Bambang Iswanto
Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda
ADAKAH manusia yang tidak manusia? Hingga perlu “dimanusiakan” dulu agar menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah ya. Kadang manusia bisa menjadi seperti malaikat. Dan pada saat yang lain menjadi seperti binatang bahkan lebih sesat.
Kemanusiaan merupakan bawaan yang telah ada ketika manusia diciptakan atau dilahirkan. Kemanusiaan telah melekat pada setiap manusia sebagai sifat hakiki yang sudah tertanam dalam sanubari manusia tanpa harus dibentuk. Sifat bawaan manusia yang fitrah dapat dimaknai sebagai watak asli manusia yang suci dan cenderung menerima kebenaran. Manusia ketika lahir memiliki bawaan suci dan tanpa dosa (fitrah).
Selain memiliki sifat bawaan yang bersih dan suci, manusia dibekali Tuhan dengan nafsu dan akal. Dibekali pula dengan potensi berbuat baik dan buruk. Dalam perjalanan hidupnya, manusia bisa menggunakan bekal bawaannya.
Jika tuntunan akal dan potensi berbuat baik yang dijadikan dasar dalam menjalankan suatu perbuatan. Maka dia tetap berada pada jalur kemanusiaannya atau bahkan bisa menjalankan sifat-sifat malaikat yang tunduk dan patuh kepada Tuhan. Sebaliknya, jika nafsu negatif dan potensi kecenderungan berbuat buruk yang muncul dan mewarnai perbuatannya, dia keluar dari sisi kemanusiaannya dan menjadi seperti binatang.
Inilah yang digambarkan di dalam Al-Qur’an Surah Al-A'raf, Ayat 179. Manusia yang meninggalkan sisi kemanusiaannya dan berubah menjadi binatang ternak bahkan lebih sesat dari mereka. Manusia seperti binatang itu menjadi penduduk neraka pada hari kiamat nanti.
Lebih lanjut, ayat tersebut memberi penjelasan siapa saja manusia yang pada wujudnya manusia, tetapi hakikatnya seperti binatang. Pertama, orang yang memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Manusia sudah diberikan karunia luar biasa berupa akal yang menjadi pembeda dengan makhluk lainnya. Tetapi akal yang diberikan tidak dipakai untuk berpikir dan memahami hakikat dan tujuannya diciptakan sebagai manusia.
Dengan akalnya, justru lupa kedudukannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Hati dan akalnya tidak dipakai untuk merenung, berpikir, dan mengerti bahwa manusia adalah abdi yang menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya. Hawa nafsu mengalahkan akal dan hati yang menyeretnya ke neraka.
Kedua, manusia yang diberikan karunia mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat hal-hal yang mendekatkan dan mengagungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Tetap digunakan melihat hal-hal yang menjauhkan dari Tuhan.
Ketiga, manusia yang diberikan telinga namun tidak digunakan untuk mendengar yang seharusnya menjadikannya lebih mengabdi kepada Tuhan. Malah menjadikannya mengabdi kepada setan.
Dengan kata lain, seharusnya manusia menjadi makhluk paling dekat dengan penciptanya dengan segala karunia hati dan indra. Namun, indra yang dimiliki tidak digunakan sebagaimana yang dituntunkan oleh agama.
Pada ayat yang lain, manusia-manusia seperti itu disebut sebagai manusia-manusia cacat. Mereka disebut sebagai manusia yang tuli, bisu, dan buta. Bukan dalam pengertian secara harfiah, tetapi tuna-moral dan agama. Mereka sengaja tidak menjadikan telinga, mata, dan mulut mereka untuk memahami ketentuan-ketentuan agama. Sengaja lalai dan mengabaikan agama.
Manusia seperti itu pantas disebut seperti binatang ternak. Saat penggembalanya menyerukan sesuatu, binatang ternak tidak mendengar selain suaranya sendiri, tanpa memahami apa yang diserukan penggembalanya.
Meski sering tidak menuruti penggembalanya, suatu waktu binatang ternak masih menuruti seruan penggembalanya. Berbeda dengan manusia-manusia kriteria di atas, mereka sama sekali mengabaikan seruan tuannya dan penciptanya. Kondisi semacam itu digambarkan lebih sesat dari binatang ternak.
Lebih mendalam, terkait dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia, Imam Al-Ghazali telah membagi sifat manusia menjadi empat bagian. Sifat ketuhanan (rububiyyah), sifat kesetanan (syaithaniyyah), sifat kebinatangan (bahamiyyah), dan sifat kebuasan (sabu'iyah).
Manusia bisa lepas dari kemanusiaannya ketika dia melakukan kecenderungan keempat sifat lain di atas. Manusia bisa menjadi kepada fitrah manusianya bahkan melampaui sifat kemanusiaannya ketika memaksimalkan potensi sifat rububiyyah-nya. Selain sifat rububiyah, potensi sifat lain jika dilakoni manusia akan menjadikan manusia bukan saja seperti binatang, bahkan bisa menjadi seperti setan.
Dengan potensi sifat bahamiyyah yang dimunculkan dalam perbuatannya, manusia bisa menjadi rakus, serakah, tamak, dan sifat-sifat negatif binatang lain. Mungkin sifat inilah yang merasuki para kriminal koruptor ketika tega merampas uang rakyat dan negara.
Saat tindakan korupsi dilakukan, dia sudah berubah menjadi “binatang”. Di sisi lain, ketika potensi sabu'iyyah yang mendominasi dalam jiwa dan dimunculkan dalam perbuatan, manusia bisa menjadi makhluk buas yang tega berbuat keji, kejam, dan brutal.
Bisa jadi inilah sifat yang merasuki para pelanggar hak asasi manusia (HAM) yang tega memukul, menyakiti, dan mencederai. Bahkan, membunuh makhluk lain tanpa alasan yang dibenarkan. Wujud pelaku kejahatan korupsi dan pelanggar HAM memang masih memiliki wujud manusia. Namun tanpa disadari, sebenarnya dia telah kehilangan kemanusiaan dalam dirinya dan menjadi “bukan manusia” lagi. Naudzubillah min dzalik. (rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria