TANA PASER - Wisata Kuliner (Wiskul) Sungai Tuak yang dibangun pemerintah daerah di Desa Sungai Tuak, Kecamatan Tanah Grogot, pada 2022 dan diresmikan pada Maret 2023, kualitas bangunannya dikeluhkan pedagang. Dari 20 kontainer buatan beratap dengan jumlah 40 pintu, kondisi lantai duanya mulai keropos dan bocor jika hujan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Paguyuban Wiskul Sungai Tuak Zulkifli. Dia memperlihatkan sejumlah kondisi dalam kontainer pedagang yang memprihatinkan. Keluhan ini sudah disampaikannya kepada Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Paser, DPRD Paser, sampai bersurat ke bupati. Puncaknya digelar rapat pada 27 September di bagian ekonomi, Setkab Paser terkait masalah ini.
"Satu hal yang paling berbahaya adalah kami tidak ingin ada korban karena kondisi kontainer seperti ini. Sempat ada dua pedagang yang kesetrum karena kondisi lantai dua bocor saat hujan, akibat instalasi listrik terkena air hujan yang bocor," kata Zulkifli, Senin (23/10) di hadapan awak media.
Pedagang tidak menginginkan sampai ada insiden karena kondisi bangunan lantai dua kontainer yang bocor dan rapuh. Total ada 60 pedagang yang terdaftar di Wiskul Sungai Tuak ini. Sebanyak 20 pedagang mengisi kontainer satu lantai, 40 lainnya mengisi kontainer dua lantai, atau ada lapak bisa di lantai dua. Pedagang berharap ada solusi sementara dari pemerintah untuk perbaikan kondisi kontainer ini.
Terpisah Plt Kepala Disporapar Paser Arief Rahman menyampaikan, sejak dia menjabat pada September 2023, permasalahan ini sudah sampai ke telinganya. Dia menjelaskan alur penganggaran untuk proyek pembangunan Wiskul Sungai Tuak itu yang dibangun pada 2022 senilai Rp 4,5 miliar, namun baru selesai pada awal 2023. Ada keterlambatan penyelesaian karena suatu hal teknis. Ketika ada permasalahan bangunan di tahun 2023 sampai selesai masa pemeliharaan, dinas tentu belum ada menganggarkan kembali untuk perbaikan.
"Ada usulan di APBD Perubahan 2023 ini, tapi tidak jadi disetujui karena tidak mungkin di tahun yang sama ada penganggaran satu proyek," jelas Arief.
Sehingga, solusinya adalah dianggarkan di tahun berikutnya, dengan catatan audit dari inspektorat telah selesai. Audit itu karena di APBD Perubahan 2023 ini, ada anggaran pembayaran sekitar Rp 600 juta untuk penyelesaian pembayaran proyek tahun 2022 tersebut yang belum lunas sepenuhnya kepada kontraktor. Informasi yang dia terima, proyek itu baru 85 persen pembayarannya, tidak dibayar lunas karena progresnya melewati tahun tunggal (2022-2023).
"Jadi, tidak mungkin dinas menganggarkan kembali perbaikan jika audit ini belum selesai," kata Arief.
Terpisah, perwakilan dari kontraktor pembangunan Wiskul, Khoirul dari CV Rachfi Baru Mandiri menjelaskan, pihaknya mengerjakan proyek tersebut hanya mengikuti gambar dari perencanaan yang sudah dibuat konsultan. Selama pelaksanaan pekerjaan di lapangan sampai selesai, tidak ada komplain perubahan dari dinas. Ada kerusakan lantai dua saat masa pemeliharaan, dan itu sudah langsung diperbaiki oleh kontraktor. Saat ini, sudah lewat masa pemeliharaan.
Khoirul membeberkan pelaksanaan pekerjaan pada tahun 2022 itu molor sampai awal 2023, karena medan untuk angkutan material yang tidak mendukung. Jembatan Kandilo saat itu sedang perbaikan dan ditutup. Sehingga, material yang menggunakan kendaraan roda empat harus mengelilingi Kecamatan Paser Belengkong untuk sampai ke lokasi pekerjaan. Hal itu yang membuat pekerjaan molor dan mendapatkan kompensasi dari dinas.
"Untuk keluhan pedagang terkait lantai dua, kami sudah berkomunikasi ke dinas untuk mencarikan solusi sementara," kata Khoirul.
Solusi itu adalah perbaikan lantai tersebut dengan material yang sesuai keinginan dinas. Kontraktor tidak ingin memperbaiki kembali, tapi akhirnya rusak lagi karena perencanaan tidak matang. Meskipun ini tidak memakai anggaran pemerintah, Khoirul menyebut ini adalah wujud tanggung jawab moril kontraktor kepada pedagang, walaupun masa pemeliharaan sudah selesai.
Dari total anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan ini Rp 4,5 miliar, Khoirul mengatakan belum seluruhnya terbayar, baru 85 persen. Tidak dibayar sepenuhnya karena keterlambatan pelaksanaan sampai tahun 2023. Seharusnya, sisanya sekitar Rp 600 juta dibayarkan pada APBD Perubahan 2023 ini.
Saat peresmian kawasan ini pada 21 Maret 2023, Bupati Paser Fahmi Fadli menyebutkan pembangunan Kawasan Wisata Terpadu Kuliner Sungai Tuak ini masih banyak kekurangannya, namun ia meminta kepada Disporapar Paser untuk segera melengkapi sarana dan prasarana yang kurang.
"Saya berharap, kekurangan-kekurangan itu segera dilengkapi, baik itu penataan parkir, jalan masuk ke wisata terpadu, sound system, pencahayaan dan lainnya," kata Fahmi.
Dikatakannya Kawasan Wisata Terpadu Kuliner Sungai Tuak merupakan bentuk perhatian Pemkab Paser terhadap upaya peningkatan ekonomi rakyat di Kabupaten Paser khususnya UMKM lokal.
"Kami harapkan agar dinas terkait benar-benar dapat membina para UMKM lokal dalam hal menawarkan, memasarkan maupun membuat brand produknya," ujarnya.
Selain area kuliner, di kawasan wisata kuliner terpadu ini juga telah disediakan panggung terbuka. Diharapkan dapat dimanfaatkan untuk ajang kreativitas seperti pertunjukan musik, tari budaya adat daerah dan lainnya agar dapat dinikmati masyarakat.
Dengan diresmikannya kawasan wisata terpadu kuliner ini, ia berpesan kepada masyarakat untuk sama-sama menjaga fasilitas umum yang telah dibangun ini dari tangan nakal dan jahil yang hendak merusak.
"Ini bukan hanya tugas petugas Satpol PP namun tugas kita semua untuk memberikan peringatan kepada tangan jahil tersebut, agar wisata terpadu ini tetap terjaga dan dapat terus kita sama-sama nikmati," ucapnya.
Fahmi berpesan kepada seluruh masyarakat, pengunjung, maupun pengelola agar dapat menjaga kebersihan, jangan sampai tempat ini pengelolaan sampahnya tidak baik, kalau pengelolaan sampah tidak baik tentunya wisata terpadu ini akan terlihat kumuh. (jib/far/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria