JAKARTA – Biaya masuk Fakultas Kedokteran (FK) memang lebih mahal dibandingkan fakultas lain. Namun, peminatnya tetap tinggi. Penetapan biaya kuliah di FK menjadi otoritas kampus masing-masing.
Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), uang kuliah tunggal (UKT) yang harus dibayar mahasiswa program studi (prodi) pendidikan kedokteran sebesar Rp 20 juta per semester. Untuk jalur mandiri, mahasiswa dikenai biaya sumbangan pengembangan institusi (SPI) sebesar Rp 150 juta yang harus dibayar satu kali saat daftar ulang. Namun, angka Rp 150 juta itu adalah tarif minimal. Berapa maksimalnya? Dalam situs resmi ITS tidak disebutkan batasan maksimalnya.
Di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), biaya kuliah fakultas kedokteran juga lebih tinggi dibanding fakultas lain. ”Karena pembelajarannya juga beda. Lebih banyak kegiatan laboratorium dibandingkan jurusan-jurusan lain," ujar Kepala Direktorat Humas dan Informasi Publik Vinda Maya Setianingrum.
Besaran SPI dibagi menjadi empat kategori yang bisa dipilih mahasiswa saat mendaftar. Kategori pertama sebesar Rp 250 juta, kategori kedua Rp 300 juta, kemudian Rp 350 juta, dan Rp 400 juta. ”Mereka pilih sesuai kemampuan. Itu untuk dibayar hanya sekali di semester I. Atau bisa skema cicil dua kali," terangnya. Yaitu, 50 persen dibayar di semester I dan pelunasan 50 persen di semester II.
Untuk biaya UKT, Unesa sudah menentukan delapan kategori di tiap jurusan. ”Jalur mandiri dikenakan kategori 5 sampai 8," ucap Vinda. Masing-masing kategori untuk FK Unesa adalah Rp 18 juta, Rp 21,5 juta, Rp 25 juta, dan Rp 30 juta.
Dari Jakarta, Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi SpOT meminta ada standardisasi biaya untuk pendidikan dokter dan dokter spesialis. Dengan begitu, tidak ada biaya yang besar untuk pendidikan dokter. Dia juga meminta ada subsidi pendidikan dokter dari pemerintah. “Dulu ada subsidi,” katanya.
Dia memahami kenapa universitas mematok biaya pendidikan dokter yang beragam dan cenderung lebih mahal dibanding jurusan lain. Menurut Adib, universitas memiliki kewenangan dan telah menghitung sendiri. “Standar biaya itu harus dibuat agar tidak terjadi komersialisasi. Jangan hanya minta rektor untuk pendidikan murah,” ucapnya.
Sementara itu, ditemui usai Rapat Koordinasi Persiapan Pengadaan ASN 2023, di Jakarta, Kamis (3/8), Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menampik tudingan pembukaan FK baru terkait komersialisasi pendidikan kedokteran. Dia memastikan, ada kebutuhan mendesak atas pemenuhan jumlah dokter umum di Indonesia.
”Nggak, nggak ada itu (ajang cari uang kampus). Kita pun sudah melakukan koordinasi dengan kementerian pendidikan. Nggak ada hubungannya dengan masalah keuangan,” tegasnya.
Menurut dia, jika merujuk aturan WHO, rasio yang digunakan adalah 1:1.000 antara dokter umum dan jumlah penduduk. Namun, saat ini Indonesia masih di angka 0,62:1000 penduduk. ”Jadi masih kurang banyak dokter untuk ditempatkan berdasarkan jumlah rasio penduduk. Oleh karena itu, kita buka FK baru agar pemenuhan tenaga dokter menjadi cukup di daerah,” paparnya.
Selain memperbanyak jumlah tenaga kedokteran melalui pembukaan FK baru ini, Dante juga menyatakan bahwa proses distribusi terus dimatangkan. Dengan demikian, penyebaran tenaga dokter bisa sesuai dengan kebutuhan di daerah. Selain itu, pihaknya terus mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan pengangkatan ASN dokter yang sudah ada formasinya di daerah tersebut. Diakuinya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah menyiapkan kuota, namun pemda tak kunjung mengusulkan formasinya.
”Ada 42 pemda yang tidak mengusulkan formasi. Karenanya, distribusi dokter akan didukung oleh proses afirmasi,” ungkapnya.
Afirmasi ini misalnya, lanjut dia, tenaga kesehatan di daerah tersebut disekolahkan untuk masuk FK. Lalu, ketika lulus akan kembali ke daerah dan menjadi ASN di sana. “Sehingga distribusi di daerah yang kekurangan bisa lebih baik,” jelasnya.
Kemenkes juga memberikan beasiswa LPDP pada 2.500 mahasiswa pendidikan dokter tahun ini. Nantinya mereka dikirim ke daerah-daerah yang kekurangan tenaga dokter. (mia/lyn/dya/oni/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria