Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lebih Kering dari Biasanya, Puncak Kemarau di Kaltim Mulai Agustus sampai Oktober

izak-Indra Zakaria • 2023-07-31 21:00:00
Bendungan Benanga di Samarinda yang tampak surut dan mulai kering.
Bendungan Benanga di Samarinda yang tampak surut dan mulai kering.

Mulai Agustus hingga Oktober nanti, Kaltim berpotensi dilanda kebakaran hutan dan lahan, gagal panen, hingga mengeringnya sumber air baku yang selama ini mengandalkan tadah hujan.

 

BALIKPAPAN-Tahun ini puncak musim kemarau di Kaltim diperkirakan lebih kering dibanding sebelumnya. Menurut perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal itu dipicu fenomena el nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang datang bersamaan.

“Tiga tahun terakhir Kaltim dilanda kemarau basah. Tahun ini kami prakiraan kemarau yang normal. Maksudnya enggak basah lagi. Dengan puncaknya di bulan Agustus dan September. Dan ditambah kalau ada sampai (el nino) moderat, potensinya sampai Oktober,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG Balikpapan Kukuh Ribudiyanto kepada Kaltim Post, Minggu (30/7).

Untuk diketahui, el nino adalah pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normal. Meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di beberapa wilayah, termasuk Indonesia. Sementara IOD, merupakan fenomena osilasi (variasi periodik terhadap waktu dari suatu hasil pengukuran) suhu air permukaan laut yang tak teratur, sehingga menyebabkan wilayah barat Samudra Hindia lebih hangat, dan lebih dingin dibandingkan wilayah timur Samudra Hindia.

Kukuh melanjutkan, Agustus nanti, Kaltim bagian selatan meliputi sebagian wilayah Penajam Paser Utara (PPU) dan seluruh wilayah Paser, serta Kaltim bagian timur, yakni Samarinda dan Kutai Kartanegara (Kukar), termasuk Kaltim bagian utara, yaitu sebagian wilayah Berau, akan mengalami curah hujan yang rendah. Berkisar 50–100 milimeter per bulan.

Kemudian memasuki September, giliran Kaltim bagian timur, yakni seluruh wilayah Bontang, sebagian wilayah Kutai Timur (Kutim), Samarinda, dan Kukar, dan wilayah Kaltim bagian barat, yaitu sebagian wilayah Kutai Barat (Kubar), mengalami hujan dengan intensitas rendah yang terjadi pada dini hari, pagi dan siang atau sore. Hal serupa juga akan melanda Kaltim bagian selatan. Yakni sebagian wilayah Balikpapan dan PPU, serta seluruh wilayah Paser. Sementara itu, pada Oktober, giliran Kaltim bagian utara, yakni sebagian wilayah Berau, Kaltim bagian timur, meliputi sebagian wilayah Kutim dan Bontang, serta Kaltim bagian selatan, terdiri dari sebagian wilayah PPU dan seluruh wilayah Paser menghadapi cuaca ekstrem.

“Jadi selama puncak musim kemarau ini, pemanfaatan air untuk kebutuhan dari sisi pertanian harus menjadi perhatian. Dengan menggunakan strategi jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air. Kaltim dominan perkebunan walaupun ada beberapa yang menggarap pertanian. Apabila musim tanam dan membutuhkan air sampai September dan Oktober, maka akan terjadi potensi gagal panen,” katanya.

Selain itu, sumber air baku harus diwaspadai. Apalagi kalau sampai el nino moderat hingga Oktober nanti. Maka akan mengakibatkan curah hujan yang sangat rendah. Tidak kalah pentingnya, sambung dia, selama periode tersebut, masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Sebab, kondisi cuaca panas rentan menyebabkan kebakaran hutan. Ketika kemarau, curah hujan di bawah normal, sehingga berdampak pada kelembapan yang berkurang. Sementara di sisi lain, terjadi angin kencang dan suhu tinggi.

“Itu yang menjadikan indeks potensi kebakaran hutan saat kemarau nanti menjadi tinggi. Puncak kemarau yang lebih kering ini akan lebih dirasakan pada wilayah Kaltim bagian selatan,” terang dia. Pada bagian lain,

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta pemerintah daerah perlu segera melakukan aksi mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan sangat kering ini.

”Lahan pertanian berisiko mengalami puso alias gagal panen akibat kekurangan pasokan air saat fase pertumbuhan tanaman,” ungkapnya pekan lalu. Akan tetapi, lanjut Dwikorita, di sektor perikanan, kondisi tersebut biasanya justru berpotensi meningkatkan tangkapan ikan. Itu terjadi karena perubahan suhu laut dan pola arus selama el nino dan IOD positif yang mendingin. ”Karena itu, peluang dari kondisi ini harus dimanfaatkan, sehingga dapat mendukung ketahanan pangan nasional,” jelas dia.

Dwikorita mengatakan, fenomena el nino dan IOD positif yang saling menguatkan membuat musim kemarau tahun ini menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah. Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, pada musim kemarau ini menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali. ”Puncak kemarau kering ini diprediksi terjadi pada Agustus hingga awal September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan 2020, 2021, dan 2022,” paparnya.

Berdasar pengamatan BMKG, indeks el nino pada Juli ini mencapai 1,01 dengan level moderat, sementara IOD sudah memasuki level indeks yang positif. Sebelumnya, pada Juni hingga dasarian 1 bulan Juli, el nino masih dalam level lemah sehingga dampaknya belum dirasakan.

Namun, setelah itu, el nino dan IOD positif yang sifatnya global dan skala waktu kejadiannya panjang dalam hitungan beberapa bulan terjadi dalam waktu yang bersamaan. ”Dalam rentang waktu tersebut, sebagian wilayah Indonesia masih ada yang diguyur hujan akibat adanya dinamika atmosfer regional yang bersifat singkat, sehingga pengaruh el nino belum dirasakan secara signifikan,’’ kata Dwikorita.

Sementara itu, Plt Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, sepanjang musim kemarau ini, sektor pertanian bisa terdampak. Terutama lahan pertanian tadah hujan yang masih menggunakan sistem pertanian tradisional yang sangat bergantung pada iklim dan curah hujan. Selain itu, kondisi kekeringan tersebut dapat berujung pada bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jika tidak terkendali, hal itu bisa menimbulkan krisis kabut asap.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kualitas lingkungan, tetapi juga ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat. ”Belum lagi, di musim kemarau udara akan menjadi lebih kering dan banyak debu, sehingga juga sangat rentan terhadap persebaran penyakit,” ujarnya. Ardhasena mengingatkan semua pihak untuk menghemat penggunaan air di dalam maupun luar rumah. Kemarau kering yang melanda akibat el nino dan IOD positif diperkirakan membuat debit air sungai maupun sumber mata air mengalami penurunan. Hal tersebut dapat berdampak pada ketersediaan dan pasokan air bersih. (riz/k16)

 

RIKIP AGUSTANI

ikkifarikikki@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria