PEMKOT meyakini Samarinda sepatutnya berada di jajaran papan atas kota nyaman huni. Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda Sugeng Chairuddin dalam konfirmasi sebelumnya menyebutkan beberapa indikator untuk mengukuhkan pernyataan itu.
Di antaranya, dia menyebutkan indeks pertumbuhan manusia (IPM) yang baik-baik saja. Perkembangan penduduk pun begitu signifikan dan terkendali. Dia pun mengklaim kondisi perekonomian Samarinda dalam taraf normal. “Tidak ada gejolak apapun. Masak kota kondusif tidak nyaman huni?” ujar dia saat diwawancara, Selasa (19/2).
Kaltim Post pun menelusuri kebenaran klaim tersebut. Yakni, dengan meminjam data Badan Pusat Statistik (BPS) Samarinda. Data yang digunakan adalah edisi 2017. Itu mengacu keterangan Ketua Bidang Riset, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi IAP Kaltim, Dana Adikusuma, yang mengatakan survei IAP digelar pada 2017.
Hasilnya, pada 2017, IPM Samarinda pada skor 79,64 persen. Angka tersebut tergolong sangat baik. Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik (IPDS) BPS Samarinda Imbran. “Itu meningkat dari tahun sebelumnya (2016). Kecuali terjadi penurunan atau pertumbuhannya lambat. Sekarang sudah lebih baik, mendekati 80 persen,” tegas dia.
Dia menjelaskan, IPM dihitung berdasarkan tingkat pendidikan penduduk. Angka penduduk putus sekolah akan memengaruhi. “Itu dasar penghitungannya. Bahkan, berdasarkan survei setiap tahunnya,” jelas dia.
Adapun dari sektor ekonomi, masih data 2017, angka pertumbuhan mencapai 3,62. Separuh lebih sedikit dari target nasional yang 6 persen. Meski begitu, menurut Imbran, angka tersebut tergolong normal. Selama tidak minus. “Dihitung setiap tahun berdasarkan data PDRB (produk domestik regional bruto) di setiap sektor,” terang dia.
Kemudian, pertumbuhan penduduk, setiap tahun alami kenaikan. Kini persentasenya mencapai 0,018 persen. Indikatornya kelahiran, pendatang, dan migrasi. Apabila pertumbuhannya negatif, biasanya karena ada pekerja yang di-PHK dan akhirnya pulang kampung. “Bisa seperti itu. Yang jelas, pertumbuhan penduduk di Samarinda alami peningkatan. Tidak ada permasalahan. Tidak ada hal negatif,” katanya.
Pertumbuhan penduduk pun dilihat dari survei penduduk antar-sensus (supas). Data 10 tahun terakhir menjadi dasar perhitungan dasawarsa berikutnya. “Makanya 2020 ada sensus lagi,” aku dia.
Hasil sensus merupakan data lengkap, disurvei pada setiap pintu. Ini menjadi dasar pihaknya untuk menghitung pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun. Semisal, data 2000 untuk mendata 2001. “Tapi, setiap lima tahun dilakukan supas. Supaya perkembangan penduduk terlihat. Cuma, berdasarkan proyeksi penduduk, jumlah penduduk cenderung alami peningkatan,” pungkasnya. (*/dq/ndy/k8)
Editor : octa-Octa