Bambang Iswanto
Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
BERBICARA tentang sulap jalanan, Zack Mirza adalah salah satu yang tidak bisa ditinggalkan. Zack merupakan pesulap jalanan terkenal, pengisi acara sulap “illusion of Grandeur”, yang disiarkan sebuah televisi besar di Amerika Serikat (AS). Aksi sulap jalanannya selalu membuat para pejalan di kota besar AS terkesan.
Dalam setiap aksinya di jalanan kota besar AS seperti Toronto, New York, Austin, Las Vegas, dan Detroit, Zack menjadikan latar jalanan mulus sebagai aksi panggungnya. Terlihat jalan-jalan bagus, rata, dan mulus yang tentunya nyaman dilalui oleh pengendara apapun termasuk pejalan kaki.
Cukup sampai di sini tentang pesulap jalanan Zack Mirza dengan aksi sulap jalanannya yang selalu menarik ditonton secara gratis oleh para penonton yang merupakan pejalan kaki.
Ada yang lebih menarik dibandingkan pesulap jalanan tersebut di Samarinda. Tidak jauh dari kata sulap dan jalanan. Lebih tepatnya menyulap jalanan. Istilah ini menjadi trending seiring dengan kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan beberapa menteri, beberapa hari lalu.
Istilah sulap jalanan sebenarnya merujuk kepada kondisi jalanan yang tiba-tiba berubah. Dari kondisi jelek, berlubang, banyak genangan air, bolong-bolong, tidak rata, bergelombang, dan seterusnya menuju kondisi mulus, rata, dan tidak bolong-bolong. Perubahan itu tidak perlu memakan waktu lama, dalam hitungan “sekejap” hari.
Itulah sebabnya disebut sebagai sulap. Sebagian media menyebutnya jalanan “sim salabim” sebuah ucapan lazim seperti mantra yang mendahului aksi sulap. Sulapannya adalah jalan rusak tiba-tiba mulus.
Salahkah proyek sim salabim jalanan itu? Jawabannya bisa macam-macam, bergantung niatnya. Jika niatnya benar-benar ingin memperbaiki jalanan karena keperluan atau hajat orang banyak, tentu saja itu niat yang sangat mulia. Warga pasti mendambakan jalan yang di kotanya mulus, rata, dan tidak berlubang. Sehingga nyaman dijalani oleh siapa pun.
Seluruhnya sadar bahwa jalan merupakan hal yang sangat penting. Jalan bisa menentukan kenyamanan berurusan orang banyak yang akhirnya bermuara pada lancarnya perputaran ekonomi suatu daerah. Jika jalan bagus, roda ekonomi bisa bagus. Sebaliknya jika jalan suatu daerah banyak yang rusak, maka gerak roda perekonomian bisa terhambat.
Pemulusan jalan akan bermasalah jika niatnya hanya untuk “dipersembahkan” kepada segelintir pejabat yang akan datang, presiden dan menteri pendampingnya. Bukan untuk didedikasikan kepada rakyat.
Presiden dan menteri dalam hitungan tahun atau dalam hitungan masa pemerintahannya mungkin hanya sekali atau dua kali melewati jalanan yang disulap. Sementara masyarakat yang menggunakan jalanan tersebut sangat sering bahkan ada yang setiap hari.
Sangat tidak adil rasanya jika jalan tersebut disajikan untuk beberapa orang saja yang bahkan mungkin tidak meminta jalan tersebut dimuluskan. Bisa jadi Presiden Jokowi akan marah jika mendengar bahwa jalan diperbaiki untuk kepentingan kedatangannya saja. Dan bukan tidak mungkin kedatangannya justru ingin melihat kondisi rili di lapangan bagaimana jalan yang sering dilewati oleh rakyatnya.
Sangat bisa dimaklumi jika banyak warga yang kecewa dan terkaget-kaget dengan aksi sulap bukan ilusi proyek jalanan itu. Mereka sudah kenyang melewati jalan yang banyak berlubang dan dalam waktu tertentu sering macet, karena kendaraan antre bergantian melewati sisi jalan yang masih mulus. Keluhan masyarakat yang telah menderita lama karena jalanan rusak tidak direspons dengan cepat.
Selama ini masyarakat pengguna jalan dipaksa untuk ikhlas menikmati jalan rusak, sampai akhirnya jalan rusak tersebut tiba-tiba berubah mulus “hanya” karena kedatangan beberapa pengguna jalan istimewa yang menggunakan jalan sebentar saja.
Sekali lagi jika niatnya hanya untuk menyenangkan Bapak Presiden dan beberapa menteri, komitmen para pejabat berwenang untuk melayani dan menyejahterakan rakyat perlu diragukan. Perlu ditinjau kembali janji dan sumpah mereka. Masihkah berpegang kepada janji menyejahterakan rakyat atau sebaliknya mengabdi kepada atasan?
Jika itu yang terjadi, maka harusnya para pemimpin lebih banyak belajar dari sejarah dan meneladaninya. Di antaranya, riwayat ataupun kisah bagaimana Khalifah Umar bin Khattab pernah mengatakan jika ada kondisi jalan di daerah Irak yang rusak karena penanganan pembangunan yang tidak tepat, kemudian ada seekor keledai yang terperosok ke dalamnya, maka ia (Umar) bertanggung jawab karenanya.
Ucapan Umar di atas sebenarnya kiasan yang menggambarkan bagaimana pemimpin sepertinya bertanggung jawab penuh terhadap kualitas jalanan pada masa pemerintahannya. Yang dijadikan contoh celaka di jalan bukan manusia tetapi keledai. Logikanya, jika hewan saja dikhawatirkan apalagi manusia.
Umar ingin mengatakan, “seandainya seekor keledai terperosok di Irak karena jalanan rusak, aku takut ditanyai Allah, mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”. (rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria