan kekuatan dari Barat (Inggris dan Belanda).
Peperangan kembali terjadi dan kali ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan kekuatan Barat. Peperangan terjadi selama 5 tahun (1825 – 1830) dan berakhir setelah Belanda menawarkan perjanjian damai kepada Pangeran Diponegoro. Namun perjanjian tersebut ternyata jebakan Belanda, dan akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan di benteng Roterdam Makassar.
Sejak saat itu Belanda boleh dikata mulai mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat Nusantara. Pada 1830-1870 sistem tanam paksa mulai dikenalkan untuk memacu pertumbuhan perkebunan di Nusantara yang tentunya menguntungkan pemerintah Belanda.
Seiring berjalannya waktu, Belanda mulai meluaskan wilayah kekuasaannya di Nusantara. Perluasan wilayah sebagian besar dilakukan atas dasar perjanjian antara Belanda dan penguasa setempat dan tanpa peperangan. Ketika Belanda mengambil alih wilayah Timur dan Selatan provinsi Susuhunan (Jawa), Belanda memberikan banyak uang kepada aristokrat lokal dan pejabat setempat mulai dari gubernur sampai pejabat setingkat kepala desa. Hal ini juga terjadi ketika Belanda datang untuk mengeksploitasi SDA di Kesultanan Kutai Kartanegara.
Pada saat itu, alih-alih berperang dengan Kesultanan Kutai, Belanda justru menjadi pihak yang memberikan banyak keuntungan bagi para Sultan di Kutai melalui tunjangan tahunan yang diterima oleh Sultan atas konsesi pengelolaan SDA di Kutai Kartanegara.
Kembali ke pertanyaan di awal, apakah pemerintah Belanda telah menjajah Indonesia 350 tahun? Jika kita lihat dari penjelasan di atas, kedatangan Belanda dibagi menjadi dua periode. Pertama pada 1596 masa VOC, dan pada 1789 masa Netherlands Indies. Adapun istilah penjajahan tampaknya perlu dikaji lebih lanjut, karena sekalipun Pemerintah Belanda menguasai wilayah Nusantara, namun itu semua atas dasar kesepakatan bersama antara Pemerintah Belanda dan raja-raja setempat.
Kemudian di masa VOC, kedatangan Belanda justru lebih berorientasi pada aktivitas perdagangan ketimbang menguasai Nusantara. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sistem tanam paksa dan kerja paksa serta intervensi politik terhadap kerajaan di Nusantara baik yang dilakukan oleh VOC atau pemerintah Belanda menjadi bukti nyata kekejaman Belanda di Nusantara pada masa kolonialisasi.
Oleh karena itu narasi 350 tahun sering digunakan oleh Soekarno untuk membakar semangat masyarakat Indonesia agar seluruh masyarakat Indonesia satu suara melawan Belanda demi kemerdekaan Indonesia. (rdh/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria