Istilah promoter, proactif policing, hingga ngopi bareng, kian populer hingga pelosok Kukar. Di Kecamatan Muara Jawa misalnya, aplikasi dari istilah-istilah itu ternyata cukup sukses membuat Polri semakin akrab dengan masyarakat.
TUGAS Polri tak melulu soal penegakan hukum. Bisa juga beririsan dengan persoalan isu sosial, keamanan, bahkan urusan perekonomian. Semisal mengenai berbagai perbedaan di tengah masyarakat. Jika tak dikelola dengan baik, tentu berpotensi mengancam ketertiban.
Berbagai program dan inovasi Polri inilah yang menjadi bekal petugas seragam cokelat semakin dekat dengan masyarakat. Lalu mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Hampir setahun terakhir, AKP Agus Arif bertugas sebagai kapolsek Muara Jawa.
Ini pertama kalinya dia bertugas di Kukar, setelah sebelumnya sekitar 1,5 bulan ditempatkan di Polda Kaltim. Bahkan sebelum itu, dia tak pernah sama sekali bertugas di Kalimantan. Namun, Kaltim khususnya Kukar, menyiratkan banyak kesan saat dirinya menjalankan tugas.
“Khususnya di Kecamatan Muara Jawa rasanya seperti miniaturnya Indonesia. Berbagai macam suku ada di Muara Jawa. Alhamdulillah juga kondusif dan tidak ada gesekan akibat perbedaan itu,” ujar kapolsek.
Pria kelahiran Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu mengatakan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian kini menggaungkan program promoter yang merupakan kependekan dari profesional, modern, dan tepercaya. Hal itu yang justru memudahkan jajaran kepolisian di daerah menjalankan tugas.
Sehingga semakin dekat dengan masyarakat, termasuk mengikuti teknologi yang ada. Hal tersebut begitu sejalan dengan moto Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto yaitu proactif policing, serta berbagai program Kapolres Kukar AKBP Anwar Haidar. Di antaranya ngopi bareng, polisi sahabat pelajar.
Keberhasilan saat menjalankan program-program itu pun jadi kebanggaan anggota Polri yang bertugas. Sebab semakin bisa dekat dan berbaur dengan masyarakat.
Jadi, Polri bisa lebih dicintai oleh masyarakat. Misalnya setiap Rabu, ada program safari subuh serta Jumat ada program Jumat Berbagi. Dampaknya begitu terasa di tengah masyarakat. “Warga akhirnya tidak segan memberikan informasi kepada kami. Minimal melalui petugas bhabinkamtibmas di desa atau kelurahan masing-masing,” tambahnya.
Berbagai program tersebut membuat dirinya beserta jajarannya bangga dengan inovasi-inovasi tersebut. Bungsu di antara tiga bersaudara ini hingga kini tak melupakan proses dirinya bergabung menjadi anggota Polri.
Ayahnya merupakan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS), yang meninggal saat usianya masih 10 tahun. Itu menjadi cobaan pertama yang harus dia lalui.
Padahal cita-citanya menjadi polisi tertanam sejak duduk di taman kanak-kanak (TK). Agus pun sempat satu kali gagal saat mengikuti seleksi masuk akpol. Dia memilh lebih dulu kuliah dengan jurusan Ilmu Hukum. Setelah merasa matang, dia kembali mengikuti seleksi masuk pada 2006 dan akhirnya lolos.
Sejak kecil dia sudah merasa bangga dengan Polri. Terkadang bahkan harus mengenyampingkan kepentingan keluarga demi tugas. “Misalnya saja saat Lebaran kita masih bertugas. Namun, itulah yang justru menjadi kebanggaan kami,” ujar Agus lagi.(***/kri/k16)
Editor : wahyu-Wahyu KP