BALIKPAPAN-Sejumlah sumber menyebutkan, sejarah hari Valentine berasal dari pastor bernama Valentinus, yang melaksanakan tugasnya untuk menikahkan pasangan yang saling mencintai. Sampai suatu ketika tindakannya tersebut bertentangan dengan Kaisar Claudius. Singkat cerita, sang pastor ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Kematiannya pun sangat menyedihkan, karena si pastor akhirnya dihukum penggal kepala. Kejadian itu meninggalkan kesedihan hingga ke pelosok negeri.
“Kemudian dasar itulah dijadikan Valentine atau Hari Kasih Sayang. Namun, dalam arti sesungguhnya, boleh dikatakan memperhatikan hubungan relasi antar anak muda dengan baik,” papar Pastor Gereja Katolik Santa Theresia Balikpapan, Frans MSF, Senin (11/2) lalu.
Dirinya menerangkan, relasi yang dimaksud dengan menjaga hubungan baik dan saling mengenal dan berkumpul satu sama lain antar remaja, berbagi pengalaman, dan sebagainya. Bahkan dalam hari Valentine tersebut, di Gereja Katolik Santa Theresia mengadakan indah bersama, dilanjutkan dengan memberikan masukan yang positif kepada para remaja yang dipusatkan di aula.
“Kalau kebiasaan kami dalam beberapa tahun belakangan ini mengadakan (Valentine, Red) dengan ibadah bersama dulu. Selepas ibadah di gereja, dilanjutkan dengan memberi masukan-masukan kepada para remaja. Jadi kami sampaikan dan berikan masukan, bagaimana relasi antar anak muda dijaga sebaik-baiknya, saling mengenal karakter, pribadi orang,” papar Frans.
“Kami memberikan nasihat, kalau nanti ingin memiliki jodoh, pilihlah yang sesuai, bukan instan. Sehingga mengetahui betul-betul jodohnya,” terangnya.
Lebih lanjut dia memaparkan, semua kembali kepada para remaja, mau mengadakan atau tidak. Mengingat sejatinya momentum tersebut dijadikan untuk mengungkapkan kegembiraan, saling mengenal, menari, dan bersuka ria bersama. Dia menerangkan bahwa relasi tersebut merupakan suatu nan indah.
“Banyak orang yang mengatakan (valentine, Red) seperti itu arahnya negatif, misal dengan melakukan seks bebas. Hal itu justru berbanding terbalik, jelas kami tolak dan tidak bisa. Jangan sampai terjadi seperti itu, karena sejatinya untuk ke arah yang lebih bagus,” tuturnya.
Secara terpisah, Pimpinan Pondok Pesantren Al Izzah di Km 15, KH Muhammad Muhlasin menuturkan, Valentine tidak dikenal dari sisi adat, tradisi, dan bukan berasal dari Islam. Oleh karena itu, pada umumnya dan khususnya para remaja muslim, sebaiknya tidak ikut euforia memeriahkan Valentine. Terlebih jika memperingatinya dengan cara melanggar norma-norma agama Islam, seperti seks bebas dan perbuatan lain yang menjerumus dalam hal-hal yang sifatnya maksiat.
“Pengertian kasih sayang di dalam Islam itu tidak kenal ruang, waktu, tempat. Kapanpun untuk senantiasa menebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama, tak dibatasi oleh usia. Tetapi, konteksnya kasih sayang sesuai dengan aturan-aturan dan ajaran Islam. Menyayangi dalam artian tidak mencaci maki, provokasi, bagaimana menebarkan rasa aman dan damai. Ini diajarkan dalam agama Islam,” terang pria yang juga ketua PC NU Kota Balikpapan.
Bagaimana dengan pasangan belum menikah yang merayakan Valentine dengan melakukan hubungan terlarang? Ditanya begitu, Muhlasin menegaskan, hal itu jelas dilarang dan diharamkan agama. Dirinya meyakini negara juga melarang hal tersebut, khususnya seks bebas. Kemudian larangan untuk memperingati hari Valentine, khususnya umat muslim. Salah satunya dalam HR Abu Daud dan Ahmad mengartikan, barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka.
“Artinya, kalau Valentine bukan dari tradisi ataupun ajaran Islam, kemudian umat Islam merayakannya, maka orang itu bagian atau kelompok tersebut,” pungkas dia. (wal/yud/k1)
Editor : adminbp-Admin Balpos